
Kyla tersentak. Ia bersusah payah menelan salivanya. Jadi, pria di depannya ini adalah orang yang dimaksud ibunya. Varo, yang disebut-sebut sebagai jodohnya kelak, ternyata adalah Caesar. Caesar Alvaro!
Sialan! Kyla kini hanya bisa menggeram. Mengcengkeram ujung bajunya dengan sangat kuat, guna melampiaskan emosinya yang sudah di ujung tanduk.
Caesar yang kasar, mesum, dan menyebalkan ini akan menjadi suaminya? Ah, yang benar saja! Bisa-bisa Kyla jadi gila saat satu hari menikah dengannya.
"Kyla? Bagaimana? Kamu mendengar yang saya ucapkan, 'kan?" ulang Leo.
Gadis itu mengangguk pasrah. Matanya beralih ke Caesar yang tengah mencari harta karun di lubang hidungnya. Jorok sekali. Ternyata, tak hanya mesum dan kasar, tapi Caesar juga orang yang jorok.
"Nah, syukurlah. Kamu sudah mengenal Caesar sebelumnya, 'kan?"
Bola mata Kyla memutar, hampir terlihat oleh Leo.
"Belum, Yah. Aneh sekali, kan?" potong Caesar cepat.
Leo agak kaget mendengar itu. Karena seingatnya, Caesar adalah orang terpandang di kampus. Semua warga kampus tahu dan kenal dengan anak pewaris keluarga Leogarda ini.
__ADS_1
Lucu saja, kalau dipikir-pikir benar juga. Gadis berpenampilan lugu semacam Kyla mungkin tidak terlalu banyak bergaul. Makanya, ia tidak tahu orang sepopuler Caesar. Leo mengangguk, memahami dugaannya. Menggemaskan sekali putri keluarga Andrean ini, pikirnya.
"Haha, tidak apa-apa. Nanti lambat laun juga akan kenal."
"Iya, Ayah. Biar Varo yang mengajaknya mengenal keluarga kita."
Kyla meringis melihat Caesar yang kini berusaha menggoda dengan memainkan alis. Napas berat Kyla keluarkan. Jengah, malas, dan muak dengan adanya Caesar di sini.
"Kyla, saya tinggal kamu dengan Varo, ya. Semoga kalian bisa akrab. Nanti malam jangan lupa datang. Kami mengundang keluarga Andrean makan malam di sini."
Dengan senyum yang terpaksa, Kyla pun mengangguk. Lagi-lagi, ia seperti jatuh tertimpa tangga. Makan malam? Ck, berada di sini bersama Caesar saja sudah membuat perutnya mual. Selera makannya nanti bisa-bisa hilang.
"Haha. Dasar, anak muda," ucap Leo seraya mengacak tatanan rambut Caesar.
"Ayah, jangan diacak-acak. Nanti tampannya hilang," protes Caesar seraya mengerucutkan bibirnya.
"Iya. Kamu ini. Sudah jelas kalau Ayah lebih tampan dari kamu."
__ADS_1
"Enggak, Ayah. Varo yang lebih tampan!"
"Ayah yang lebih tampan!"
"Varo, Ayah. Lihat saja, banyak gadis yang mengantre agar diterima menjadi menantu keluarga ini, kan?"
"Ya, itu semua karena mereka ingin punya calon ayah mertua yang setampan Ayah, Varo," sanggah Leo asal.
"Ayah ini ada-ada saja. Mana mungkin orang mau menikah karena melihat ketampanan calon mertuanya dulu."
"Memang begitu. Realitanya, Ayah lebih tampan daripada kamu, Varo."
"Ayah itu tampan pada zamannya. Sekarang giliran Varo yang tampan. Lebih dari ayah pula."
"Ah, kamu mengejek Ayah, ya? Mentang-mentang Ayah sudah tua, kamu jadi sok tampan begitu," balas Leo tak mau kalah.
Kyla yang sejak tadi menonton drama anak dan bapak di depannya ini pun mengeluarkan sedikit tawa. Tanpa sadar, suara tawa Kyla yang lucu itu terdengar di telinga keduanya.
__ADS_1
"Hmm," Varo berdeham, "ada yang menertawakan kita, Yah."
"Wah, iya. Ayah tahu, yang tertawa itu calon menantu idaman Ayah, lho," celetuk Leo sambil terkikik, membuat Kyla meringis jijik.