Dokter Cantik Milik Tuan Muda

Dokter Cantik Milik Tuan Muda
10


__ADS_3

Kirana membuka tutup botol alkohol dan langsung meneguknya, gadis itu menyender ke tembok pembatas rooftop untuk melihat pemandangan kota hari itu.


Kirana menutup matanya merasakan angin yang menembus kulitnya. entah apa yang harus ia lakukan sekarang.


Saat melihat kearah bawah, Kirana bisa melihat beberapa wartawan disana, gadis itu kembali meneguk alkoholnya dengan cepat.


"Sangat manis." gumamnya sambil menyeka air mata yang jatuh ke pipinya.


Disisi lain Rezvan terpaku setelah melihat berita yang disebarkan oleh akun media sosial yang tidak di kenal.


Suara ketukan pintu membuat lamunannya pecah, Rezvan langsung mengalihkan perhatiannya kearah pintu masuk.


"Masuk."


Pintu terbuka dan memperlihatkan seorang wanita yang bekerja sebagai sekretaris Rezvan masuk kedalam ruang kerjanya.


"Selamat malam tuan, ada seorang wanita yang menunggu anda di lobby perusahan." kata Clarista


"Siapa?"


"Namanya Rindu tuan."


"Suruh dia masuk ke dalam ruanganku." titah Rezvan sambil menyimpan kembali ponselnya di tempat semula.


"Baik tuan."


Clarista pergi dari ruangan atasannya, setelah kepergiannya tiba-tiba saja ponsel Rezvan berdering.

__ADS_1


Laki-laki itu menghelakan nafasnya setelah melihat siapa yang telah menelponnya.


Rezvan dengan rasa malasnya mengangkat panggilan masuk itu, saat terhubung laki-laki itu bisa mendengar jelas suara papahnya.


"Rindu sudah datang ke perusahaanmu, lakukan apa yang papah katakan. perlakukanlah dia dengan sangat baik."


"Rezvan sudah bilang beberapa kali kalau Rezvan gak mau di jodohin sama dia pah."


"Rezvan, kalau papah gak jodohin kamu, kapan papah bisa melihat kamu menikah?"


"Rezvan masih gamau menikah pah, aku masih mau ngurusin perusahaan"


"Perusahaan itu urusan belakang, papah tutup dulu panggilannya, ingat kata papah perlakukan Rindu dengan baik."


Rezvan sangat kesal sekali kepada papahnya yang selalu menuntutnya untuk segera menikah.


Perempuan yang bernama Rindu itu menghampiri Rezvan, dan duduk di atas meja tepat berhadapan dengan Rezvan.


"Sayang, apakah kamu sibuk hm?" tanyanya sambil mengelus pipi laki-laki yang ada dihadapannya.


Rezvan memundurkan kepalanya agar perempuan yang ada di hadapannya itu tidak menyentuhnya.


"Sibuk."


"Benarkah, aku tanya ke papah tadi katanya kamu tidak sibuk."


Rezvan memejamkan matanya sambil menghelakan nafasnya. "Aku harus pergi ke rumah sakit untuk menjenguk sahabatku disana." katanya dengan nada suara yang malas.

__ADS_1


"Aku ikutt." seru Rindu sambil melingkarkan kedua tangannya di leher Rezvan.


"Tidak, jika kau ikut pasti akan sangat merepotkan."


"Apakah aku harus memanggil papahmu agar aku bisa ikut?" tanya Rindu dengan nada yang manja.


"Baiklah."


Rindu tersenyum mendengar jawaban dari Rezvan dengan segera ia turun dari meja dan bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit.


***


Malamnya Rezvan baru saja membantu sahabatnya untuk menyelesaikan makan malamnya.


Disisi lain Rindu sudah pulang duluan dari satu jam yang lalu karena perempuan itu terus saja meminta Rezvan untuk pulang, dan Rezvan akhirnya terpaksa mengantarkan Rindu pulang dan kembali lagi ke rumah sakit untuk menemani sahabatnya.


"Kenapa kau terlihat khawatir begitu?" tanya Rezvan begitu melihat sahabatnya yang dari tadi melihat ke arah pintu kamar terus menerus.


"Kirana, kenapa dia tidak datang kemari apakah ada masalah?" tanya Danial.


"Kau tidak membaca berita hari ini?" tanya Rezvan dan di balas gelengan kepala oleh Danial.


"Ada apa memangnya, apakah berita itu membahas tentang Kirana?" tanya Danial begitu penasaran.


Rezvan menghelakan nafasnya lalu mengambil ponsel yang ada di saku jas yang ia kenakan sekarang.


"Bacalah ini." titahnya sambil memberikan ponsel miliknya.

__ADS_1


Danial langsung mengambil ponsel milik Rezvan dan membaca berita yang di maksud oleh sahabatnya itu.


__ADS_2