Dokter Cantik Milik Tuan Muda

Dokter Cantik Milik Tuan Muda
15


__ADS_3

Kirana keluar kamar mandi dan langsung menghampiri kantong plastik yang ia simpan tadi di atas kasur.


Wanita itu mengeluarkam semua isi yang ada di kantong plastik itu.


"Kenapa dia membeli banyak sekali pembalut?" gumam Kirana sambil menahan tawa.


"Dia tipe cowok yang perhatian, walaupun sedikit cuek."


Rezvan juga membeli beberapa ****** ***** wanita, membuat Kirana merasa malu.


"Tapi apakah benar wanita tadi adalah tunangannya?"


"Tapi dilihat-lihat, sepertinya mereka berdua tidak akur."


Kirana menggelengkan kepalanya. "Aku tidak peduli, aku tidak ingin ikut campur dalam urusannya." katanya.


Suara ketukan pintu membuat perhatian Kirana teralihkan, gadis itu langsung terburu-buru membereskan kembali barang-barang yang sempat tadi ia berantakan.


Setelah memasukannya ke dalam kantong plastik lagi, Kirana langsung membuka pintu dan mendapati Rezvan ada di depan kamar.


"Kau sudah selesai?" tanya Rezvan sedikit gugup.


"Sudah."


Rezvan menarik tangan Kirana membuat gadis itu terkejut dan langsung melepaskannya.


"Lebih baik kita jaga jarak saja, aku tidak ingin tuanganmu itu salah paham."


"Tuanganku?"


"Iya, aku juga sudah mempunyai kekasih, jadi aku harap kau mengerti" ucapnya lalu pergi meninggalkan Rezvan.

__ADS_1


Sedangkan Rezvan mengerutkan keningnya, merasa kebingungan. "Apa salahku? aku hanya ingin mengajaknya makan malam."


Di tempat lain kini Reygan dan juga teman-temannya sudah berada di kamar Danial.


Reygan menatap tajam laki-laki yang saat itu sedang duduk di ranjangnya sambil memainkan ponsel.


"Dimana kakakku?" tanya Reygan.


"Aku sudah menelpon Rezvan tetapi tidak diangkat olehnya."


"Lebih baik kau pulang dulu saja, nanti akan aku kabari lagi."


"Aku tidak akan pulang sebelum bertemu dengan kakakku."


"Astaga anak ini." Danial tersenyum sambil menarik nafas panjang.


"Reygan, apa yang dikatakannya memang benar. tadi saat kakakmu disini dia benar-benar sangat kacau."


"Benar, Rezvan juga pernah membantu kakakmu saat mereka masih kecil." lanjut Danial


"Aku akan pergi ke rumah Rezvan saat aku selesai bertugas." kata Meishana.


"Kak Meishana, kabari aku jika sudah bertemu dengan kakakku."


"Iya, aku akan menelponmu."


Reygan dan keempat sahabatnya itu pun pergi dari kamar Danial, sedangkan Meishana menghembuskan nafasnya merasa lega.


"Aku ingin meminta alamat temanmu, apakah bisa?" tanya Meishana.


"Kemarikan ponselmu." pinta Danial

__ADS_1


Meishana pun mengambil ponsel yang ada di saku jas nya lalu memberikannya kepada Danial, beberapa menit kemudian laki-laki itu memberikannya kembali kepada Meishana.


"Aku sudah menyimpan nomorku di ponselmu, nanti akan aku beri alamat Rezvan."


Meishana menganggukan kepalanya sambil tersenyum samar-samar, setelah itu berpamitan dan langsung pergi keluar.


"Apakah aku bermimpi, aku mendapatkan nomornya.." gumam Meishana sambil memegang dadanya.


Disisi lain Kirana melamun entah memikirkan apa, sedikit-sedikit ia menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


"Kenapa kau tidak memakannya?" tanya Rezvan.


"Aku memakannya."


"Tidak, kau memakannya sedikit."


Kirana menghembuskan nafasnya kasar, ia menaruh sendok dan langsung menatap Rezvan dengan tatapan yang begitu sendu.


"Aku ingin menemui papa dan mamiku." ucap Kirana begitu lirih


"Dan juga kekasihku." lanjut Kirana sedikit gugup.


Rezvan mengangkat kedua alisnya. "Lalu apakah kau ingin aku mengantarkanmu untuk menemui kekasihmu?" tanya Rezvan.


"Ti-tidak, aku hanya memberitahumu saja, tidak berniat menemuinya."


"Jika kekasihmu tahu kalau kau ada di sini, apakah dia akan sangat marah besar?" tanya Rezvan sambil melanjutkan makannya.


"Tentu saja, dia sangat posesif sekali."


Rezvan mengangguk-anggukan kepalanya sambil menahan tawa, entah kenapa ia ingin tertawa.

__ADS_1


__ADS_2