
Kirana menatap kosong cincin yang ada di jari telunjuknya. gadis cantik itu menghela nafas seolah merasa jika ini hanyalah mimpi.
Meishana tiba-tiba saja masuk kedalam ruangan Kirana tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, refleks Kirana menghapus air mata yang dari tadi mengalir di pipinya.
"Kirana, kau menginap disini?" tanya Meishana sambil memperhatikan mata sembab wanita yang ada di hadapannya itu.
"Iya."
"Aku kira kau tidak ada di ruanganmu, aku tadi ingin menyimpan berkas yang diberikan oleh tuan Kandaga."
"Simpan di meja saja."
"Baiklah." ucap Meishana sambil menyimpan dua berkas itu di meja Kirana.
"Kau baik-baik saja?" tanya Meishana.
"He'em."
"Matamu terlihat sembab, apakah kau menangis semalaman?"
"Tidak."
"Astaga, kau ini. baiklah ayo ikut denganku ke lobby rumah sakit."
Kirana menganggukan kepalanya lalu mengambil jas putihnya yang ia simpan secara khusus di dalam lemari yang ada di ruangannya.
Setelah memakainya Kirana pun mengikuti Meishana dari belakang.
Sesampainya di lobby, terlihat beberapa dokter dan juga perawat berkumpul disana, saat kedatangan Meishana dan juga Kirana mereka semua menyapanya.
"Pagi dokter Kirana, dokter Meishana" kata mereka semua.
__ADS_1
Kirana membalasnya dengan sebuah senyuman begitu pun dengan Meishana.
"Dokter, pasien yang kemarin di operasi harus di cek kesehatannya sekarang."
"Aku tidak bisa, aku akan mengantar makanan ke kamar VIP saja." ucap Kirana.
"VIP? pasien yang bernama Danial itu?" tanya seorang perawat.
"Iya, dia sangat tampan bukan?" timpal Meishana sambil tersenyum lebar.
"Memang sangat tampan sekali." imbuh salah satu dokter yang ada disana.
Saat sedang berbincang-bincang, ada seorang laki-laki paruh baya yang datang ke tempat pendaftaran, tempat mereka berkumpul untuk berbincang-bincang.
Laki-laki paruh baya itu menatap Kirana dengan senyuman yang sulit di artikan, membuat Kirana merasa tidak nyaman.
"Selamat lagi tuan, ada yang bisa dibantu?" tanya seorang perawat disana.
"A-aku pergi ke kantin dulu." ucap Kirana dengan terbata-bata.
"Aku ikut." kata Meishana yang merasakan juga keanehan yang ada di laki-laki paruh baya itu.
Sedangkan laki-laki paruh baya yang tidak lain adalah papah Kriss masih memperhatikan kepergian Kirana yang pergi menuju kantin rumah sakit.
Perawat dan dokter yang sedang berkumpul disana saling menatap satu sama lain merasa kebingungan melihat lika liku papah Kriss.
"Tidak jadi, sepertinya aku salah rumah sakit." ucapnya lalu langsung pergi dari rumah sakit tempat Kirana bekerja.
Papah Kriss kembali ke parkiran dan langsung memasuki mobilnya, nafasnya terengah-engah mengingat kembali kejadian beberapa tahun silam.
Flashback on
__ADS_1
"Saya akan membuat anda menyesal karena telah memenjarakan anak saya, Daffa." ucapnya dengan nada yang dingin.
"Apa anda mencoba mengancam saya sekarang?" tanya Jeanno.
"Menurut anda?"
"Saya tidak akan menyesal telah memenjarakan anak anda karena ini memang kesalahannya sendiri."
"Anda pasti tidak tahu tentang berita ini bukan? karena anda saat itu sedang berada diluar kota bersama istri anda untuk melakukan proyek yang sangat besar."
"Dengarlah, anak anda telah menghamili Kala, calon menantu saya." lanjut Jeanno.
"Saya sudah mengetahuinya."
"Lalu untuk apa anda mendatangi saya kesini? hari ini adalah hari yang paling ditunggu-tunggu, pihak berwajib yang akan menangani ini semua dan saya tidak akan meloloskan putra anda."
Dengan menahan amarah papah Kriss berusaha untuk tetap tenang, telapak tangannya mengepal ingin sekali memukul tembok yang ada disampingnya saat ini.
"Baiklah kita lihat saja nanti." ucap papah Kriss.
Tanpa berkata apa-apa lagi, papah Kriss pergi meninggalkan ruangan Jeanno dengan emosi yang masih ia pendam.
Flashback off
"Apa fikir dia sehebat itu?"
"Menyembunyikan fakta jika Kirana adalah anak dari luar nikah."
"Hari ini juga, kirimkan berita ke agensi yang di tempati oleh Kala. aku ingin mengetahui bagaimana reaksi Jeanno jika publik mengetahui cucunya adalah anak dari luar nikah."
"Baik tuan."
__ADS_1