Dokter Cantik Milik Tuan Muda

Dokter Cantik Milik Tuan Muda
25


__ADS_3

Mami Kala keluar dari toilet sambil merapihkan pakaiannya yang sudah terlihat kusut.


Tetapi tiba-tiba saja ada seorang laki-laki yang menarik tangan Mami Kala membuatnya menghentikan langkahnya.


"Siapa kau?" tanya Mami Kala karena laki-laki itu memakai masker dan juga topi sehingga menutupi wajahnya.


Laki-laki itu melihat kearah sekitar memastikan apakah situasinya aman atau tidak, setelah merasa aman ia pun membuka maskernya.


Betapa terkejutnya Mami Kala begitu melihat wajah Daffa yang ada dihadapannya sekarang, Mami Kala pun menatapnya dengan perasaan yang jijik.



"Masih berani kau muncul di hadapanku?" tanya Mami Kala sambil berusaha melepaskan tangannya yang di pegang oleh Daffa dengan sangat erat.


"Aku sangat merindukanmu."


Satu tamparan berhasil mendarat di wajah Daffa, tetapi laki-laki itu malah tersenyum.


"Kau sudah gila? kau tidak ingin aku berteriakkan?"


"Berteriaklah!"


"Berteriak sekencang-kencangnya sehingga semua orang berkumpul disini." lanjut Daffa matanya pun berubah menjadi melotot.


"Kau memang sudah gila."


"Dimana anakku?" tanya Daffa.


Mami Kala tertawa mendengar pertanyaan yang terlontarkan dari mulut laki-laki itu.


"Anakmu? bahkan yang meniduriku saja bukan dirimu."


"Hahaha kau sangat lugu sekali, biar kuceritakan. setelah Arzan bikin lo pingsan dia juga sempet nyicipin tubuh lo lalu setelah itu gue." kata Daffa sambil tertawa.


Tetapi tawanya berhenti saat Daffa tiba-tiba saja jatuh tersungkur karena tendangan Mahen dari belakang.


"Tendangan om sangat payah sekali." seru Chalandra mengejek Mahen.


"Tetapi membuat dia jatuh tersungkur, lihatlah mulutnya berdarah." kata Mahen merasa bangga.


"Chalandra..."

__ADS_1


"Mami, apakah Mami baik-baik saja?" tanya Chalandra.


Mami Kala menganggukan kepalanya walaupun jauh dari itu dia merasa sangat ketakutan.


"Ayo Mami, biarkan om Mahen saja yang mengurusnya." kata Chalandra sambil menarik tangan Maminya itu untuk membawanya pergi dari sana.


"Benar, biarkan om saja yang mengurusnya." kata Mahen sambil melambaikan tangan kepada mereka berdua.


Mami Kala dan juga Chalandra kembali ke kamar rawat inap yang ditempati Jenia, disana ada Naela dan juga Eliaria.


"Apakah kau tidak apa-apa?" tanya Naela menghampiri Mami Kala.


"Aku tidak apa-apa."


"Tapi kenapa kalian bisa tahu jika Daffa mengangguku?" tanya Kala.


"Aku sempat menyusul Mami tadi karena Mami sangat lama sekali pergi ke toiletnya dan saat itu aku melihat Mami diganggu oleh laki-laki tadi maka dari itu aku kembali kesini dan meminta bantuan om Mahen."


"Terima kasih, sayang." ucap Mami Kala sambil mengelus kepala Chalandra dengan begitu lembut.


Gadis itu menganggukan kepalanya lalu mengajak Eliaria keluar dari kamar rawat inap itu.


"Aku tidak habis pikir, Daffa tidak kapok-kapoknya mengganggumu." kata Naela merasa kesal.


"Bisa jadi, karena dulu kita tidak memberitahu publik, siapa lagikan yang mengetahui tentang hal ini selain kita dan juga dia."


"Sudahlah, aku sudah mengubur dalam-dalam kejadian itu yang aku harapkan kali ini hidup dengan tenang dan juga bahagia."


"Baiklah, tapi apakah Kirana baik-baik saja?" tanya Jenia.


"Aku sudah meminta maaf, dia sudah lebih tenang."


"Baguslah jika begitu."


***


Keesokan paginya Kirana dan juga Rezvan sudah berada di perjalanan menuju rumah Nenek Sumi.


Udara pagi di desa saat ini begitu segar, Kirana menyukai susana seperti ini.


"Tutuplah jendelanya, nanti kau akan terserang flu, udara hari ini sangat dingin." kata Rezvan

__ADS_1


"Baiklah."


Untuk beberapa saat tidak ada obrolan yang keluar dari mulut mereka.


"Aku akan berbicara kepada ayahku." kata Rezvan memecahkan keheningan.


"Soal?"


"Hubungan kita."


Kirana melolot dan langsung menatap laki-laki itu dengan begitu terkejut. "H-hubungan apa?"


"Semalam aku mengatakan jika aku menyukaimu, bukankah sekarang kita sudah resmi menjadi sepasang kekasih?" tanya Rezvan.


Kirana terdiam tidak berani mengucapkan sepatah kata. "Kenapa kau diam saja? apakah ada yang salah?" tanya Rezvan.


"Bagaimana aku menjelaskannya." gumam Kirana dalam hati sambil menggigit bibir bawanya.


"Berhentilah menggigit bibirmu itu, nanti akan rusak." kata Rezvan


Kirana lagi-lagi dibikin terdiam, ia tidak tahu harus berbuat apa. "Kenapa kau menyukaiku?" tanya Kirana.


"Aku tidak bisa mengatakannya, tetapi yang jelas aku memang menyukaimu."


"Rezvan, aku juga ingin jujur kepadamu..."


"Tentang apa?"


"Masalah kekasihku itu, semuanya bohong..."


Rezvan dengan santai menatap lembut wanita yang ia suka itu lalu tersenyum.


"Kenapa kau tersenyum?" tanya Kirana.


"Tidak, hanya lucu saja."


"Ish, kau ini!"


"Jadi bagaimana?"


"Coba saja, jika kau memang benar-benar menyukaiku." kata Kirana berusaha untuk tidak tersenyum.

__ADS_1


Rezvan terkekeh mendengar ucapan Kirana, tangannya bergerak mengusap kepala Kirana dengan lembut.


__ADS_2