
Saat tengah malam Kirana terbangun karena merasa lapar, gadis itu keluar dari kamarnya dan pergi menuju kamar mandi untuk merebus telur.
Kirana melihat kearah ruang kerja papah Reja yang saat itu terlihat masih terang.
"Sudah tengah malam, papah masih kerja?" gumam Kirana.
Karena ingin memastikannya Kirana akhirnya berjalan kearah ruang kerja papah Reja.
Sesampainya di sana Kirana menghentikan langkah kakinya saat mendengar percakapan antara papah Reja dan juga mami Kala.
"Sayang, hukuman Daffa sudah selesai."
"Maksudmu dia sudah keluar dari penjara?"
"Setelah Daffa di penjara karena kasus pemerkosaan, hukuman dia semakin di tambahkan karena dia terjelit kasus narkoba."
"Perasaanku tidak enak, bagaimana jika dia memberitahui publik." seru mami Kala merasa cemas.
"Kau tidak perlu khawatir sayang."
"Aku tidak ingin jika Kirana mengetahui bahwa dia adalah anak..."
"Selagi kita tidak memberitahunya itu pasti tidak akan terjadi, aku akan mengirim orang untuk memantau Daffa."
"Aku harus memindahkan Kirana ke luar negri."
"Tidak sayang, tenangkan dirimu dulu. dengarkan aku, itu semua tidak akan terjadi percayalah kepadaku." ucap papah Reja langsung memeluk tubuh istrinya.
__ADS_1
"Aku hanya takut saja jika Kirana mengetahui jika dia bukanlah anak kandungmu, dan kelahiran dia karena sebuah kecelakaan." kata mami Kala
Tubuh Kirana terpaku setelah mendengar perkataan yang keluar dari mulut mami Kala.
Matanya berkaca-kaca, Kirana pun langsung pergi dari ruangan kerja papah Reja.
***
Setelah mengambil barang-barang di kamarnya, Kirana langsung pergi dari rumah kedua orang tuanya.
Setiap di perjalanan pikirannya benar-benar kacau, membuat dirinya tidak fokus menyetir.
"Jadi selama ini aku bukan anak papah Reja."
"Aku anak yang tidak diinginkan..." gumam Kirana sambil terisak.
Gadis itu pergi ke rumah sakit untuk menenangkan dirinya, di lobby rumah sakit dirinya berpas-pasan dengan Rezvan, tetapi Kirana tidak menyadarai keberadaan laki-laki itu.
"Tapi kenapa dia menangis?" gumam Rezvan dalam hati.
Rezvan memperhatikan kepergian Kirana yang berjalan kearah lift, ingin sekali ia mengejarnya tetapi ia takut jika Kirana tidak mengenalinya.
Keesokan harinya Reygan mendatangi kamar adiknya Chalandra, laki-laki itu membangunkan Chalandra.
"Bangun, sekarang sudah jam 8. bukankah kau akan pergi bersama Eliaria?" katanya membuat Chalandra dengan terburu-buru bangun dari tempat tidurnya.
"Benarkah, astaga aku sudah telat." kata Chalandra sambil mengecek jam alarmnya.
__ADS_1
"Cepat mandi, aku akan menyiapkan makanan untukmu."
"Oke."
Chalandra pergi ke kamar mandi yang ada di kamarnya, sedangkan Reygan tersenyum puas setelah mengerjai adiknya.
Beberapa menit setelah bersiap-siap, Chalandra langsung menaiki mobil dan menghidupkan mesin mobilnya.
Saat baru saja keluar dari pintu gerbang, Chalandra kebingungan karena hari itu masih gelap.
"Kenapa sepi sekali, bukankah ini sudah jam 8 pagi." gumam Chalandra melihat kesekitar.
"Neng kenapa udah siap-siap pergi aja?" tanya pak Ujang selaku satpam di rumah mami Kala dan juga papah Reja.
"Saya mau pergi jalan-jalan sama Eli pak, tapi kok masih sepi ya? bukannya udah jam 8." jawab Chalandra.
"Astaga neng, ini mah masih jam 5." seru pak Ujang menahan tawa.
"Hah, jam 5?"
"Iya non."
"Sialan, aku dikerjain lagi sama kak Reygan." gumam Chalandra dalam hati, tangannya memegang stir mobil dengan kuat.
"Ah, baik pak. terima kasih"
"Yaudah neng biar saya aja yang masukin lagi mobilnya ke garasi."
__ADS_1
"Oke pak, saya mau balik ke dalam rumah dulu ya." kata Chalandra turun dari mobil kesayangannya.
"Sialan, awas saja kak!" gumam Chalandra dengan sangat geram.