Dokter Cantik Milik Tuan Muda

Dokter Cantik Milik Tuan Muda
21


__ADS_3

Kirana kembali pulang ke Apartemen yang dulu di tempati oleh Mami Kala tapi sekarang Apartemen itu sudah diberikan oleh Mami Kala untuknya.


Kirana mengambil minuman kaleng di kulkas setelah itu kembali ke ruang tamu untuk menyelesaikan pekerjaannya.


Hari ini jam sudah menunjukan pukul 23.00 baginya sudah terbiasa tidur diatas jam dua belas malam.


Saat sedang fokus menatap layar laptop, terdengar suara bel yang mengharuskan Kirana menghentikan pekerjaannya sebentar.


"Jam segini siapa yang datang bertamu, apakah Januartha?" gumam Kirana sambil berjalan kearah pintu utama.


Pikirnya itu memang Januartha karena biasanya laki-laki itu menginap di Apartemen milik ayahnya yaitu Kenzi.


Setelah membuka pintu Kirana terkejut karena yang ia lihat bukanlah Januartha melainkan Danial yang sedang memapah Rezvan yang sedang mabuk.


"Danial? kenapa dengan Rezvan?" tanya Kirana panik sambil membuka lebar-lebar pintu utama.


Danial tersenyum. "Dia tadi minum bersamaku tetapi sepertinya dia kebanyakan minum, maka dari itu aku membawanya kesini." kata Danial menjelaskan.


"Kenapa kau membawanya kesini?" tanya Kirana.


Danial menghentikan langkahnya dan langsung menatap Kirana dengan kebingungan.


"Aku kira kau dan Rezvan sudah berpacaran, maka dari itu aku membawanya kesini." kata Danial


"Hah, be-berpacaran?" tanya Kirana dengan terbata-bata.


"Dia sangat berat sekali, aku harus menidurkannya dimana?" tanya Danial.


"Ah itu, tidurkanlah di kamarku."

__ADS_1


Kirana langsung menunjukan arah kamarnya diikuti oleh Danial dsri belakang sambil memapah Rezvan.


Setelah masuk ke dalam kamar Kirana, Danial langsung menidurkan Rezvan di atas kasur.


"Dia sangat berat sekali." kata Danial sambil memijit pundaknya yang terasa pegal.


"Kenapa dia bisa mabuk separah ini?" tanya Kirana seraya menatap Rezvan yang saat ktu sudah tertidur lelap.


"Aku juga tidak tahu, tapi saat dia mabuk selalu saja memangil namamu." kata Danial


"Ahh begitu."


"Iya, jika begitu aku harus kembali pulang."


"Baiklah, hati-hati." kata Kirana sambil mengantarkan Danial ke depan pintu.


"Dia memanggil namaku saat mabuk, tapi dia sendiri sudah mempunyai tunangan." gumam Kirana sambil memasang wajah cemberutnya.


"Aku membiarkanmu menginap disini karena aku berhutang kepadamu." kata Kirana.


Kirana hendak beranjak berdiri tetapi tiba-tiba saja tangan Rezvan menarik tangan Kirana membuat dirinya kembali duduk.


"Jangan tinggalkan aku..." kata Rezvan


Jantung Kirana tiba-tiba berdetak dengan kencang, ia melihat Rezvan yang saat itu mengubah posisinya menjadi duduk.


Alhasil jarak antara Kirana dan juga Rezvan sangatlah dekat, hanya beberapa centi meter saja.


"Apakah kau benar sudah memiliki kekasih?" tanya Rezvan dengan suara yang pelan.

__ADS_1


Kirana melihat kedua bola mata Rezvan. "I-iyaa."


"Aku menyukaimu." kata Rezvan membuat jantung Kirana semakin berdetak kencang.


"Yang aku pikirkan selama ini hanyalah dirimu."


Rezvan menurunkan pandangannya, melihat kearah bibir Kirana yang terlihat basah.


"Bibirmu cantik."


Kirana langsung memalingkan wajah saat mendengar perkataan Rezvan tadi.


Laki-laki itu dengan perlahan memajukan wajahnya hendak mencium bibir Kirana.


"Aku sudah memiliki kekasih." kata Kirana.


Terdengar suara helaan nafas Rezvan, tangan laki-laki itu bergerak mengelus-elus pipi Kirana dengan lembut.


"Aku tahu."


"Jika Arthur tahu dia pasti akan menghajarmu." kata Kirana sambil menyingkirkan tangan Rezvan yang saat itu sedang mengelus pipinya.


"Aku Rela."


Kirana terdiam, dengan cepat Rezvan langsung mencium bibir Kirana membuat wanita itu terkejut.


Dengan perlahan ia mengganti posisi dengan Kirana dan saat ini wanita itu berbaring di kasur sedangkan Rezvan ada di atasnya.


Bodohnya Kirana, ia tidak bisa untuk melawan Rezvan, seolah-olah ciuman itu membuatnya lemah.

__ADS_1


__ADS_2