Dokter Cantik Milik Tuan Muda

Dokter Cantik Milik Tuan Muda
09


__ADS_3

"Dimana sahabatmu?" tanya Kirana mengalihkan topik.


"Rezvan?"


"Mungkin."


"Apakah dia orang yang menolongmu saat kecil?" tanya Danial.


"Entahlah, namanya sangat mirip sekali tapi aku tidak yakin jika itu adalah laki-laki yang pernah menolongku atau bukan."


"Rezvan juga mengatakan seperti itu kepadaku."


"Benarkah?"


Danial menganggukan kepalanya. "Lebih baik kau bertemu dengannya, sepertinya wanita yang dia cari selama ini memang dirimu."


"Maksudmu?"


"Aku dan Rezvan dekat saat kami masih kuliah, kemarin malam dia menceritakan seorang wanita yang pernah ia temui di hutan. Dia juga meminta bantuanku untuk menemukan wanita itu."


Kirana terdiam mendengarkan cerita Danial tentang sahabatnya Rezvan. "Dia memang laki-laki yang selama ini aku harapkan kehadirannya."


"Tapi aku malu untuk bertemu dengannya." gumam Kirana dalam hati.


Setelah lama berbincang-bincang, Kirana mengantarkan Danial ke kamarnya. setelah itu ia harus melakukan operasi terhadap pasien yang baru saja mengalami kecelakaan.


***


Suara ketukan membuat perhatian Raksa teralihkan, terlihat pintu terbuka dan memperlihatkan seorang laki-laki paruh baya yang tidak lain adalah Bima masuk ke dalam ruangan Raksa.


"Ada apa pah?" tanya Raksa.


"Kau menerima surel berita?"


Raksa menggelengkan kepalanya kebingungan. "Ada apa dengan surel berita yang papah maksud?" tanyanya.

__ADS_1


"Ini gawat sekali, ini tentang Kala dan juga Kirana."


"Pah, jelaskan ke Raksa ada apa?"


"Media sosial membicarakan Kala dan juga Kirana, kejadian beberapa tahun silam sudah terbongkar oleh media." kata Bima dengan sangat panik.


Raksa langsung mengambil ponselnya dan melihat berita yang dimaksud oleh papahnya, berita itu dikirim 50 menit yang lalu, dan sekarang sudah menjadi trending ke 1.


Memang benar, salah satu akun yang tidak dikenal menyebarkan berita jika Kirana bukanlah anak kandung Reja, dan Kala adalah wanita ****** yang tidur semalaman dengan seorang pria sehingga dirinya mengandung seorang anak.


Raksa mengepalkan tangannya setelah membaca setiap kata-kata yang tersusun rapih di layar ponselnya itu.


"Di depan lobby ada beberapa wartawan yang sedang menunggu kedatangan Kala, untung saja dia belum datang kesini, aku sudah menyuruhnya untuk tidak datang ke agensi juga."


"Papah sudah menyuruh orang untuk meretas akun ini?"


"Sudah, kita harus menunggu beberapa jam."


"Aku akan pergi ke rumah Kala."


Raksa menganggukan kepalanya dan langsung mengambil kunci mobilnya, entah siapa yang telah menyebarkan berita itu ke media sosial.


Walaupun memang benar tapi Raksa tidak terima dengan kata-kata jika Kala adalah seorang ******, itu sama sekali tidak benar, pikirnya.


Di tempat lain papah Kriss tersenyum melihat berita itu. Ia mengambil secangkir gelas yang berisi minuman keras lalu dengan segera meneguknya.


"Saya sudah memberikan surel berita itu ke agensi yang di tempati oleh Kala tetapi di tolak secara mentah-mentah."


"Tidak apa-apa, kerjamu sudah bagus" ucap papah Kriss.


"Sudah aku bilang jangan pernah bermain-main denganku, inilah akibatnya." gumam papah Kriss sambil menggenggam erat gelas yang ada di tangannya.


Kirana keluar dari ruang operasi, ia melepaskan masker dan sarung tangan yang ia pakai untuk operasi tadi.


Sebelum itu Kirana mencuci tangan terlebih dahulu setelah selesai ia pun pergi kearah lobby.

__ADS_1


Di lobby banyak sekali dokter dan juga perawat yang sedang berkumpul sambil memperlihatkan ponsel mereka.


"Ada apa mereka semua berkumpul?" gumam Kirana kebingungan.


Meishana yang melihat kedatangannya pun langsung menghampirinya dan menyeretnya kearah lift.


Kirana semakin kebingungan melihat tingkah laku sahabatnya itu. "Ada apa?" tanyanya.


"Lihatlah ini." kata Meishana sambil memberikan ponselnya.


Kirana pun mengambil ponsel Meishana dan membaca berita yang di tunjukan oleh sahabatnya itu.


"Aku sangat marah sekali."


"Siapa yang telah menyebarkan berita itu? sangat tidak sopan!" gerutu Meishana.


Saat sampai rooftop rumah sakit, Kirana dan juga Meishana keluar dari lift.


"Sekarang semua dokter dan perawat yang ada di rumah sakit, pada membicarakanmu." kata Meishana


Kirana mengembalikan ponsel milik Meishana, gadis itu terlihat biasa saja setelah membaca berita tersebut.


"Kau baik-baik saja bukan?"


"Aku hanya terkejut saja, kau kembalilah bekerja. aku ingin menenangkan pikiranku di sini." ucap Kirana.


"Baiklah jika begitu, kalau ada apa-apa segera hubungi aku."


Kirana menganggukan kepalanya. "Aku ingin ini. besok aku akan menggantikannya." ucap Kirana sambil mengambil alih alkohol yang dari tadi di pegang oleh Meishana.


"Tapi..."


"Sudahlah, dari kemarin malam pikiranku sangat kacau sekali. dan aku butuh alkohol."


"Baiklah."

__ADS_1


Meishana pun meninggalkan Kirana di rooftop rumah sakit sendirian.


__ADS_2