
Rezvan mematung di depan supermarket, ia kebingungan karena tidak menanyakan jenis pembalut apa yang biasa Kirana pakai.
"Tidak apa-apa, tidak akan ada yang mengenalimu." gumam Rezvan sambil menghembuskan nafasnya lalu berjalan memasuki supermarket.
"Selamat datang." ucap wanita yang merupakan seorang kasir di supermarket itu.
Rezvan mengambil keranjang lalu mulai mencari barang yang ia butuhkan.
Saat sudah menemukannya Rezvan kebingungan karena melihat banyak sekali jenis pembalut disana.
"Kenapa banyak sekali jenis pembalut disini, aku tidak tahu harus membeli yang mana." gumam Rezvan sambil memijat keningnya.
Rezvan ingin sekali menelpon Kirana tetapi sayangnya ia tidak memiliki nomor gadis itu.
Dengan perasaan yang bercampur aduk Rezvan mengambil semua jenis pembalut yang berjejeran di rak supermarket itu.
Orang-orang yang melewatinya menahan tawa. Rezvan yang menyadarinya berusaha untuk tenang.
Saat setelah mengambil semua jenis pembalut yang ada disana, Rezvan pun buru-buru ke kasir untuk membayarnya.
Beberapa wanita yang ada disana terkejut melihat ketampanan Rezvan, apalagi saat melihatnya membawa pembalut yang begitu banyak.
"Pacar orang lain memang benar-benar..."
"Tampan sekali."
"Benarkan, dia juga sangat perhatian"
Kasir yang bekerja di sana pun terkejut melihat Rezvan membawa banyak sekali jenis pembalut.
"Ini saja tuan?"
Rezvan menganggukan kepalanya, kasir tersebut tersenyum lalu mulai memindahkan barang barang itu ke kantung plastik.
Disisi lain Kirana tidak berani duduk di sofa karena takut sofa tersebut akan ternodai.
Sudah beberapa menit ia menunggu, tetapi Rezvan tidak kunjung pulang. "Aku ingin menelpon Chalandra atau Meishana tetapi ponsel dan tasku tertinggal di ruangan kerjaku." gumam Kirana sambil melihat jam dinding.
__ADS_1
Suara bel berbunyi membuat Kirana langsung bergegas menghampiri pintu dan langsung membukanya.
Tetapi setelah pintu terbuka bukan Rezvan yang ada disana tetapi seorang wanita yang tidak Kirana kenal.
"Kau siapa? kenapa kau ada di dalam apartement Rezvan?" tanya wanita itu.
"Kau siapa?" tanya balik Kirana saat wanita itu masuk begitu saja tanpa Kirana izinkan.
"Aku tunangan Rezvan, kenapa dia membawa wanita ke apartementnya?" tanyanya sambil duduk di sofa.
"Aku..."
"Kau tidak perlu menjelaskannya, aku sudah tahu."
"Rezvan pasti membayarmu untuk memuaskan rasa nafsunya bukan? kenapa dia tidak bilang kepadaku saja..."
"Jaga ucapanmu, aku bukan wanita ****** yang kau pikirkan."
"Lalu kenapa kau ada disini?"
"Aku hanya temannya saja, teman lama." jawab Kirana dengan cepat
"Dimana Rezvan?"
"Dia sedang pergi ke supermarket."
"Jika begitu ambilkan aku air, aku sangat haus sekali." titah Rindu
Kirana mengerutkan keningnya dan langsung menatap tajam wanita yang ada di depannya itu.
"Kau pikir aku pembantumu? enak sekali kau menyuruhku untuk mengambilkan air, kau punya kaki bukan dan kau pasti tahu arah dapur"
"Bukankah kau juga menumpang disini? apakah kau tidak memiliki rumah sehingga tinggal di tempat orang lain? tapi dari penampilanmu sepertinya kau orang kaya, tunggu apakah Rezvan yang membelikan baju itu kepadamu?"
"Kau..."
Suara pintu terbuka terdengar oleh mereka berdua, beberapa saat kemudian Rezvan datang dan langsung menghampiri mereka.
__ADS_1
"Sayang, kamu kemana aja?" tanya Rindu dengan sangat manja yang langsung menghampiri Rezvan dan menyenderkan kepalanya di pundak laki-laki itu.
Kirana tertawa tidak percaya melihat pemandangan itu, "Lepaskan." kata Rezvan.
"Kau membeli apa ke supermarket?" tanya Rindu melihat kantung plastik yang berukuran besar.
"Oh ya, ini milikmu." kata Rezvan sambil memberikan kantung plastik itu kepada Kirana.
Dengan sedikit kesal, Kirana mengambil kantung plastik itu dan langsung pergi ke kamar Rezvan begitu saja.
"Kenapa kau membiarkan dia tidur di kamarmu?" tanya Rindu sambil menatap kepergian Kirana.
"Lalu masalahnya apa?"
"Kau menanyakan masalahnya apa? yang benar saja sayang kau bahkan sama sekali tidak pernah mengijinkanku untuk masuk ke dalam kamarmu tapi wanita itu..."
"Jika kau ingin membuat keributan disini sebaiknya kau pulang." potong Rezvan.
"Kau mengusirku? tapi kau membiarkan wanita lain menginap di apartement mu?"
Rezvan hanya terdiam saja tidak menjawab pertanyaan Rindu. "Sayang, jawab aku!" teriak Rindu.
"Diam, lebih baik kau pulang saja."
"Tidak mau! aku ingin tidur bersamamu."
Rezvan menghelakan nafasnya. "Kau bukan siapa-siapaku, kau tidak ada hak untuk tidur bersamaku."
"Tapi aku tunanganmu."
"Tapi aku tidak menganggapmu sebagai tunganku, ingat ini baik-baik hubungan kita hanya paksaan dari orang tua saja. aku tidak berniat untuk menikahimu jadi dengan secepatnya aku akan membatalkan pernikahan kita."
"Kau, jahat sekali!"
"Terserah kau mau bilang diriku apa, tapi jika dipaksakan tidak akan benar. aku ingin menikahi wanita yang aku cintai sendiri, atas kemauanku."
Rindu mengepalkan telapak tangannya, tanpa berpamitan ia langsung pergi dari apartement Rezvan tanpa berkata apa-apa.
__ADS_1
Laki-laki itu kembali menghembuskan nafasnya merasa lega setelah berbicara seperti itu. perkataan yang ingin ia lontarkan sejak dulu.