
Sesampainya di rumah Nenek Sumi, Kirana langsung turun dari mobil dan berlari menghampiri wanita tua yang dari tadi sedang menunggu kedatangan cucunya itu, Kirana langsung memeluknya dengan erat.
"Nenek, Kirana kangen banget."
"Nenek juga nak, kau sudah dewasa dan semakin tambah cantik." kata Nenek Sumi sambil merapihkan anak rambut Kirana yang berantakan.
"Masuklah, nenek sudah memasak makanan kesukaan kalian berdua." lanjut Nenek Sumi mempersilahkan cucunya untuk masuk.
"Rezvan mau membereskan terlebih dahulu kopernya, nek." sahut Rezvan sambil membuka pintu bagasi mobil.
"Ah iya, Kirana akan membantunya."
"Baiklah, nenek akan menunggu di dalam."
Kirana dan Rezvan menganggukan kepala, dilanjutkan mereka menurunkan koper masing-masing.
"Itu berat, biarkan aku saja yang membawanya." kata Rezvan mengambil alih koper milik Kirana.
"Tidak perlu repot, aku bisa sendiri."
"Mana mungkin aku membiarkan kekasihku mendorong koper yang berat ini?"
Perkataan Rezvan lagi-lagi membuat Kirana terdiam, ia menghentikan langkahnya sambil menatap punggung Rezvan yang semakin menjauh darinya.
"Dia benar-benar sulit sekali ditebak." gumam Kirana sambil memegang dadanya.
Gadis itupun langsung berlari kecil menyusul masuk kedalam rumah.
***
Setelah selesai membereskan kopernya Kirana dan juga Rezvan langsung bergabung duduk di meja makan bersama Nenek Sumi.
__ADS_1
Tempat itu sama sekali tidak berubah, selalu bersih dan terlihat rapih. Kirana melihat makanan kesukaannya yang terlihat masih hangat di meja makan.
"Nenek tau makanan kesukaan Kirana?" tanya Kirana.
"Aku mengetahuinya dari Rezvan." kata Nenek Sumi sambil tersenyum hangat.
"Ayo, makanlah." lanjutnya menyuruh mereka langsung memakan masakannya.
"Baiklah, terima kasih Nenek." seru Kirana langsung melahap masakan Nenek Sumi kedalam mulutnya.
"Kalian hanya tinggal satu malam tetapi banyak sekali barang yang kalian bawa."
"Tentu saja Nek, karena kebutuhan Kirana sangat banyak. tidak lupa juga Kirana membelikan oleh-oleh dari Jakarta untuk nenek."
"Benarkah?"
Kirana menganggukan kepalanya dengan sangat antusias. "Nanti Kirana akan memberikannya kepada nenek."
Beberapa menit mereka sudah selesai makan, Kirana membantu Nenek Sumi untuk mencuci piring walaupun wanita paruh baya itu sudah melarangnya.
"Nenek, Rezvan ingin berbicara dengan nenek."
Nenek Sumi menghentikan aktivitannya lalu menatap cucunya dengan penuh tanda tanya.
"Hanya sebentar saja nek." lanjut Rezvan sambil tersenyum.
"Baiklah, Kirana nenek izin untuk mengobrol sebentar dengan Rezvan ya."
"Tidak apa-apa nek, biarkan Kirana saja yang mencuci piringnya."
Nenek Sumi tersenyum dan langsung mencuci tangannya sebentar lalu mengikuti Rezvan.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Nenek Sumi.
"Begini nek..."
"Nenek tahukan jika Rezvan sudah dijodohkan oleh ayah dengan Rindu?" tanya Rezvan.
"Ya, aku mengetahuinya."
"Rezvan ingin menolak untuk menikahi Rindu, apakah nenek bisa membantu Rezvan?"
"Alasannya?"
Rezvan terdiam sejenak menggigit bibir bawahnya. "K-karena Rezvan menyukai Kirana..."
"Rezvana juga tidak ingin menikahi orang yang sama sekali tidak Rezvan cintai nek, jadi aku mohon bantulah Rezvan untuk berbicara dengan ayah"
"Hanya itu saja?"
Rezvan menganggukan kepalanya. "Baiklah, nenek akan mencobanya." kata Nenek Sumi membuat Rezvan lega dan langsung memeluk neneknya itu dengan sangat erat.
"Terima kasih banyak nek, kau memang yang paling mengerti keadaan Rezvan."
"Tapi sejak kapan kau menyukai Kirana?" tanya nenek Sumi.
"Sejak aku bermain dengannya dibukit." jawab Rezvan
"Sudah lama sekali, apakah kau sudah memberitahu perasaanmu kepada Kirana?"
"Sudah nek, dan dia menerimaku untuk menjadi kekasihnya." katanya demgan semangat.
"Anak zaman sekarang.... Baiklah nenek akan membicara dengan ayahmu nanti." kata Nenek Sumi semakin membuat Rezvan senang.
__ADS_1