
Rezvan kembali berbaring di samping Kirana sedangkan gadis itu kembali menarik selimut dan langsung menutup matanya rapat-rapat.
Di tempat lain Arthur baru saja pulang setelah seharian bekerja, ia berjalan kearah dapur dan membuka kulkas.
Laki-laki itu membawa minuman kaleng lalu membukanya. ia melamunkan perkataan Meishana yang mengatakan jika Kirana sedang ada di Bali bersama Rezvan.
Arthur membuang nafas sambil menggelengkan kepalanya, ia langsung meneguk minuman kalengnya.
Ponsel yang ia simpan di saku celana tiba-tiba saja berdering, ada telepon masuk dari Danial.
Arthur dan Danial adalah teman semasa SMA dulu, mereka benar-benar akrab sekali saat itu. tetapi setelah keluar SMA mereka berdua harus berpisah karena pilihan kampus mereka berbeda.
Arthur dengan segera mengangkat teleponnya dan langsung menghidupkan speaker ponselnya.
"Ada apa?" tanya Arthur sambil meneguk kembali minuman kalengnya.
"Apakah kau ingin minum bersamaku? aku membawa dua botol alkohol."
Arthur terdiam sejenak. "Kau ada dimana?" tanyanya.
"Di depan Apartemenmu."
Arthur mengangkat kedua alisnya, dengan segera ia berjalan kearah pintu dan langsung membukanya, benar saja Danial sudah ada di depan pintu sambil menunjukan kantung plastik yang berisi alkohol.
Arthur mempersilahkan Danial masuk setelah itu kembali menutup pintunya.
"Apartemenmu sangat luas, kenapa kau tidak membeli rumah saja? sekarang kau sudah ada banyak uang"
"Aku lebih nyaman tinggal di Apartemen." kata Arthur sambil berjalan kearah dapur untuk membawa gelas.
Beberapa menit Arthur kembali dengan dua gelas yang ada di tangannya, ia duduk di lantai bersama Danial.
Sedangkan Danial mengeluarkan dua botol alkohol dan langsung meletakannya di meja yang ada di depannya.
"Tapi bukankah kau baru saja sembuh?" tanya Arthur kebingungan.
"Tidak apa-apa, sesekali."
Arthur terkekeh mendengar perkataan sahabat SMA nya itu, Danial langsung membuka tutup botol Alkohol dan langsung menuangkannya di gelas milik Arthur.
"Minumlah, kawan."
Dengan cepat Arthur meneguk satu gelas yang berisi alkohol itu langsung ke tenggorokannya.
"Sepertinya kau pandai minum."
__ADS_1
"Tidak, ini kali pertamaku meminum alkohol."
"Benarkah?" tanya Danial terkejut.
Arthur menganggukan kepalanya, ia menatap kosong kearah gelas. Danial yang melihatnya seolah-olah mengerti.
"Ada apa? apakah kau putus cinta?" tanya Danial.
"Hanya saja aku tidak mengerti." katanya sambil menggelengkan kepalanya.
"Soal?"
"Di tempat kerjaku ada seorang wanita yang memintaku untuk berpura-pura menjadi kekasihnya, tetapi kenapa malah aku yang selalu kepikiran tentangnya?"
"Soal ini? kau bertanya kepada orang yang tepat." kata Danial sambil membusungkan dadanya.
"Mungkin kau tertarik dengan orang itu. Dengar Arthur sebelum kau memutuskan untuk berkencan dengan seorang wanita kau harus memantapkan hatimu terlebih dahulu, apakah itu rasa suka atau cuman hanya penasaran saja."
"Terkadang kita bertindak sesuai dengan kemauan hati kita, tetapi jika itu mengarah kearah hal negatif kita harus berusaha untuk menghindarinya." lanjutnya sambil meneguk minumannya.
"Jadi aku harus apa?" tanya Arthur.
"Kau bodoh sekali tentang hal seperti ini, kau renungkan saja dulu isi hatimu itu." jawab Danial
"Rahasia."
***
Mami Kala, Reygan dan juga Chalandra pergi ke rumah sakit untuk menengok Jenia yang sudah melahirkan anak pertamanya.
"Ayo masuk." kata Mami Kala
"Mami, Reygan mau pergi keliling rumah sakit nanti Reygan tunggu kalian dimobil saja ya."
"Baiklah, jangan tinggalkan Mami."
"Tidak akan Mi." kata Reygan
Chalandra menatap kakak laki-lakinya itu dengan sinis, lalu dengan cepat ia masuk keruangan tempat dimana Jenia dirawat.
"Anak itu."
Reygan pun membalikan badan dan pergi keluar dari rumah sakit, ia berjalan-jalan sebentar untuk mencari angin.
Karena lapar Reygan pun pergi ke restoran yang tidak jauh dari rumah sakit sambil berjalan, tapi di perjalanan ia melihat segerombolan wanita dan juga laki-laki sedang berkumpul, karena penasaran akhirnya ia pun memutuskan untuk menontonnya.
__ADS_1
Terdiri dari dua wanita dan juga lima laki-laki, salah satu dari wanita itu berjalan mendekati seorang laki-laki yang sedang mengobrol dengan teman-temannya.
"Raynan."
Laki-laki yang bernama Raynan itu melihat kearah wanita yang tadi memanggil namanya.
"Ada apa?" tanyanya dengan wajah yang terlihat cuek dan juga malas.
"Ini untukmu." katanya sambil memberikan sebuah bunga yang sepertinya baru saja di petik.
"Hah?"
"A-aku menyukaimu." lanjut wanita itu sambil tersenyum.
Reygan hanya menonton saja di lorong gang yang tidak jauh dari segerombolan remaja itu.
Laki-laki tersebut tertawa, kedua tangannya ia selipkan di saku celananya.
"Apakah kau tidak punya kaca?"
"Kau memberikan aku apa? rumput liar?" tanya laki-laki itu mengambil bunga yang diberikan oleh wanita itu dan langsung membuangnya begitu saja.
"Lihatlah, wanita ini berani sekali menembakku." teriaknya disusuli oleh tawaan dari teman-temannya.
"Lebih baik kau berkaca dulu!"
"Nyalimu sangat besar sekali."
"Anak sekolah bahkan tidak tahu siapa kedua orang tuamu, mereka semua mengira kau adalah anak buangan, bagaimana Raynan akan menerimamu? dasar bodoh."
Perkataan teman laki-lakinya itu seketika membuat gadis itu terdiam tidak berani bersuara.
"Hey, kalian sunggu tidak mempunyai hati nurani!" seru seorang wanita yang sepertinya itu adalah teman gadis itu.
"Apa salahnya jika Nasya mengatakan bahwa dia menyukai Raynan? apa susahnya untuk menghargai? kalian demgan seenaknya berbicara seperti itu kepada sahabatku! bahkan kau mengungkit kedua orang tuanya!" katanya sambil menunjuk kearah laki-laki yang tadi mengejek gadis itu dengan julukan anak buangan.
Tanpa rasa takut wanita itu langsung menampar laki-laki itu dan langsung menarik tangan sahabatnya.
"Kita pergi dari sini, kau tidak usah mengarapkan laki-laki brengsek ini!" katanya langsung pergi meninggalkan mereka berlima.
Reygan yang dari tadi menonton merasa tidak asing dengan nama 'Nasya' wajahnya pun sepertinya ia kenal.
Karena tidak ingin berpikir, Reygan kembali melanjutkan tujuannya untuk pergi ke restoran, membeli makan.
"Aku tidak menyukai laki-laki itu." katanya
__ADS_1