Dokter Cantik Milik Tuan Muda

Dokter Cantik Milik Tuan Muda
23


__ADS_3

Malamnya Kirana keluar dari kamar mandi setelah selesai membersihkan badannya dan sekarang giliran Rezvan.


Kirana berjalan kearah balkon sambil mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil.


Gadis itu mengeluarkan ponselnya dan menyalakan data, ternyata banyak sekali panggilan tak terjawab dari Meishana dengan segera Kirana menelepon balik sahabatnya itu.


Beberapa menit panggilan terhubung, Meishana langsung menghujani berbagai pertanyaan kepada Kirana.


"Kau kemana saja?"


"Kenapa kau tidak masuk kerja hari ini? aku dan juga Vano mencarimu tau!" kata Meishana dengan nada yang begitu kesal.


"Maafkan aku, aku baru meng-aktifkan ponselku. ini aku sedang berada di Bali bersama Rezvan." jawab Kirana.


"Di bali? bersama Rezvan? yaampun Kirana kau hanya berdua saja dengan dia?" tanya Meihana tak percaya.


"Iya, aku ke Bali karena ingin menemui neneknya yang dulu pernah menolongku."


"Lalu kapan kau akan kembali ke Jakarta?"


"Astaga, Sha. aku saja baru sampai di Bali."


"Oh iya baiklah, tapi apakah kau sudah membaca berita hari ini?"


"Berita?" tanya balik Kirana.


"Iya, ini mengenai dirimu."


"Kirana." suara teriakan Rezvan membuat Kirana terkejut.


"Siapa itu?" tanya Meishana di sebrang sana.


"Ah itu, a-aku sudahi dulu panggilannya ya."


Kirana dengan terburu-buru mengakhiri panggilannya dan langsung kembali masuk kedalam kamar, terlihat Rezvan yang sudah mengganti baju menggunakan kaos hitam dan celana panjang.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Kirana.


"Tidak, aku hanya memanggilmu saja"


"Kau ini! oh ya karena ini hanya ada satu kasur jadi kau tidur di lantai." kata Kirana.


"Kenapa tidak kau saja?"


"Karena aku perempuan, apakah kau tega membiarkan aku tidur di lantai yang sangat keras ini?" tanya Kirana.


"Aku tidak peduli."


"Cih, lalu kenapa kau menolongku saat beberapa tahun lalu." gumam Kirana tetapi suaranya masih terdengar samar-samar oleh Rezvan.


"Apa kau bilang?"


"Baiklah, kita tidur berdua dalam satu kasur."


***


Beberapa menit setelah berdebat, kini suasana tiba-tiba hening, mereka berdua terlihat gugup.


Dengan wajah yang terlihat cuek dan juga tangan yang dilipat di dada, Rezvan menganggukan kepalanya.


Kirana mulai mencari posisi tidur yang nyaman, sedangkan Rezvan mematikan lampu.


Laki-laki itu tidak langsung tertidur, tetapi ia mengecek ponselnya sebentar.


Terlihat pesan masuk dari sahabatnya Danial, yang tertulis...


'Menciumnya dengan lembut, menarik kursi saat dia akan duduk, membuatkan makanan favoritnya, menonton film bersama, mengatakan hal-hal yang romantis untuknya, mengusap rambutnya dengan lembut, berpegangan tangan saat kalian berdua berjalan.'


'Lakukanlah apa yang aku perintahkan, aku jamin Kirana akan menyukainya.'


'Atau apakah kalian berdua pernah berciuman? woahh aku bahkan tidak tahu apa yang terjadi saat aku kembali pulang saat itu'

__ADS_1


'Bersenang-senanglah kawan!'


Begitulah pesan masuk dari Danial, Rezvan langsung menganggap bodoh sahabatnya itu.


Rezvan kembali menaruh ponselnya di atas laci, ia memiringkan posisi badannya dengan kepala yang di tumpu oleh tangannya.


Saat Kirana mentelentangkan badannya, ia begitu terkejut saat melihat Rezvan sedang asik menatapnya dengan tatapan yang begitu lembut.


"K-kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Kirana dengan gugup.


Tanpa aba-aba Rezvan langsung menindih tubuh Kirana, hampir membuat jantung gadis itu copot.


"Sudah aku katakan jangan macam-macam denganku..." kata Kirana dengan suara yang kecil.


"Aneh sekali, kenapa aku ingin sekali mencicipi bibirmu saat ini?" tanya Rezvan dengan suara yang pelan bahkan ia mulai memajukan wajahnya tetapi Kirana dengan sekuat tenaga mendorongnya.


"Ada apa?" tanya Rezvan.


"Kau gila? kau sudah punya tunangan!" Kirana sedikit membentak.


"Bahkan kau juga mempunyai kekasih tetapi saat kau mabuk, kau menciumku."


"Hah?"


"Kau tidak ingat?" tanya Rezvan sambil mengelus rambut Kirana dengan begitu lembut.


"Kenapa kau bersikap seperti ini Rezvan? aku tidak mau tunanganmu salah paham..."


"Aku menyukaimu." potong Rezvan hal itu langsung membuat Kirana terdiam.


"Biar ku katakan, aku sudah memutuskan hubunganku sejak lama dengan Rindu." lanjutnya.


"Jika memang iya, lalu kenapa kemarin kau menciumnya di rooftoop rumah sakit?" tanya Kirana.


"Bukan aku, tetapi dia yang tiba-tiba menciumku."

__ADS_1


"Itu sama saja." Kirana berusaha mendorong tubuh Rezvan tetapi kekuatan laki-laki itu sangat besar sekali.


"Aku ingin tidur." lanjutnya sambil memalingkan wajah tidak ingin memandang Rezvan yang saat ini sedang menatapnya.


__ADS_2