Dokter Cantik Milik Tuan Muda

Dokter Cantik Milik Tuan Muda
11


__ADS_3

Rezvan langsung menuntun Danial keluar dari kamarnya, Danial ingin sekali bertemu dengan Kirana, setelah membaca berita tersebut dirinya sangat khawatir sekali.


Saat akan pergi ke ruangan Kirana, mereka berdua berpas-pasan dengan Meishana di lobby rumah sakit.


Terlihat gadis tersebut menggigit kuku jarinya karena merasa khawatir, pandangannya pun terus melihat kearah lift.


"Selamat malam, bukankah kau dokter Meishana yang selalu bersama dokter Kirana?" tanya Danial.


"Ah, benar. Ada apa?" tanya balik Meishana dengan terbata-bata.


"Apakah kau tahu dokter Kirana ada dimana? Aku ingin menemuinya."


"B-begini, sejak tadi siang Kirana pergi ke rooftop rumah sakit dan sampai sekarang dia belum kembali ke ruangannya."


"Lihatlah di luar sana, wartawan semakin banyak datang kesini untuk mewawancarai Kirana." lanjutnya sambil menunjuk kearah para wartawan.


"Rooftop?" tanya Rezvan.


"Benar, aku sangat khawatir sekali karena dia mengambil semua botol alkoholku."


"Rezvan, pergilah ke rooftop. aku takut jika Kirana nekat mencelakai dirinya sendiri." titah Danial


Rezvan menganggukan kepalanya. "Baiklah, kau tunggu disini. aku akan pergi ke rooftop."


Rezvan langsung berlari kearah lift, laki-laki itu sangat khawatir dengan keadaan Kirana.


Ia kembali mengingat perkataan Kirana dulu saat bercerita mengenai dirinya sendiri.


"Jika aku bersedih, aku merasa jika ingin melukai diriku sendiri."

__ADS_1


Kata-kata itu selalu terngiang di otak Rezvan.


Disisi lain Kirana masih saja menangis, ia tidak mampu untuk berdiri karena terlalu banyak meminum alkohol.


Kadang-kadang ia berhenti menangis dan beberapa menit kemudian ia kembali menangis.


"Aku sangat malu sekali." katanya sambil terisak.


"Lucu sekali, aku bukan anak kandung papahku dan sekarang seluruh dunia mengatakan jika aku adalah anak yang tidak diinginkan." ucapnya sambil memukul-mukul lemas tanah.


Rezvan yang baru saja sampai rooftop langsung menghampiri Kirana yang sedang terduduk lemas di samping tembok pembatas rooftop.


"Kirana." kata Rezvan sambil menepuk pelan pipi Kirana.


"Eung..."


"Kau, laki-laki yang pernah menolongku?" tanyanya sambil tertawa lirih.


"Kirana apakah kau bisa berjalan?" tanya Rezvan saat mengetahui jika Kirana sedang mabuk berat.


Perempuan yang ada dihadapannya itu menggelengkan kepalanya. "Aku tidak ingin pulang ke rumah." ucapnya.


"Baiklah, aku akan membawamu ke Apartemenku."


Sebelum Rezvan mengangkat tubuh Kirana, laki-laki itu membuka terlebih dahulu jas putih yang di kenakan oleh Kirana setelah itu ia melipatnya agar tidak kusut.


Tanpa menunggu lama Rezvan langsung mengangkat tubuh Kirana dan membawanya pergi dari rooftoop rumah sakit.


setelah turun dsri rooftop, beberapa menit setelah lift terbuka, Rezvan langsung menyuruh Meishana untuk mengambil jas putih milik Kirana.

__ADS_1


Dengan cepat Meishana mengambilnya. "Aku akan membawa Kirana pergi dari rumah sakit." ucap Rezvan.


"Tapi..."


"Dokter tenang saja, Kirana dan sahabatku sudah saling mengenal." potong Danial dan langsung memberi kode kepada Rezvan untuk segera membawa Kirana pergi dari sana.


Rezvan berlari kecil untuk pergi kearah garasi rumah sakit yang khusus untuk dokter dan juga tamu penting yang akan memarkirkan kendaraannya disana.


Rezvan juga lega jika di sana tidak ada wartawan karena ada beberapa petugas yang menjaga ketat tempat itu.


Rezvan membuka pintu mobil bagian depan dan langsung menurunkan tubuh Kirana di kursi mobil.


Laki-laki itu memasangkan sabuk pengaman untuk Kirana, agar gadis itu aman dalam perjalanan menuju Apartemennya.


"Apakah aku turunkan sedikit kursi mobil ini? agar dia bisa tidur di mobil." gumam Rezvan berpikir sejenak.


"Tidak." jawab Kirana dengan keadaan tertidur.


Rezvan menatap wajah Kirana yang saat itu sangat dekat sekali dengan wajahnya, bahkan Rezvan bisa mencium bau alkohol.


Kirana setengah tersadar, ia membuka matanya perlahan dan langsung bisa melihat wajah Rezvan yang sedang terpaku menatapnya.


Kirana terkekeh kecil dan langsung melingkarkan kedua tangannya di leher Rezvan.


"Kau masih tampan seperti dulu." ucap Kirana sambil tersenyum.


Dengan perlahan Kirana memajukan wajahnya sehingga bisa merasakan bibirnya dan juga Rezvan saling menempel.


Rezvan tidak bisa berbuat apa-apa, ia membulatkan matanya saat melihat tindakan Kirana saat itu.

__ADS_1


__ADS_2