Dokter Cantik Milik Tuan Muda

Dokter Cantik Milik Tuan Muda
16


__ADS_3

Meishana memijat bagian lehernya yang terasa nyeri, jam sudah menunjukan pukul 2 pagi hari.


"Jika aku pergi ke rumah Rezvan sekarang, mungkin mereka berdua sudah tertidur lelap." gumam Meishana.


Meishana berjalan ke arah ruang Administrasi disana sudah ada Vano, Arthur dan juga beberapa dokter lainnya yang sedang menonton televisi.


Walaupun sambil berdiri, mereka semua tetap menikmati film yang mereka nonton tak lupa disuguhi oleh beberapa cemilan dan juga kopi disana.


"Meishana, apakah kau sudah memeriksa semua data pasien?" tanya Vano melirik kearah gadis itu.


"Sudah, dokter."


"Bagaimana dengan dokter Kirana? apakah dia baik-baik saja?" tanya salah satu perawat wanita.


"Aaa itu, aku belum mendapatkan kabar tentang Kirana, nomornya pun sulit untuk dihubungi." jawab Meishana terbata-bata.


"Aku sangat kasihan sekali kepada dokter Kirana, aku harap dia baik-baik saja." ucap salah satu dokter laki-laki.


"Benar, aku mengikuti kasus ini dan sepertinya nyonya Kala dan juga tuan Reja tidak akan diam saja." timpal Vano.


"Oh iya, tadi tuan Kandaga menitipkan berkas ini kepadaku." sela seorang perawat wanita.


"Berkas? untukku?" tanya Meishana sambil mengambil alih berkasnya.


"Bukan, ini untuk dokter Kirana. sepertinya beberapa data pasien yang sebelumnya pernah di operasi oleh dokter Kirana."


"Aku merasa tuan Kandaga tidak mengasihani dokter Kirana." bisik seorang dokter pria.

__ADS_1


"Aku setuju."


"Sudahh, bagaimana jika tuan Kandaga tahu jika kita membicarakannya, apakah kalian ingin dipecat?" tanya Vano.


"Tidak." sahut mereka semua.


Arthur dari tadi hanya terdiam mendengarkan pembicaraan para dokter dan juga perawat disana.


Dirinya tidak begitu dekat dengan Kirana, maka dari itu ia tidak ingin ikut campur dalam urusan ini.


"Yasudah, aku izin untuk pergi ke ruangan Kirana dan setelah itu pulang."


Vano menganggukan kepalanya. "Baiklah jika begitu, hati-hati." ucapnya sambil melambaikan tangan.


***


Dari dalam mobil Kirana terdiam menatap gedung rumah sakit yang besar itu.


"Kenapa kau diam saja?" tanya Rezvan sambil melepaskan sabuk pengamannya.


"Aku malu, apakah aku mengambil cuti saja?" tanya balik Kirana.


"Kenapa malu? apakah karena masalahmu?"


Kirana menganggukan kepalanya. "Kau tidak perlu malu, paman Reja tetaplah ayahmu. saat kau tersesat di hutan dan paman Reja menemukanmu di rumah nenekku, aku bisa melihat dengan begitu jelas bagaimana rasa khawatir dia kepadamu."


"Jangan membenci paman Reja dan juga kau tidak perlu merasa malu dan khawatir tentang berita yang menyebar itu." lanjutnya

__ADS_1


Kirana terdiam mendengarkan perkataan Rezvan yang membuat hatinya merasa tenang, apa yang dikatakan oleh Rezvan memang benar. selama ini papa Rezvan begitu menanyanginya walaupun ia tahu jika dia bukanlah anak kandung papahnya tapi kenapa bisa papah Reja begitu sayang kepadanya.


"Apakah pacarmu bekerja di rumah sakit ini juga?" tanya Rezvan seketika membuat Kirana membulatkan matanya.


"It-itu..."


Dari arah depan Kirana melihat dokter baru yanh dimaksud oleh Vano sedang berjalan memasuki lobby rumah sakit, seketika ia mempunyai ide.


"Tentu saja, dia juga dokter disini, Lihat dia adalah pacarku." kata Kirana sambil menunjuk kearah Arthur.


Rezvan mengangkat kedua alisnya saat melihat kearah yang dimaksud oleh Kirana.


"Jika begitu aku pergi dulu." ucap Kirana sambil melepaskan sabuk pengamannya dan langsung turun dari mobil.


"Sial aku lupa siapa namanya." gumam Kirana dalam hati.


"Tunggu sebentar!" teriak Rezvan sambil turun dari mobil dan mengejar Kirana kedalam lobby rumah sakit.


"Halo sayang, apakah kau tidur dengan baik semalaman?" tanya Kirana langsung merangkul lengan Arthur.


Laki-laki itu terkejut dan berusaha untuk melepaskan rangkulan gadis yang ada di sampingnya itu.


"Bantulah aku sebentar." bisik Kirana


"Kirana, tunggu." Rezvan menghampiri Kirana dengan nafas yang terengah-engah.


"Ada apa?"

__ADS_1


__ADS_2