
Rezvan menyodorkan kantong plastik yang berisi makanan dan beberapa vitamin di sana.
"Punyamu." kata Rezvan dengan ekpresi wajah yang dingin.
"Punyaku? tapi aku tidak membelinya..."
"Bawa saja, aku banyak urusan." potong Rezvan lalu berjalan terlebih dahulu menuju lift.
"Apa ini?" gumam Kirana dalam hati sambil menatap kepergian laki-laki itu.
"Kenapa kau melakukan hal seperti itu tadi?" tanya Arthur yang masih kebingungan.
Kirana tersadar dan langsung tersenyum kepadanya. "Maafkan aku, tapi apakah kita bisa pergi ke kantin sebentar?"
Arthur mengerutkan keningnya, yang ia butuhkan sekarang adalah penjelasan bukan makan.
***
Di kantin Kirana menceritakan semuanya, gadis itu meminta Arthur untuk berpura-pura menjadi pasangannya.
"Untuk apa aku melakukan hal konyol seperti ini?" tanya Arthur.
"Ayolah, sekali saja. sebagai bayarannya aku akan mentraktir makanan mahal untukmu."
"Tidak, kita bahkan tidak terlalu dekat."
"Memang benar, tapi aku mohon. hanya sebentar saja." pinta Kirana sambil mengatupkan kedua telapak tangannya.
Arthur membuang nafasnya, merasa prustasi menghadapi wanita yang ada di hadapannya itu.
Vano yang tiba-tiba datang langsung duduk di samping Kirana. "Mintalah bantuan kepadanya." kata Arthur sambil beranjak dari tempat duduknya.
__ADS_1
"Tidak, aku ingin meminta bantuan kepadamu saja."
"Terserah." sahut Arthur sambil pergi dari sana.
"Meminta bantuan apa?" tanya Vano.
"Tidak ada, hanya saja masalah pribadi." jawab Kirana sambil mengacak-acak rambutnya dan hal itu membuat Vano tertawa.
"Kenapa kau tertawa?" tanya Kirana sedikit membentak.
"Tidak ada dokter."
"Oh ya, apakah dokter Kirana baik-baik saja?" tanya Vano.
"Berbicaralah seperti biasa, aku dan dirimu seumuran." kata Kirana sambil menyeruput minumannya.
"Tapi kau seniorku."
"Baiklah, aku akan berbicara seperti biasa kepadamu."
"Bagus."
"Oh ya, aku tadi pergi ke ruanganmu untuk menyimpan beberapa rekaman medis, dan sepertinya hari ini kau harus melakukan operasi kepada pasien yang terdiagnosis penyakit tumor saraf."
"Apakah sudah melakukan pemeriksaan MRI?" tanya Kirana.
"Sudah, oh ya dokter Arthur juga ikut dalam operasi ini."
Kirana membulatkan matanya, ia memejamkan matanya dan tubuhnya langsung lemas.
"Kenapa kau tidak mengambil cuti saja?" tanya Vano.
__ADS_1
"Akan sangat bosan jika aku mengambil cuti, ayo kita ke ruang pemeriksaan MRI."
"Baik."
Mereka berdua pun beranjak dari tempat duduknya.
Di ruang MRI sudah ada Arthur dan juga tuan Kandaga yang sedang melihat hasil pemeriksaannya di layar komputer.
"Operasi ini membutuhkan waktu kurang lebih tiga jam, dan juga operasi ini tidak memerlukan transfusi darah." kata tuan Kandaga
"Baik." ucap Kirana, Vano dan juga Arthur secara bersamaan.
"Kirana apakah kau baik-baik saja?" tanya tuan Kandaga.
"Aku baik-baik saja."
"Baiklah jika begitu, aku akan mengawasi kalian di ruang pengawasan operasi."
"Baik, tuan."
"Gantilah baju kalian."
Mereka bertiga menganggukan kepalanya dan langsung pergi ke ruangan masing-masing untuk mengganti baju.
Beberapa menit setelah berganti baju, Kirana berjalan menghampiri meja dan menyalakan layar ponselnya.
Betapa terkejutnya ia saat mendapati beberapa panggil tak terjawab dari papah Reja, Mami Kala dan juga kedua adiknya.
Ada juga beberapa pesan masuk yang dikirimkan oleh Mami Kala, berisi kata maaf.
Kirana akan menelpon Mami, sekarang Kirana akan melakukan operasi.
__ADS_1
Kirana menyimpan kembali pinselnya setelah mengirimkan pesan kepada Mami Kala, agar wanita paruh baya itu tidak khawatir.