
Keesokan harinya sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Rezvan, laki-laki itu benar-benar mengantarkan Kirana ke rumah sakit.
"Sudah sampai." kata Rezvan sambil membantu Kirana melepaskan seatbelt.
"Terima kasih." kata Kirana
Saat hendak membuka pintu mobil, tangan Kirana ditarik oleh Rezvan sehingga wajah mereka berjarak beberapa senti saja.
"Kau sepertinya melupakan sesuatu."
"Apa? sepertinya aku tidak..."
Tanpa basa basi Rezvan langsung mencium dan ******* bibir Kirana, membuat wanita itu terkejut.
"Kita harus membiasakan dengan hal ini." kata Rezvan setelah melepaskan ciumannya.
Wajah Kirana memerah setelah mendengar perkataan Rezvan. "Jangan harap ya, aku akan bekerja sekarang." kata Kirana langsung buru-buru turun dari mobil.
Rezvan terkekeh melihat Kirana, laki-laki itu menunggu sampai Kirana benar-benar masuk kedalam rumah sakit.
"Se-"
"Selamat pagi semuanya."
Belum sempat seorang perawat menyapa kedatangan Kirana, wanita itu menyapa terlebih dahulu orang-orang yang sudah berkumpul di lobby.
"Kau terlihat bahagia sekali, ada apa?" tanya Meishana langsung mendekati Kirana.
"Tidak apa-apa, hanya saja aku senang." jawab Kirana
"Oh hai, Arthur." sapa Kirana begitu melihat laki-laki yang baru saja keluar dari ruangannya.
Arthur memperhatikan Kirana yang langsung masuk kedalam ruangannya, ia bertanya-tanya kepada sahabatnya itu tetapi Meishana hanya mengangkat pundaknya.
"Hari ini kau harus mengoperasi seorang anak kecil." kata Meishana
__ADS_1
"Anak kecil?"
Meishana menganggukan kepalanya. "Dia mengalami gangguan Epilepsi, aku sangat kasihan kepada orang tuanya, sepertinya mereka kesusahan membayar operasinya."
"Sejak kapan anak kecil itu dibawa ke rumah sakit?"
"Kemarin sore, kemarin malam juga anak kecil itu kejang-kejang untung saja Arthur masih ada di sini."
"Yang lainnya kemana?"
"Pergi makan-makan." jawab Meishana sambil berbisik.
"Sepertinya Tuan Kandaga sangat baik hati hari ini, dia membiarkan anak kecil itu di operasi terlebih dahulu dan dia ingin kau yang mengoperasinya."
"Baiklah, aku ingin menemui anak kecil itu terlebih dahulu."
Meishana menganggukan kepalanya, menetujui perkataan Kirana, setelah wanita itu memakai jas putihnya mereka berdua pun langsung bersiap-siap untuk pergi menemui pasien anak kecil itu.
Kirana dan Meishana memasuki kamar setelah seorang wanita membukakan pintu untuknya.
"Ibu, apakah kakak cantik ini yang akan mengoperasi Jian?" Suara lirih keluar dari mulut anak kecil itu.
"Iya, kakak yang akan mengoperasimu Jian." jawab Kirana tersenyum sambil duduk di kursi samping ranjang pasien.
"Dokter cantik, Jian bisa sembukan setelah operasi? jian ga mau ninggalin ayah sama ibu." pertanyaan anak kecil itu sukses membuat seorang wanita paruh baya yang ada di samping Kirana menangis.
"Kamu pasti sembuh sayang, kakak akan berusaha agar kamu cepat sembuh."
Tangan Kirana bergerak untuk mengelus-elus kepala anak kecil itu, ia tersenyum lalu beranjak dari tempat duduknya.
"Kapan?" tanya Kirana kepada Meishana.
"20 menit lagi."
Kirana menganggukan kepalanya lalu menatap wanita paruh baya yang tidak lain adalah ibu dari anak kecil itu.
__ADS_1
"Bisakah kita berbicara?" tanya Kirana lalu diangguki oleh wanita paruh baya itu.
Kirana dan Wanita itu keluar dari kamar, mereka berdua duduk di kursi kosong yang ada disana.
"Dokter, saya mohon sembuhkan lah anak saya, dia ingin sekali sehat seperti anak-anak lainnya."
"Saya kasihan kepadanya, dia sudah terkena penyakit itu saat usianya ke 4 tahun, saya bingung untuk menyembuhkannya karena biaya operasi yang sangat mahal dan juga kondisi uang keluarga kami yang tidak mencukupkan."
"Untung saja Tuan Kandaga sangat baik, dia membiarkan anak saya di operasi terlebih dahulu walaupun kami belum membayar uang operasinya."
Kirana terdiam mendengarkan wanita paruh baya itu, ia menganggukan kepalanya mengerti.
"Aku akan berusaha semaksimal mungkin agar Jian kembali sembuh, tentang uang kau jangan khawatir, selagi Jian sembuh semuanya akan baik-baik saja." kata Kirana.
"Sudah saatnya Jian di operasi, jika begitu aku pamit terlebih dahulu." kata Kirana.
"Aku mohon..."
Kirana menganggukan kepalanya sambil mengusap punggung wanita paruh baya itu agar kembali tenang.
Beberapa menit setelah berganti pakaian Kirana sudah siap dengan baju operasi, sarang tangan steril, masker dan juga topi medis.
Kirana juga sudah mencuci tangan menggunakan larutan antiseptik.
Di ruang pengawasan operasi sudah ada Tuan Kandaga dan juga Arthur yang akan memperhatikan Kirana yang sedang melakukan operasi.
Di tempat lain Rezvan sudah ada di kantor, baru saja pagi dirinya sudah dimanjakan dengan dokumen-dokumen penting yang harus dikerjakan oleh laki-laki itu.
Pintu tiba-tiba saja terbuka dari arah luar, terlihat Ayah Rian memasuki ruangan bersama sekretarisnya yang bernama Ares.
"Ada apa Ayah?" Tanya Rezvan mempersilahkan Ayahnya untuk duduk di sofa yang ada di ruangannya.
"Kau tidak lupakan empat hari lagi ibumu akan ulang tahun, dia ingin merayakannya jadi ayah akan mengundang rekan kerja ayah dan kau undanglah Kirana dan juga kedua orang tuanya, aku ingin mengenal keluarganya."
Rezvan menganggukan kepalanya, "Carikanlah gaun yang bagus untuk calon menantuku, aku tidak ingin kau mengecewakanku." kata Ayah Rian lalu beranjak pergi dari ruangan kerjanya.
__ADS_1
Rezvan hanya terdiam mendengar perkataan Ayah Rian. "Calon menantu? bahkan aku baru saja menjalin hubungan bersama Kirana." gumamnya sambil tersenyum.