Dokter Cantik Milik Tuan Muda

Dokter Cantik Milik Tuan Muda
27


__ADS_3

Siangnya Kirana dan Rezvan berpamitan kepada Nenek Sumi untuk pergi ke bukit.


Tak lupa Kirana membawa cemilan agar ia tidak lapar nanti. "Ayo kita pergi sekarang." kata Kirana begitu bersemangat.


Rezvan terdiam ia mengulukan telapak tangannya membuat Kirana kebingungan.


"Ada apa?" tanya Kirana.


Rezvan menghelakan nafasnya, "Perjalanan menuju bukit sangat jauh dan juga jalannya pasti licin karena semalaman turun hujan."


Kirana menganggukan kepalanya, ia pun tersenyum dan langsung menggenggam tangan Rezvan.


Mereka berduapun pergi ke bukit melewati kebun teh, tempat Nenek Sumi bekerja.


Tak luput orang-orang menyapa Rezvan dan memujinya karena tampan, hal itu membuat Kirana tidak suka.


Butuh waktu lama mereka sampai di bukit ditambah jalan yang licin karena hujan yang turun semalaman.


Tiga puluh menit kemudian Kirana dan juga Rezvan di atas bukit, Kirana menghirup udara dalam-dalam.


"Aku merindukan tempat ini." kata Kirana sambil berlari kecil kearah sungai yang tidak jauh dari tempat mereka berdua duduk.


Rezvan tersenyum melihat Kirana yang begitu bersemangat bermain air, ia mengamparkan kain alas bewarna biru terang di atas rumput lalu mengeluarkan cemilan yang dibawa oleh Kirana.


Karena sudah lelah Kirana pun kembali menghampiri Rezvan dan duduk di kain alas itu, ia men-selonjorkan kadua kakinya.


Rezvan tersenyum kearah Kirana lalu tangannya bergerak mengelus kepala Kirana dengan lembut.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Kirana sambil terkekeh.


"Kau pasti lelah." kata Rezvan sambil membawa sebotol air minum dan membuka tutup botolnya lalu memberikannya kepada Kirana.


Kirana dengan senang hati menerima pemberian dari Rezvan, wanita itu langsung meneguknya sehingga tersisa setengah botol.


"Disana, apakah kau ingat? kau pernah menceritakanku buku dongeng sehingga aku tertidur pulas." kata Kirana sambil menunjuk kearah bangku panjang.


Rezvan menganggukan kepalanya sambil mengingat beberapa tahun lalu saat dirinya masih kecil.


"Dan juga kau membuatkanku cincin ini." lanjutnya menunjukan cincin yang terbuat dari rumput dan juga ranting.


Rezvan terkekeh memperhatikan cincin itu. "Kau memakainya?" tanyanya.


"Tentu saja, cincin ini sangat lucu sekali."


"Wahhh, apakah sekarang kau sedang menggodaku?" tanya Kirana.


"Tidak, aku serius."


Kirana tersenyum mendengarnya, Rezvan tiba-tiba saja tiduran dengan kepala yang ditumpu di paha Kirana.


Dengan perlahan tangan Kirana bergerak mengelus kepala Rezvan dengan lembut.


"Sangat nyaman." gumam laki-laki itu


"Kau pasti sangat lelah dengan pekerjaanmu." kata Kirana

__ADS_1


"Kau juga, sekarang kau sudah menjadi dokter tugasmu adalah menyelamatkan nyawa pasien." sahut Rezvan dengan mata yang tertutup.


"Tentu saja, bukankah aku hebat?"


Rezvan menganggukan kepalanya. "Tapi apakah Rindu..."


"Kau tidak perlu khawatir, dari awal aku tidak mencintai wanita itu, selama ini aku selalu mencari keberadaanmu." potong Rezvan membuka matanya dan langsung menatap kedua bola mata Kirana.


"Untuk apa kau mencariku?" tanya Kirana.


Rezvan mengubah posisinya menjadi duduk, berhadap-hadapan dengan Kirana.


"Entahlah, sepertinya aku merindukanmu."


"Merindukanku? apakah kau sedang menggodaku atau.."


"Aku serius, Kirana."


"Baiklah anggap saja seperti itu."


"Apakah kau tidak merindukanku?" tanya balik Rezvan.


Kirana terdiam sejenak, mencoba mencari jawaban yang tepat. "Itu, aku..."


Lagi-lagi Kirana dibuat terdiam karena Rezvan yang tiba-tiba saja mencium bibirnya.


Seakan-akan disetrum oleh listrik, tetapi Kirana tidak bisa menghidar dan berbuat apa-apa.

__ADS_1


Wanita itu tidak ingin membohongi hatinya, jelas-jelas jika Kirana menyukainya.


__ADS_2