
Kirana keluar dari kamar operasi, sudah ada kedua orang tua Jian yang menunggunya dari tadi.
"Bagaimana, dokter?" tanya wanita paruh baya dengan raut wajah yang terlihat khawatir.
"Semuanya berjalan dengan baik, Jian akan di bawa ke ruang pemulihan dulu, disana akan ada dokter dan juga perawat yang akan mengawasi perkembangan Jian setelah operasi." jawab Kirana sambil melepaskan masker dan juga sarung tangan sterilnya.
"Terima kasih banyak, dokter." ucap mereka berdua.
"Kalian tidak perlu khawatir, semuanya akan baik-baik saja." kata Kirana sambil menepuk pundak wanita paruh baya itu lalu pergi dari sana.
Meishana langsung menghampiri Kirana, wanita itu mengacungkan jempolnya kearah Kirana.
"Kau hebat sekali, Kirana!"
"Aku sudah tau." imbuh Kirana
"Astaga kau ini. oh iya kau ada kegiatan apa hari ini, apakah kau sibuk?" tanya Meishana.
Kirana meminta ponselnya kepada Meishana lalu mengecek jam di ponselnya.
"Sudah hampir siang, aku akan mengantarkan makanan untuknya." gumam Kirana yang masih bisa di dengar oleh sahabatnya itu.
"Mengantar makanan? untuk siapa?" tanya Meishana membututi Kirana dari belakang.
***
Jam sudah menunjukan pukul 12.08 hari ini Kirana sudah ada di lobby perusahan terkenal yang bernama 'Heroic Group'.
Kirana menghampiri penjaga Resepsionis untuk menanyakan Rezvan.
"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" tanya penjaga resepsionis yang merupakan seorang wanita.
"Aku ingin bertemu dengan Rezvan, apakah dia ada disini?" tanya Kirana.
"Tuan muda Rezvan? dia sedang ada di ruangannya, tapi sebelumnya apakah nona sudah ada janji pertemuan dengan tuan muda?"
Kirana menggelengkan kepalanya, ia tidak tahu jika harus membuat perjanjian terlebih dahulu untuk bertemu dengan kekasihnya itu.
"Tapi, aku-"
"Permisi nona, apakah kau adalah nona Kirana?"
Obrolan Kirana terpotong, wanita itu melihat kearah laki-laki yang sedang menghampirinya. tidak aneh, laki-laki itu menggunakan jas dengan rapih.
Kirana menganggukan kepalanya sambil tersenyum kearah laki-laki tersebut. "Biarkan nona ini masuk, aku mengenalnya." ucap laki-laki itu lalu diangguki oleh penjaga resepsionis.
__ADS_1
Di tempat lain Rezvan masih mengerjakan beberapa dokumen, ia melihat kearah jam dinding.
Rezvan memijat tengkuknya yabg terasa pegal, ia sangat merindukan Kirana, tetapi tidak mungkin baginya untuk meninggalkan pekerjaannya.
Pintu terbuka dari arah luar, seorang wanita yang tidak lain adalah Aleta terlihat memasuki ruangan kerja Rezvan.
Wanita itu tersenyum manis kearahnya sambil membawa secangkir kopi.
"Ini kopi untukmu."
"Maaf Aleta tapi aku tidak suka kopi."
"Ah begitukah? aku tidak mengetahuinya, maafkan aku."
"Tidak apa-apa, aku lebih menyukai coklat panas."
"Baiklah aku akan membuatkannya lagi untukmu."
Saat hendak mengambil cangkir tersebut, secara tidak sengaja cangkir tersebut tumpah sehingga kopi panas itu mengenai jas dan juga kemeja yang dikenakan oleh Rezvan.
"Astaga maafkan aku, Rezvan." ucap Aleta menghampiri kursi Rezvan dan hendak membuka jas yang dikenakan oleh Rezvan.
"Aku tidak apa-apa-"
Pintu tiba-tiba saja terbuka dari luar, Kirana langsung memasuki ruangan Rezvan, tubuhnya membeku saat melihat pemandangan tersebut.
Aleta langsung kembali tegak, wanita itu melihat kearah Kirana yang saat itu masih menatap Rezvan.
"Jika begitu, aku akan menggantikan kopi ini dengan coklat panas, sekali lagi aku benar-benar minta maaf." kata Aleta langsung mengambil cangkir yang sempat tumpah itu lalu pergi dari ruangan Rezvan.
Sedangkan Rezvan menghampiri Kirana, tetapi gadis itu langsung memasang wajah juteknya seolah-olah saat ini dirinya sedang marah.
"Sayang, kenapa kau datang kesini?" tanya Rezvan tersenyum saat melihat kedatangan kekasihnya itu.
"Apakah aku mengganggu kalian?"
Rezvan kebingungan dengan pertanyaan Kirana, wanita itu menyilangkan kedua tangannya lalu melihat kearah jas yang kotor karena ketumpahan kopi tadi.
"Ini, aku akan-"
Kirana membulatkan matanya saat melihat Rezvan membuka jasnya dan akan membuka kancing kemejanya.
"Kau, kau akan melakukan apa?"
"Aku akan membuka kemeja ini, lihatlah ini sangat kotor." jawab Rezvan.
__ADS_1
"Tidak boleh, kau ingin aku melihat kau bertelanjang dada?"
"Baiklah."
Rezvan kembali mengaitkan kancing kemejanya, sementara itu Kirana langsung duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
"Kau membawa apa?" tanya Rezvan karena melihat Kirana membawa rantang makanan.
"Kau membawa makanan untukku?" tanya Rezvan sambil duduk disamling Kirana, tetapi wanita itu masih diam saja.
"Soal tadi, aku minta maaf." ucap Rezvan karena Kirana terus-terusan terdiam.
"Sayang, berbicaralah kepadaku, aku tidak ingin kau terus-terusan mendiamiku seperti ini." kata Rezvan langsung memeluk tubuh wanita itu sambil mengirup aroma yang saat ini dirindukannya.
Kirana kali ini benar-benar luluh karena sikap Rezvan yang seperti anak kecil.
"Seharusnya aku kesal kepadamu, tapi aku tidak bisa." ucap Kirana seraya memanyunkan bibirnya.
Rezvan tersenyum mendengarnya, ia mengecup bibir Kirana sekilas.
"Kau belum makan bukan?" tanya Kirana lalu diangguki oleh Rezvan.
"Aku sengaja datang kesini, karena aku ingin membawakanmu makanan ini." kata Kirana sambil membuka rantang makanannya.
"Aku susah payah datang kesini, karena sebelumnya aku tidak membuat janji pertemuan denganmu"
"Kau di hentikan oleh penjaga resepsionis?"
Kirana mengangguk, "Lalu kenapa kau tidak bilang saja jika kau adalah kekasihku?"
"Tadinya aku akan mengatakannya, tapi tiba-tiba saja ada seorang laki-laki tampan yang membantuku." kata Kirana sambil mengulas senyum dibibirnya.
"Xian? sekretarisku."
"Mungkin iya, karena penampilannya sama sepertimu."
"Tapi aku tidak suka kau mengatakan jika Xian tampan, apalagi dihadapanku." kata Rezvan membuat Kirana menahan senyumnya.
"Baiklah, sudah lupakan. makanlah ini aku sudah memasakan nasi goreng untukmu, maafkan aku karena hanya bisa membawamu ini karena aku tidak pintar memasak."
Rezvan tersenyum lalu menganggukan kepalanya, Kirana langsung mengambil sesendok nasi dan meniupnya secara perlahan karena makanan tersebut masih panas.
Rezvan terdiam melihat perlakuan Kirana yang sangat memperhatikannya, mereka saling pandang sambil tersenyum.
Rezvan membuka mulutnya saat Kirana mulai menyuapinya, sekarang dirinya seperti anak kecil yang disuapi oleh seorang ibu.
__ADS_1
Setelah selesai makan, Kirana langsung bercerita tentang anak kecil yang dioperasinya tadi, Rezvan dengan setia mendengarkannya.
Kadang juga Rezvan bercerita dan tidak lupa laki-laki itu memberitahu pesta yang akan diselenggarakan dalam 4 hari lagi.