Dokter Cantik Milik Tuan Muda

Dokter Cantik Milik Tuan Muda
08


__ADS_3

Suasana kantin hari itu sangat ramai sekali, Meishana memesan nasi goreng kesukaannya di salah satu kantin langganannya.


Kirana melamun memikirkan laki-laki paruh baya tadi yang terus memperhatikannya.


"Aneh sekali."


"Benarkan, pemikiran kita sama." imbuh Meishana.


"Entahlah, aku sangat pusing sekali." kata Kirana sambil beranjak dari tempat duduknya.


"Kau mau kemana?" tanya Meishana.


"Kamar Danial."


Meishana memanyunkan bibirnya. "Aku ingin ikut, tapi sayang sekali nasi goreng yang sudah aku pesan tadi." gumam Meishana menatap kepergian Kirana.


***


Papah Reja, Mami Kala, Reygan dan juga Chalandra sudah berkumpul di meja makan untuk sarapan pagi bersama.


"Kakak kalian kemana?" tanya papah Reja saat menyadari jika Kirana tidak ada disana.


Reygan mengerutkan keningnya. "Reygan gak tau pah, dari pagi kak Kiran juga gak keliatan." jawab Reygan sambil mengunyah makanannya.


"Bener pah, di kamarnya juga gak ada." jawab Chalandra juga


"Mungkin Kirana sudah pergi ke rumah sakit dari pagi." seru mami Kala.


"Nanti aku akan menelpon tuan Kandaga." ucap papah Reja lalu diangguki oleh istri dan kedua anaknya itu.


Tidak biasanya Kirana pergi tanpa berpamitan kepada kedua orang tuanya, maka dari itu papah Reja kebingungan.


Di tempat lain Danial baru saja mendapat panggilan dari papah Reja yang menanyakan putrinya.


"Siapa?" tanya Rezvan.


"Om Reja, dia mencari keberadaan Kirana."


"Ada apa dengan dia?" tanya Rezvan.


"Aaa kau terlihat khawatir sekali." kata Danial dengan sedikit tawa.

__ADS_1


"Aku serius Danial."


"Baiklah, om Reja mengatakan jika Kirana pergi dari rumahnya pada malam hari tanpa berpamitan kepadanya terlebih dahulu, dia menanyakan kepadaku apakah aku bertemu dengannya di rumah sakit atau tidak dan aku jawab tidak."


Rezvan menganggukan kepalanya sambil memakai kemeja putih. "Sepertinya dia sedang ada masalah." gumamnya.


"Sepertinya." imbuh Danial


"Kau mau kemana?" tanya Rezvan begitu melihat Danial turun dari kasurnya.


"Aku akan mencari Kirana."


"Kau masih dalam masa pemulihan."


"Aku baik-baik saja, aku juga sekarang sudah tidak membutuhkan kursi roda."


"Terserah kau saja."


"Jangan bilang kau cemburu kepadaku, karena aku akan pergi menemui Kirana?" tanya Danial dengan blak-blakan.


"Yang benar saja, mana ada aku cemburu."


"Siapa yang melarangmu Danial?"


"Tadi kau melarangku dengan alasan aku masih dalam masa pemulihan."


"Terserah kau saja." ucap Rezvan lalu mengambil jasnya dan langsung pergi dari kamar Danial.


Danial hanya tertawa melihat kelakuan sahabatnya itu. "Ada-ada saja dia."


Danial dengan perlahan berjalan kearah lobby rumah sakit, ia kebingungan mencari ruangan Kirana.


"Permisi, aku ingin menanyakan sesuatu." kata Danial menghentikan seorang dokter yang sedang berjalan di lobby rumah sakit.


"Ada apa tuan?"


"Apakah kau mengetahui ruangan dokter Kirana?" tanya Danial.


"Oh dokter Kirana, dari arah sini kau belok ke kiri saja. ruangannya ada di sebelah ruangan dokter Arthur"


"Arthur? baiklah, terima kasih." ucap Danial lalu berjalan kearah yang diberitahu oleh dokter tadi.

__ADS_1


Setelah menemukannya Danial langsung mengetuk pintu dan langsung mendapat sahutan dari Kirana.


"Masuk."


Danial langsung membuka pintu dan masuk kedalam ruangan Kirana.


"Danial?"


Laki-laki itu tersenyum sambil menutup pintu kembali.


"Ada apa?" tanya Kirana.


"Tidak, aku hanya ingin melihat-lihat ruanganmu saja." jawab Danial sambil melihat sekitar ruangan yang terlihat rapih itu.


"Duduklah." ucap Kirana sambil menunjuk kursi kosong yang ada dihadapannya itu.


Danial pun duduk di depan Kirana, melihat aktivitas Kirana yang sedang membaca berkas-berkas yang diberikan Meishana tadi pagi.


"Oh ya aku ingin menanyakan sesuatu." kata Danial kembali membuka pembicaraan.


"Katakanlah."


"Apakah semalam kau menginap disini?"


Kirana mengalihkan pandangannya untuk menatap Danial, setelah itu menganggukan kepalanya.


"Papahku pasti menelponmu."


Danial terkekeh setelah mendengar perkataan Kirana yang memang benar adanya.


"Dia khawatir kepadamu, katanya kau keluar rumah tanpa berpamitan kepadanya."


Kirana membuang nafasnya sambil menyimpan berkas yang ada di tangannya tadi.


"Apakah kau ada masalah?" tanya Danial sambil memperhatikan wajah perempuan yang ada di hadapannya itu.


Kirana hanya terdiam tidak berniat untuk menjawab pertanyaan Danial saat itu.


"Ck. baiklah jika kau tidak ingin memberitahuku." kata Danial membuang muka.


Kirana masih terdiam dengan pikiran yang kembali berantakan atas obrolan kedua orang tuanya tadi malam.

__ADS_1


__ADS_2