
Satu menit mereka berciuman, Rezvan yang mendengar suara dering ponsel pun tersadar dan langsung memundurkan kepalanya.
Laki-laki itu masih tidak percaya dengan apa yang mereka lakukan, bisa-bisanya juga dia membuka mulutnya agar Kirana dengan leluasa mencicipi bibirnya.
"Gila." umpatnya pada diri sendiri
Rezvan mengambil ponsel yang dari tadi berdering di saku jas nya. Setelah melihat nama siapa yang menelponnya Rezvan langsung mematikan ponselnya begitu saja dan kembali menyimpan ponselnya itu di saku jasnya.
Rezvan kembali melirik kearah Kirana yang sedang tertidur lelap, laki-laki itu menggigit bibirnya merasa prustasi.
***
Rezvan merebahkan tubuh Kirana di kasur yang ada di kamarnya.
Disisi lain mami Kala menangis karena tidak mendapatkan kabar dari anaknya yaitu Kirana.
"Bagaimana?" tanya Naela.
"Aku sudah menelpon Danial, tetapi dia tidak mengetahui keberadaan Kirana." jawab Reja
"Bagaimana dengan Kak Meishana om? bukankah dia temannya kak Kirana?" tanya Januartha yang ikutan khawatir setelah melihat berita yang ada di media sosial.
"Papah sudah menanyakannya juga tetapi dia tidak melihat Kirana sejak siang tadi." jawab Raksa
"Bagaimana dengan Kandaga?" tanya Seyna.
Mahen menggelengkan kepalanya, mereka semua takut jika Kirana melakukan hal yang nekat di luar sana.
"Reygan mau cari kak Kiran pah, Reygan juga gak tenang." imbuhnya sambil memakai jaket dan mengambil kunci motor yang ada di meja.
__ADS_1
"Aku ikut." seru Gala, Januartha, Savian dan Gavin.
Mereka berlima pun langsung pergi untuk mencari Kirana. Disetiap perjalanan Reygan terus memikirkan kakaknya.
Ia merasa masih belum bisa menjadi adik yang baik untuk kakaknya, bahkan saat situasi genting seperti ini dirinya tidak bisa berbuat apa-apa.
"Awas Reygan!" teriak Gavin sehingga membuat Reygan tersadar dan langsung rem mendadak.
Seorang perempuan yang memakai pakaian sekolah lusuh terlihat berjongkok karena ketakutan.
"Nasya!" teriak seorang perempuan yang seumuran dengannya.
Perempuan yang tadi hampir saja ditabrak oleh Reygan langsung berdiri dan berlari menuju perempuan yang tadi berteriak memanggil namanya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Savian.
Reygan menggelengkan kepalanya sambil menghembuskan nafasnya karena terkejut.
"Rumah sakit kak Kiran bekerja."
"Bukankah dia tidak ada disana?" tanya Gavin mengerutkan keningnya.
"Aku ingin mengecek cctv yang ada di rumah sakit itu."
"Ah begitu, baiklah jika begitu."
Setelah beberapa saat berhenti, mereka berlima kembali melajukan kendaraannya masing-masing.
Sesampainya di rumah sakit, Reygan dan keempat sahabatnya itu langsung menghampiri ruang administrasi yang ada di lobby rumah sakit.
__ADS_1
Seorang laki-laki yang menjaga disana terlihat membungkukan badannya kepada Reygan dan juga keempat sahabatnya itu.
"Selamat malam tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya laki-laki itu.
"Saya ingin mengecek cctv yang ada di lobby rumah sakit ini." jawab Reygan.
"Cctv? maaf tuan untuk apa?"
"Kami sedang mencari keberadaan kak Kirana yang bekerja di rumah sakit ini, dia menghilang sejak kemarin malam." jawab Gala
"Dokter Kirana? pagi tadi saya bertemu dengannya tetapi setelah itu saya tidak melihatnya lagi."
"Maka dari itu aku ingin melihat rekaman cctv disini."
"Sepertinya itu tidak bisa tuan, karena..."
"Ayolah, hanya beberapa menit saja. aku sangat membutuhkannya." potong Reygan memohon-mohon kepada laki-laki itu.
"Ada apa?" tanya seorang laki-laki paruh baya yang tidak lain adalah tuan Kandaga.
"Begini tuan, mereka ingin melihat cctv yang ada di lobby rumah sakit ini untuk mencari keberadaan dokter Kirana." jawab laki-laki itu sambil terbata-bata.
Meishana yang ada di belakang tuan Kandaga terkejut mendengarnya.
"Bagaimana ini." gumamnya dalam hati.
"Kirana? baiklah izinkan dia untuk melihatnya. aku mengenal mereka semua." jawab tuan Kandaga
"Baik tuan."
__ADS_1
Reygan lega setelah mendapatkan izin untuk melihat rekaman cctv yang ada di lobby rumah sakit itu dengan segera mereka pergi ke ruangan cctv.