
Kirana keluar dari kamar mandi setelah memuntahkan isi perutnya, gadis itu masih merasakan pusing setelah menghabiskan tiga botol alkohol milik Meishana.
"Kau baik-baik saja?" tanya Rezvan menunggunya dari tadi di depan kamar mandi.
"Astaga, kau mengagetkan ku saja."
"Kau baik-baik saja?" Rezvan mengulang kembali pertanyaannya.
"Iya, aku baik-baik saja. tapi, ada dimana aku?" tanya Kirana sambil melihat kesekitar.
"Apartemenku."
Kirana membulatkan matanya saat mendengar jawaban dari mulut Rezvan.
"Kenapa aku bisa ada di apartemenmu?"
"Saat kau masih mabuk, kau mengatakan sendiri jika tidak ingin pulang ke rumahmu, maka dari itu aku membawamu ke Apartemenku."
"Tapi aku tidak mengatakan dan melakukan hal yang aneh-aneh bukan?" tanya Kirana.
Dulu juga dirinya pernah mabuk separah itu karena atasannya yang selalu memarahinya, tanpa ia sadar Kirana kembali memarahi atasannya itu dan membuat keributan di rumah sakit, itu kejadian yang sangat memalukan dalam hidupnya.
Rezvan kembali mengingat kejadian yang baru saja ia alami di parkiran rumah sakit, dan perkataan Kirana yang mengatakan jika dirinya masih terlihat tampan seperti dulu.
"Tidak ada." ucap Rezvan sambil menggelengkan kepalanya.
Kirana merasa lega mendengarnya gadis itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena merasa canggung.
"Aku sudah memasak sup untukmu, makanlah setidaknya rasa pusingmu akan hilang."
__ADS_1
"Tapi apakah kau bisa meminjamiku baju, oh ya apakah kau menyimpan pembalut?" tanya Kirana merasa malu telah menanyakannya.
"Pembalut?"
Kirana menganggukan kepalanya. "Aku seorang laki-laki, mana mungkin menyimpan benda seperti itu."
"Tapi bagaimana jika tidak ada pembalut, kau mau jika kasurmu nanti..."
"Baiklah-baiklah, aku akan membelikannya. kau tunggu disini."
"Baju?"
Rezvan menghelakan nafasnya lalu berjalan kearah lemari untuk mencari kaos.
Akhirnya Rezvan memberikan kaos oversize bewarna abu-abu kepada Kirana.
"Terima kasih." ucapnya sambil tersenyum.
"He'em."
Rezvan pun mengambil kunci mobil dan langsung berangkat menuju supermarket untuk membelikan pembalut yang diminta oleh Kirana.
Sedangkan Kirana menggigit bibir bawahnya setelah menahan malu. "Maafkan aku, itu pasti akan membuatmu malu." gumamnya sambil memperhatikan kepergian Rezvan.
"Tapi, dia masih terlihat baik dan tampan seperti dulu." lanjutnya sambil tersenyum.
"Tunggu-tunggu, kenapa aku merasa jika aku pernah berbicara seperti itu?"
"Entahlah, lupakan!"
__ADS_1
***
Reygan mengerutkan keningnya saat melihat rekaman cctv yang menampilkan kakaknya tengah di gendong oleh seorang laki-laki yang tidak ia kenal.
"Apakah itu pacar kak Kirana?" tanya Januartha.
Reygan menggelengkan kepalanya. "Tidak, kak Kiran tidak memiliki pacar." jawabnya
"Lalu siapa dia?" tanya Savian.
Gavin dan Gala, adik kakak itu saling menatap satu sama lain dan menggelengkan kepalanya.
Meishana yang ada di sana diam-diam untuk pergi meninggalkan ruangan cctv, tetapi dengan cepat Januartha menarik tangannya.
"Kak Meishana, katakan dimana kak Kirana?" tanya Januartha.
"Aku tidak tahu."
"Lihatlah rekaman cctv itu, jelas-jelas kakak ada disana bersama dua orang pria itu." imbuh Savian.
"Apa jangan-jangan..."
"Kau, diam ya!" potong Meishana sambil melototkan matanya kepada Gala.
"Aku memang ada disana, tapi..."
"Aku tidak bisa menjelaskannya, kalian ikutlah bersamaku untuk menemui salah satu laki-laki yang ada disana."
"Dia bekerja disini?" tanya Gavin.
__ADS_1
"Tidak, tetapi dia pasien disini. apakah kau buta jelas-jelas dia memakai pakaian pasien!" kata Meishana membentak.
Gala dan juga Savian menahan tawa setelah melihat Gavin di bentak oleh teman dari Kirana.