
Rezvan mengambil ponsel yang ada di saku celananya lalu memberikannya kepada Kirana.
"Aku ingin nomor teleponmu." kata Rezvan berusaha untuk tidak gugup.
Kirana mengambil ponsel laki-laki itu dan langsung memasukan nomor teleponnya.
"Sudah, j-jika begitu aku harus kembali bekerja."
Rezvan kembali menjaga jarak. "Kau akan melakukan operasi?" tanya Rezvan.
"Tidak, aku akan pergi ke kamar Danial karena hari ini dia sudah di perbolehkan untuk pulang." jawab Kirana sambil memakai kembali jas putihnya yang sempat ia lepaskan tadi.
"Aku juga akan pergi ke sana, bagaimana jika kita pergi bersama?"
"Hah? oh baiklah."
Jujur saat ini Kirana sangat gugup sekali, ia berusaha untuk bersikap seperti biasa saja.
Di lobby rumah sakit, semua mata tertuju kearah Kirana dan juga Rezvan.
Tak terkecuali Athur yang saat itu sedang membicarakan tentang hasil laporan operasi bersama Meishana di lobby.
"Mereka berdua sangat cocok sekali." kata Meishana.
Arthur terdiam, bayangan saat Kirana memeluknya kembali terlintas di dalam otaknya.
"Benar bukan?" tanya Meishana.
"Bagaimana?" tanya Arthur kembali.
__ADS_1
"Astaga, tadi aku bilang Kirana dan Rezvan sangat cocok sekali."
"Ohh." Arthur mengalihkan pandangannya, kembali fokus kepada laporan operasinya.
"Ckck, laki-laki ini."
***
Kirana masuk kedalam kamar Danial, disana laki-laki itu sedang bermain game di ponselnya.
Saat menyadari kedatangan Kirana dengan segera Danial menyimpan kembali ponselnya dan turun dari kasur untuk menghampiri Kirana.
"Kirana, apakah kau baik-baik saja? Apakah kau tidak terluka?" tanya Danial.
"Aku baik-baik saja, hari ini aku akan memeriksa kesehatanmu karena kau di perbolehkan untuk pulang hari ini"
"Kenapa, kau tidak ingin pulang sekarang?"
"Jika aku pulang, aku tidak akan bertemu denganmu lagi." kata Danial sambil memanyunkan bibirnya seperti anak kecil.
Kirana terkekeh, ia tidak percaya dengan perkataan laki-laki yang ada dihadapannya itu.
Danial kembali bersikap seperti biasa saat melihat Rezvan sedang menatapnya dengan wajah yang datar.
Laki-laki itu tersenyum saat menyadari sesuatu. "Aku tahu pasti mereka berdua sudah berpacaran." gumamnya dalam hati.
"Kembalilah ke kasurmu, aku akan memeriksamu sekarang."
"Baik, Kirana."
__ADS_1
Danial kembali duduk di kasurnya dan memperhatikan Kirana yang saat itu sedang mengeluarkan alat-alat seperti tensi darah dan juga gula darah.
Selama pemeriksaan Danial selalu memperhatikan Rezvan yang saat itu hanya terdiam sambil melihat aktivitas Kirana.
"Kenapa kau tidak pergi bekerja?" tanya Danial.
"Aku bekerja disini, kau tidak melihat ada banyak sekali proposal yang berserakan di meja?"
Danial hanya mengganggukan kepalanya, ia menahan tawa dengan sikap Rezvan yang tiba-tiba sangat sensitive.
"Semuanya sudah normal, dan juga untuk pemeriksaan labolatorium kau bisa membawanya nanti."
"Baiklah, aku tidak sabar untuk pulang. apakah kau tahu? makanan di rumah sakit ini sangat hambar." bisik Danial sambil terkekeh.
Kirana hanya tersenyum mendengar perkataan Danial. "Jika begitu aku akan kembali ke ruanganku lagi, walaupun sudah sembuh kau harus tetap menjaga kesehatanmu mengerti?"
"Baik, bu dokter." kata Danial
Kirana beranjak berdiri saat membalikan badan ia bisa melihat Rezvan sedang duduk di sofa sambil berfokus kepada layar laptop.
Kirana menghela nafas lalu menghampiri Rezvan dengan perasaan yang kembali gugup.
"A-aku harus kembali, pekerjaanku sudah selesai." kata Kirana
"Sial, kenapa aku harus berpamitan kepadanya." gumam wanita itu dalam hati.
Rezvan hanya membalasnya dengan sebuah anggukan tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.
Kirana pun langsung keluar dari kamar VIP itu, sedangkan Danial hanya bisa tertawa kecil saja setelah melihat interaksi yang sangat kaku antara sahabat dan juga wanita yang ia kenal itu.
__ADS_1