Dokter Cantik Milik Tuan Muda

Dokter Cantik Milik Tuan Muda
35


__ADS_3

"Dokter cantik!"


Jian tersenyum saat melihat kehadiran Kirana, wanita itu membawa paper bag dan langsung memberikannya kepada Jian.


"Apa ini dokter cantik?" tanya Jian dengan wajah polosnya.


"Itu hadiah buat Jian." jawab Kirana sambil mengusap kepala anak kecil itu.


"Makasih, dokter cantik!"


"Sama-sama sayang."


"Oh iya apakah Jian sudah melakukan pemeriksaan?" tanya Kirana.


"Sudah, tadi ada seorang dokter dan juga beberapa perawat yang datang kesini untuk memeriksa Jian." jawab Sandra.


"Jian jangan lupa minum obatnya ya, dokter tidak bisa lama-lama disini jadi dokter mau pamit."


Jian menganggukan kepalanya. "Terima kasih sudah memberi Jian mainan ini, dokter cantik." ucap anak kecil itu dengan senyuman manisnya.


Meishana dan Kirana berjalan di lorong rumah sakit setelah menjenguk Jian di kamarnya.


"Kau lihat bukan, Jian sangat lucu sekali." ucap Meishana


"Oh ya, bagaimana keadaan Danial ya?"


"Apakah dia meminum obat dengan teratur atau tidak."


Meishana menundukan kepalanya, Kirana yang melihatnya mencoba menghibur sahabatnya itu.


"Dia pasti baik-baik saja, apakah kau ingin bertemu dengannya?"


Meishana menggelengkan kepalanya dengan lesu. "Dia juga tidak pasti tidak akan mengenalku." ucapnya tidak bersemangat.

__ADS_1


"Jika kau memang suka seharusnya kau kejar dia."


"Memang, tapi-"


Meishana menghentikan ucapannya saat melihat keributan, mereka berdua saling pandang setelah itu langsung menghampiri keributan tersebut.


"Ada apa ini?" tanya Kirana.


"Anak pengantar makanan ini lama sekali mengantar makanan yang aku pesan, hampir setengah jam aku menunggu."


"Maafkan saya nyonya, ban motor saya tiba-tiba saja bocor dan terpaksa saya harus mencari tambal ban." ucap seorang gadis yang menurut Kirana adalah seusia kedua adiknya.


"Kau pandai sekali mencari alasan ya, aku sudah menahan lapar dari tadi!"


Kirana terus memperhatikan gadis itu yang dari tadi meminta maaf. "Nyonya, gadis ini sudah meminta maaf lebih baik kau maafkan saja, bukankah alasannya sudah sangat jelas? mohon jangan membuat keributan di rumah sakit." kata Kirana mencoba menenangkan wanita paruh baya yang dari tadi membuat keributan.


"Baiklah aku maafkan, lain kali jangan pernah membuat orang menunggu." kata wanita paruh baya itu langsung mengambil makanan yang di pesannya tadi.


"Sudah tidak apa-apa." kata Kirana sambil tersenyum.


"Ah terima kasih juga karena sudah membela saya tadi."


Kirana menganggukan kepalanya. "Sepertinya kau masih sekolah? siapa namamu?" tanya Kirana sambil memencet tombol lift.


"Iya saya masih sekolah, nama saya Nasya." jawab gadis itu


"Pantas saja, apakah kau biasa mengantarkan makanan kesini?"


Seorang gadis yang bernama Nasya itu menganggukan kepalanya. "Para dokter disini selalu memesan makanan ke tempat aku bekerja." jawabnya dengan senyuman yang tidak pudar.


"Benar aku sering melihatmu." saut Meishana.


Pintu lift terbuka Kirana mempersilahkan gadis itu untuk masuk kedalam lift lalu disusul olehnya dan juga Meishana.

__ADS_1


Pintu lift kembali terbuka saat dilantai satu, mereka bertiga keluar bersama-sama dari dalam lift, gadis tadi membungkukan badan lalu berpamitan kepada Kirana dan juga Meishana.


"Anak seusia itu harus mencari pekerjaan, aku sangat kasihan sekali kepadanya." kata Meishana sambil memperhatikan kepergian gadis tadi.


Kirana menganggukan kepalanya menyetujui ucapan sahabatnya itu.


***


Jam sudah menunjukan pukul lima sore, Kirana sedang bermalas-malasan di ruangannya, disana juga ada Vano dan juga Meishana.


Deringan ponsel membuat Kirana langsung segera mengangkat panggilan masuk tersebut.


"Hallo?"


"Apakah kau ada di tempatku bekerja? kau mau mengajakku kemana?"


"Baiklah aku akan segera kesana."


Saat panggilan itu di matikan Kirana langsung mencari lipstik di dalam lacinya lalu mengoleskannya di bibir.


Meishana dan Vano yang melihatnya hanya bisa terdiam tidak mengetahui apa-apa.


"Bagaimana penampilanku?" tanya Kirana kepada mereka berdua.


"Sudah bagus." jawab Vano


"Kenapa kau berdandan? apakah kau akan pergi berkencan?" tanya Meishana.


Kirana tersenyum sambil menutup wajahnya menggunakan telapak tangannya hal itu membuat Meishana dan juga Vano bertanya-tanya.


"Astaga ada apa dengan dia?"


"Jika sudah jatuh cinta, memang seperti ini." kata Meishana sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2