
Rubi diliputi rasa cemas, khawatir, ketakutan, keraguan, kebimbangan dalam saat yang bersamaan. Hingga pintu itu terbuka lebar dari luar yang mampu membuyarkan lamunannya. Kedua bola matanya terbelalak saat melihat siapa pria yang masuk ke dalam kamar itu.
Berselang beberapa menit kemudian, Afrizal sudah berhasil berada di dalam kamar yang ditempati oleh Rubi.
"Assalamualaikum Rubi cantik!" Sapanya Afrizal dengan senyuman penuh menggoda.
"Kak Afrizal!" Beo Rubi dengan raut wajahnya antara bingung, keheranan dan sedikit lega karena ternyata orang yang masuk ke dalam kamar tempat dia disekap adalah kakak seniornya yang bergabung di BEM Fakultas Ekonomi.
"Apa kamu sudah lama menungguku?" Tanyanya Afrizal yang berjalan mendekati Rubi yang terdiam tanpa bisa bergerak leluasa karena kedua kaki dan tangannya terikat dengan tali yang cukup kuat.
"Heeuummm!" Ucapnya Rubi yang mulutnya tertutup menggunakan lapban.
"Tenanglah! aku memang datang ke sini untuk menolongmu cantik!" Imbuhnya Afrizal Prayoga Yudistira yang semakin menampilkan raut wajah seperti seseorang yang sudah minum obat yang aneh dicampur dengan minuman beralkohol.
"Ya Allah… kenapa sorot matanya Kak Afrizal seperti seorang yang menyimpan sesuatu yang tidak baik dan aneh, apa hanya feelingku saja yang seperti itu," batinnya Rubi.
Afrizal memakai topeng merah kembali di wajahnya yang sempat ia pakai sebelum masuk ke dalam ruangan kamar itu. Tubuhnya Rubi beringsut mundur karena merasakan ada sinyal aneh dan bau alkohol dari tubuhnya Afrizal yang sangat menyengat ke rongga hidungnya.
"Kenapa kamu mundur cantik, kamu tidak akan perlu takut karena aku akan melepaskan tali yang ada di tubuhmu itu setelah itu kita tunggu obatnya bereaksi di dalam tubuhku kemudian kita nikmatin malam indah ini hanya berdua saja," jelasnya Afrizal yang membuat Rubi melototkan matanya dan semakin membuatnya ketakutan hingga peluh keringat bercucuran membasahi sekujur tubuhnya.
Awalnya ia merasakan sedikit rasa lega karena menurutnya Afrizal datang sebagai pria yang akan menolongnya tapi, ternyata berniat jahat padanya.
__ADS_1
"Ummm, heumm!" Ujarnya Rubi yang seperti orang yang gagu saja ketika berbicara.
Tubuhnya semakin gemetaran karena ketakutan, mulutnya sudah komat kamit meminta maaf dan sekaligus meminta tolong.
"Ya Allah… maafkanlah hambaMu ini dan selamatkan lah aku dari semua orang yang berniat jahat padaku," Rubi membatin seraya semakin berusaha menjauhkan tubuhnya dari Afrizal yang sudah merangkak di atas ranjang.
"Sabar sayang, aku akan membuka ikatannya agar kita bebas melakukan apapun yang kita inginkan khususnya malam ini," tuturnya Afrizal yang sudah berkabut gairah.
"Ummm!! To-long le-pas-kan a-ku ka-kak," ratapnya Rubi yang semakin merasakan kesakitan dibagian kaki, mulut dan tangannya.
Afrizal segera membuka penutup mulutnya Rubi yang sedari tadi menyumbat bibirnya Rubi.
"Gini kan bagus, anak buah bodoh bibir seksinya kekasihku kenapa dibuat merah seperti ini, kasihan sekali gadisku disiksa seperti ini," ungkapnya Afrizal yang semakin mengacau dalam berbicara.
Afrizal tersenyum licik kearahnya Rubi yang sudah merasakan ada keanehan dalam tubuhnya.
"Ya Allah… kenapa tubuhku kepanasan, tubuhku semakin mengeluarkan peluh keringatnya, tubuhku kenapa semakin panas dan menginginkan sesuatu yang sama sekali tidak aku ketahui, apa yang terjadi padaku ya Allah…" Lirihnya Rubi yang menggeliat di atas ranjang.
Ha-ha-ha," akhirnya obat itu sudah bereaksi ini lah saat yang aku tunggu sedari tadi dan paling tepat untuk melakukannya," umpatnya Afrizal yang tertawa terbahak-bahak.
"Aahh!! To-long le-pas-kan aku jangan sakiti aku," wajahnya Rubi semakin memelas.
__ADS_1
Afrizal segera menarik hijabnya Rubi secara perlahan, sedang Rubi yang diperlakukan seperti itu tidak bisa menolak dan hanya melawan sebisanya saja. Afrizal membuka semua tali pengikat yang ada di tubuhnya Rubi yang sesekali mengelus bagian tubuhnya Rubi.
"Ya Allah bantulah aku untuk melawan rasa ini agar aku bisa lolos dari tempat terkutuk ini, aku tidak boleh kalah dari rasa ini," lirih nya Rubi.
Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya terhadap First Love Rubi Salman dengan caranya:
Like Setiap babnya, Rate bintang lima, Favoritkan agar tetap mendapatkan notifikasi, Bagi gift poin atau koinnya dan klik iklannya juga yah kakak readers...
Mampir juga dinovel aku yang lain:
Merebut Hati Mantan Istri.
Duren, i love you
Bukan Yang Pertama
Cinta Pertama
__ADS_1
Makasih banyak all readers… I love you all..
by Fania Mikaila Azzahrah