
"Aku berharap kepadaMu ya Allah semoga adikku baik-baik saja dan feelingku yang tidak baik itu tidak jadi kenyataan," Gumamnya Fariz sembari membuka lemari pakaiannya lalu mengambil baju dengan celana secara acak dan sembarang saja.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah berada di jalan raya protokol ibu kota Jakarta. Mobil mereka sempat mengalami kemacetan yang cukup panjang. Untungnya Rubi masih sanggup untuk menahan gejolak dari dalam perutnya yang ingin memuntahkan apa yang masih terdapat di dalam lambungnya itu.
Bu Inggrid duduk di depan teras rumahnya," ya Allah… kenapa perasaanku entah kenapa memikirkan hal yang tidak baik, sejujurnya aku sangat takut ya Allah mengenai kesehatannya putriku,"batinnya Bu Humairah.
Fariz yang mengganti pakaiannya secara asal sudah berdiri di belakang bundanya," ayo Bunda kita naik, sini aku bantuin memapah Rubi, Bunda masuk saja di atas mobil," pintanya Fariz seraya membukakan pintu mobil untuk Bunda dan adiknya.
Tapi baru saja mendudukkan bokongnya ke atas jok mobil baru sepersekian detik, seseorang berseru kepada mereka bertiga.
"Kalian mau ke mana, sepertinya terburu-buru sekali? Tanyanya Bu Salamah yang menelisik memandangi satu persatu keluarganya itu.
Bu Inggrid baru saja ingin menjawab pertanyaan dari adik iparnya itu, Fariz secepatnya menjawab pertanyaan dari tantenya.
Fariz menatap jengah ke arah bibinya itu."Kenapa emang Tante, apa mau ikut gabung dengan kami?" Tanyanya Fariz Elrumi Aziz yang sebenarnya sangat tidak ingin bertatap muka langsung dengan adik dari ayahnya.
__ADS_1
"Kalau bisa dan aku dibolehkan aku ikut bersama kalian, karena aku yakin kalian akan pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisi kesehatannya Rubi kan!" Tebaknya Bu Salamah yang sedari tadi memperhatikan raut wajah dari Rubi yang tampak sangat pucat pasi itu serta keringatnya yang bercucuran membasahi pipinya Rubi tak luput dari pengamatannya.
"Maaf sepertinya kehadiran Tante untuk saat ini kami tidak butuhkan,kalau kami perlu bantuan Tante, insya Allah kami akan hubungi Tante, assalamualaikum," ketusnya Fariz sambil segera mengemudikan mobilnya meninggalkan Salamah yang berdiri mematung dengan mimik wajahnya yang menahan rasa jengkelnya.
"Awas kalian yah! Aku akan segera mencari tahu apa yang sedang kalian sembunyikan dan saat itu aku akan menghancurkan kalian seperti kertas yang sedang aku pegang ini," umpatnya Bu Salamah yang masih berdiri sambil menghentakkan kakinya hingga berbunyi nyaring.
"Bu Salamah, mungkin sebaiknya tamu yang datang ke rumah seseorang tanpa diundang segera angkat kaki dari sini! Lagian tidak etis juga kalau ibu masih di sini sedangkan yang punya rumah sudah pergi!" Sarkasnya Mang Joni security sekaligus tukang kebun yang bekerja di rumahnya Rubi.
Ibu Humaira sama sekali tidak ingin menggubris sebenarnya perkataannya dari adik iparnya itu tapi, ia sedikit tertolong dengan bantuan dari anak sulungnya yang secepatnya membalas rasa kepo yang berujung bisa menimbulkan fitnah dan gosip yang menyebar.
Berselang beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di tempat parkiran khusus mobil di salah satu rumah sakit swasta. Tapi baru beberapa langkah kakinya mereka melangkah, Rubi langsung tumbang pingsan di samping bundanya disaat mereka baru beberapa meter dari tempat area parkiran mobil.
Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya terhadap First Love Rubi Salman dengan caranya:
Like Setiap babnya, Rate bintang lima, Favoritkan agar tetap mendapatkan notifikasi, Bagi gift poin atau koinnya dan klik iklannya juga yah kakak readers...
__ADS_1
Mampir juga dinovel aku yang lain:
Merebut Hati Mantan Istri.
Duren, i love you
Bukan Yang Pertama
Cinta Pertama
Makasih banyak all readers… I love you all..
__ADS_1
by Fania Mikaila Azzahrah
Takalar, Selasa, 2November 2022