First Love Rubi Salman

First Love Rubi Salman
Bab. 41


__ADS_3

"Saya adalah teman kuliah sekaligus teman SMA-nya juga kakakmu Faris Al-Ghazali," balasnya pria itu yang bersikukuh dan ngotot ingin mengantar Rubi hingga ke kampusnya.


Andaikan pria itu tidak mengatakan kepada Rubi Aliya bahwa dia adalah teman dari kakaknya itu maka Rubi tidak akan setuju untuk diantar oleh pria asing yang sama sekali tidak dikenalnya itu.


Awalnya Rubi ingin duduk dy kursi jok belakang, tapi segera dicegah oleh pria itu.


"Maaf saya bukan supir taksi online jadi saya harap kamu bisa duduk di depan bersamaku," perintahnya pria itu.


Rubi pun dengan tepaksa duduk di jok depan mobil yang katanya temannya Fariz.


"Ternyata kamu adalah adiknya Fariz gadis remaja yang dulu aku renggut paksa kehormatannya, aku masih sangat jelas mengenal adiknya Fariz, tapi aku perhatikan dari balik pakaian sar'inya aku sudah perhatikan dengan seksama jika dia hamil,apa jangan-jangan dia sudah menikah dengan pria lain, berarti itu adalah calon anak suaminya, andaikan dia hamil calon bayi kami aku pasti sangat gembira dan tidak perlu alasan untuk secepatnya meminangnya,"


Diam-diam Rubi memperhatikan wajah pria itu terutama kelopak dan iris matanya, "Ya Allah kenapa aku merasa pria ini begitu familiar, tapi aku kenalnya dimana dan siapa dia sebenarnya?"


Berselang beberapa menit kemudian, Rubi sudah sampai di kampus tempat ia menimba ilmu yang hanya tersisa setahun sudah bergelar sarjana itu.


"Aku perhatikan dia berjalan seorang diri dan ketika berpapasan dengan beberapa anak mahasiswa Rubi sama sekali tidak menggubris perkataan dan godaan dari beberapa pemuda yang melihatnya.


"Aku cukup penasaran dia sekarang tinggal dimana, suaminya siapa dan juga Fariz, apa dia masih merindukan dan mencintai adikku yang baru saja bebas dari dalam rumah sakit jiwa?"

__ADS_1


Hari-hari terus berlalu tanpa disadari sudah setahun lebih mereka saling kenal dan terkadang berkomunikasi satu sama lainnya walau hanya sekedar bertanya saja kabar masing-masing.


Salman Alfarisi Sayed adalah namanya pria yang dulu merenggut paksa kehormatannya itu karena ingin balas dendam kepada Fariz sang kakak kandungnya Rubi atas penolakannya terhadap Rianti yang waktu itu ditolak cintanya oleh Fariz sehingga membuatnya harus dirawat di rumah sakit jiwa selama bertahun-tahun lamanya.


"Mas Salman apa hari ini saya boleh keluar rumah hanya untuk melihat daerah sini saja," pintanya Rindi Arsita yang sudah dinyatakan sembuh total dari penyakitnya itu.


Salman menatap intens ke arah adiknya yang sudah merengek meminta untuk diijinkan untuk kali ini.


"Saya mohon dengan sangat cuma jalan-jalan ke taman kebetulan aku lihat ada taman sekitar sini," pintanya Rindi agar segera diijinkan untuk pergi.


Salman melirik sekilas ke arah mamanya Bu Atikah meminta persetujuan dari ibunya itu.


Berselang beberapa menit kemudian, Rindi sudah berada di sekitar taman. Ia duduk sambil memperhatikan sekitarnya hingga tanpa sadar melihat seorang perempuan lebih muda usianya dari dirinya mendorong troler bayi.


Rindi Arsita tersenyum melihat perempuan itu yang memakai hijab dengan telaten menggendong bayi mungil berjenis kelamin laki-laki itu. Hingga langkah kakinya menuntunnya berjalan perlahan ke arah perempuan itu.


"Hey jagoan kecil lagi ngapain sayang?" Sapanya Rindiani.


Perempuan itu langsung menolehkan kepalanya ke arah Rindi yang sedang membantu anaknya menyusui lewat botol dot tersebut yang berwarna biru seperti dengan warna stroller bayi nya.

__ADS_1


"Lagi minum asi Tante cantik, kalau Tante cantik lagi ngapai" tanyanya balik ibu dari anak itu.


"Aku hanya mencari udara segar sudah hampir enam bulan tinggal di sekitar sini tapi, hari ini baru bisa melihat-lihat sekitar, oiya nama kamu siapa dan tinggalnya di sekitar sini yah?" Tanyanya Rindi.


"Namaku Rubi Aliya tunggalnya juga di sekitar di blok c, kalau Mbak siapa dan diblok mana tinggalnya?" Tanyanya balik Rubi.


"Saya blok C juga nomor dua puluh satu," ujarnya Rindi.


"Berarti kita tetanggaan dong mbak cantik," ucapnya penuh bahagia.


"Jagoan kecilnya Bunda sudah ngantuk rupanya, bagaimana kalau kita pulang, besok kita jalan-jalan lagi bersama dengan Tante cantik lagi, Nizam senangkan bertemu dengan Tante Rindi," Rubi mengajak putranya itu berbicara.


"Gimana kalau baliknya barengan saja, supaya aku bisa lihat rumah kamu dimana, karena aku gembira banget bisa kenal denganmu Rubi," jelasnya Rindi.


Keduanya pun berjalan ke arah pulang ke rumah mereka masing-masing yang ternyata searah. Keduanya pun berbincang-bincang santai sambil menikmati pemandangan yang mereka lewati.


Hingga suara seseorang mampu mengusik perbincangan keduanya,"Rubi!" Teriak seorang pria yang berseragam polisi yang baru saja turun dari mobilnya itu.


Keduanya langsung menolehkan kepalanya ke arah sumber suara dan betapa terkejutnya Rindi melihat siapa polisi itu. Saking terkejutnya melihat siapa pria itu sampai-sampai ia terjatuh dan tidak sadarkan diri.

__ADS_1


"Mbak Rindi!" Teriaknya Rubi yang melepaskan genggaman tangannya di gagang stroller putranya itu.


__ADS_2