First Love Rubi Salman

First Love Rubi Salman
Bab. 24


__ADS_3

"Ya Allah… apa yang terjadi padaku ini?" Lirihnya Rubi lalu berdiri meninggalkan meja dan sofa yang ada di dalam kamarnya yang berjalan tertatih karena kepalanya yang masih pusing.


Tapi, tanpa sengaja tangannya menyenggol kalender yang ada di atas meja. Dia segera menundukkan tubuhnya lalu memungut benda tersebut. Ia memeriksa kalender tersebut dan matanya melotot saking kagetnya melihat tanggal yang dia warnai dan lingkari.


Rubi menutup mulutnya saking tidak percayanya," ya Allah… ternyata aku sudah lebih dua bulan belum datang bulan," gumamnya Rubi.


"Tapi, apa yang dikatakan oleh Bu Salamah benar juga sih, anak gadis yang tiba-tiba kepengen makan rujak buah itu bisa dipertanyakan kecuali anaknya emang dari dulu suka dan doyan makan buah-buahan yang asem itu hal wajar tapi, setahu saya Rubi itu malas bahkan tidak menyukai buah yang masam," ujarnya Bu Sita.


"Ibu Sita selalu tahu apa yang terjadi pada semua anggota masyarakat yang tinggal di lingkungan kita ini, kalau menurut saya itu sah-sah saja orang mau makan apa haknya mereka, kenapa kita yang repot harus memikirkan itu semua," sarkasnya Bu Ria yang mengambil bungkusan belanjaannya.


Mang Udin hanya tersenyum menanggapi perkataan dari Bu Ria," makanya Bu Sita kalau bicara itu dipikir-pikir sebelum dikeluarkan, apa yang dikatakan oleh Bu Ria benar adanya jadi kalau menurut aku yah ibu-ibu jangan terlalu mencampuri urusan orang lain selama orang itu tidak menganggu hidup Anda kenapa harus buang-buang waktu urusin penyakitnya orang lagian menurut aku itu tidak penting dan tidak ada gunanya malahan akan membuat pundi-pundi dosa bertambah," jelasnya Mang Udin.


Beberapa ibu-ibu yang hadir ditempat itu tersenyum dan ada yang tertawa cengengesan dan terbahak-bahak menanggapi perkataan dari Mang Udin.


"Mang sepertinya mamang ini cocok jadi ustadz saja bukan penjual buah dan sayur," gurau Bu Dina.


Semua perkataan dari para emak-emak rempong tetangganya itu masih mampu di dengar oleh Bu Humairah karena memang tempat mereka dengan rumahnya cukup dekat jaraknya.


"Ya Allah… sabarkanlah hatiku dan semoga saja putriku tidak memiliki penyakit yang berbahaya, tapi sepertinya aku harus membawa anakku ke dokter untuk memeriksakan kesehatannya," batinnya Bu Humairah.

__ADS_1


Bu Humairah segera mengolah bahan-bahan buah-buahan dan sayuran yang akan Ia buat menjadi rujak ulek untuk anaknya. Dengan telaten dan penuh kasih sayang ia membuat bumbu rujak tersebut. Hanya butuh waktu beberapa menit saja semuanya sudah siap.


Sedang di dalam kamarnya Rubi, ia dibuat shock melihat kalender jika ia belum haid hampir dua bulan lebih.


"Ya Allah… apa gara-gara aku sakit makanya tamu bulananku juga terlambat," cicitnya Rubi.


Bu Humairah tidak ingin mengambil hati dari perkataan ibu-ibu yang kebetulan berbelanja sayuran dan buah-buahan bersamanya. Ia sangat percaya dengan anaknya jika Rubi tidak mungkin melakukan hal yang tidak pantas di luar sana. Bergaul dan berhubungan langsung dengan seorang anak muda ia sangat batasi apa lagi untuk berbuat yang tidak-tidak.


Selama ini Rubi menjaga jarak berinteraksi terlalu dekat dengan seorang pria, walaupun ia aktif dalam berorganisasi tapi Rubi sangat tahu cara membatasi dirinya jika harus dan diwajibkan berkomunikasi langsung dengan jarak dekat bersama seorang laki-laki.


"Aku hanya berharap semoga anakku tidak mengidap penyakit yang berbahaya," batinnya Bu Humairah seraya membawa nampan yang berisi dua piring buah-buahan dan sayuran yang sudah diolahnya menjadi rujak dan juga bumbu kacang sesuai permintaan dari Rubi.


"Ini tidak mungkin!! Pasti aku tidak hamil! Aku tidak pernah sekalipun berhubungan dengan pria jadi pasti aku tidak hamil, mungkin aku hanya kelelahan atau pun ada masalah dalam rahimku," ucapnya yang langsung didengar oleh Bu Humairah yang kebetulan membuka pintu kamarnya Rubi.


"Ya Allah… apa aku tidak salah dengar! Putriku saja meragukan kondisi kesehatannya dan katanya belum haid sudah dua bulan lebih! Kalau seperti ini aku harus segera memeriksakan kondisinya anakku aku tidak mau terjadi sesuatu di dalam rahimnya," lirih Bu Humairah.


Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya terhadap First Love Rubi Salman dengan caranya:


Like Setiap babnya, Rate bintang lima, Favoritkan agar tetap mendapatkan notifikasi, Bagi gift poin atau koinnya dan klik iklannya juga yah kakak readers...

__ADS_1


Mampir juga dinovel aku yang lain:



Merebut Hati Mantan Istri.


Duren, i love you


Bukan Yang Pertama


Cinta Pertama



Makasih banyak all readers… I love you all..


by Fania Mikaila Azzahrah


Takalar, Senin, 21 November 2022

__ADS_1


__ADS_2