First Love Rubi Salman

First Love Rubi Salman
Bab. 39


__ADS_3

Rubi tersadar dari apa yang selama ini dia lakukan sudah keliru. Walau pun harus hamil di luar nikah tanpa suami dan dia belum mengetahui siapa pelakunya,dia sudah berjanji dan bertekad untuk menjalani kehidupannya kembali normal seperti dulu lagi.


Sudah satu semester dia tidak melanjutkan perkuliahannya karena kondisi psikis mental dan kesehatannya yang terganggu. Di Usia kehamilannya yang masuk bulan ketiga si kembali berniat untuk melanjutkan kembali studinya.


Bunda dan kakaknya Fariz sudah memberikan ijin kepadanya untuk memulai kehidupannya yang baru. Untungnya dia sudah pindah ke Makassar sehingga satupun temannya tidak ada yang mengetahui jika dia hamil karena dianiaya oleh pria tak dikenalnya hingga hamil.


"Bunda akan merestui segala niat dan rencana baikmu Nak, asalkan kamu bahagia tapi, satu hal yang kamu perlu selalu ingat jika bayi yang ada di dalam kandungmy harus menjadi prioritas utama, kejar karir boleh Nak tapi,dia masih sangat kecil butuh perhatian ekstra loh," itulah nasehat dan petuah bijak yang diberikan oleh Bu Humairah Razak mamanya Rubi gadis sembilan belas tahun yang harus hamil tanpa suami.

__ADS_1


Sejak hari itu,Rubi kembali beraktifitas normal seperti sedia kala, kandungannya pun seolah mengerti dengan kondisi dari ibunya yang membuat Rubi seolah tak pernah mengalami ngidam ataupun morning sicknes yang berlebih sehingga semuanya dibawa santai.


Dua bulan kemudian, Rubi hari ini hendak ke kampus pagi-pagi sekali tapi karena abangnya Fariz harus mengikuti acara di luar daerah dan dia yang ditunjuk sebagai perwakilan dari Polda Sulsel. Sehingga pagi itu Rubi terpaksa ke kampus naik ojek online dengan perutnya yang sudah membuncit, tapi karena Rubi berpakaian yang selalu ukurannya lebih besar dari postur tubuhnya yang ideal dan sintal bak body gitar spanyola sehingga kehamilannya masih aman disembunyikan olehnya.


Selama sekitar satu minggu kepergian Fariz Hatta ke luar daerah, dengan berat hati dan terpaksa harus membuat Rubi ke kampus naik ojol.


"Rubi! Tunggu Bunda Nak!" Teriak seorang perempuan paruh baya dari arah dalam rumahnya yang mencegah kepergian putri semata wayangnya itu karena melupakan bekalnya.

__ADS_1


"Bunda, tidak perlu berlari seperti itu, ingat usia dong bunda," ucapnya Rubi yang melarang bundanya berlari ke arahnya dengan kotak bekal makanan berwarna kuning itu ditentengnya.


Bu Humairah hanya terkekeh mendengar ocehan putrinya itu.


"Bunda pikir kamu sudah jauh Nak, jadi saya terpaksa berlari, ini buah kamu nak kamu lupa bawa dan juga vitamin sama obatnya entar ketinggalan lagi kasihan dedenya Nak kalau kamu lupa minum lagi," imbuhnya Bu Humairah yang tertawa cekikikan melihat reaksinya Rubi yang baru kali ini tegas.


Rubi menyentuh kedua punggung tangannya ibu Humairah, "Bunda, Rubi tidak ingin gara-gara saya bunda kecapean dan kelelahan insya Allah Rubi masih bisa kok ngurus diri Rubi dan calon cucunya bunda dengan baik," timpalnya Rubi.

__ADS_1


Apa yang kedua perempuan beda usia itu perbincangkan menjadi tontonan dari seseorang yang berdiri dibalik pagar besi rumahnya yang bercat putih itu yang setiap hari mengamati apa yang dilakukan oleh Rubi dengan keluarganya itu. Sejak kedatangannya di lingkungan komplek tersebut yang baru sekitar sebulan lebih tinggal di daerah itu selalu memperhatikan Rubi secara diam-diam.


"Ternyata dia sudah hamil berarti dia perempuan bersuami, sayangnya padahal rencananya aku ingin jodohkan dengan putraku," gumamnya sambil menarik pagar tersebut yang baru anaknya pergi bekerja.


__ADS_2