
"Kalau rumahnya Ani, maaf kami juga kurang tahu karena ia baru tiga hari bekerja disini Pak," ungkapnya perempuan itu.
Rasa sedih, kecewa, jengkel dan marah sudah bercampur menjadi satu bagian di dalam pikirannya. Salman mendengus kesal karena pencariannya hanya membuahkan hasil yang sia-sia belaka.
"Makasih banyak," tuturnya Salman lalu berjalan lesu ke arah lift.
Salman akhirnya memutuskan untuk pulang ke Jakarta tanpa hadiah sepesial yang khusus ia beli untuk istrinya. Cincin emas putih yang bertahtakan berlian itu ia dapatkan dari tempat pelelangan emas yang baru-baru ini diselenggarakan oleh perusahaan emas terbesar di Indonesia bertempat di Pulau Dewata Bali tepatnya di Jimbaran.
"Semoga saja Ayesha tidak kecewa dan marah jika mengetahui cincin yang sudah lama ia idamkan dan impikan telah menghilang entah kemana," batin Salman.
Motor yang mengantar Rubi sampai di villa tempat mereka menginap berhenti setelah
memberikan aba-aba terlebih dahulu.
"Stop depan Abang!" Perintahnya Rubi karena tidak sesuai dengan titik pesanannya saat memesan ojek online.
Rubi mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya, ia memperhatikan dengan seksama apa ada orang yang dikenalnya di sekitar pintu masuk villa.
"Semoga saja tidak ada yang tahu dan menyadari jika aku semalaman tidak menginap di sini, ya Allah tutuplah aibku ini dan jangan biarkan orang lain mengetahui kejadian yang memilukan itu yang dilakukan oleh kak Afrizal padaku," batinnya Rubi yang berjalan kadang sedikit tertatih karena masih merasakan sedikit ngilu dan perih dibagian sensitifnya itu.
__ADS_1
Rubi melangkahkan kakinya dengan pelan dan sesekali melirik ke arah belakang dan kanan kiri. Ia sedikit was-was dan ketakutan. Rubi berharap Afrizal tidak membocorkan rahasia mereka, ia terus berharap rahasia itu cukup mereka dan Tuhan yang tahu apa yang sudah mereka lalui.
Rubi baru bisa bernafas lega, disaat ia mendudukkan dirinya ke atas ranjangnya dan menutup rapat pintu kamarnya. Air matanya menetes membasahi pipinya, dia tidak bisa menutupi dan memungkiri jika dirinya kecewa, marah, sedih dan sakit hati atas perlakuan Afrisal padanya itu.
"Ya Allah… jangan biarkan hati ini terus meratapi kesedihan dan rasa kecewaku pada nasib malang yang telah menimpaku, aku tahu dan yakin karena Engkau telah memberikan ujian dan cobaan ini untukku agar aku bisa lebih bisa bersabar, ikhlas dan selalu dekat dan berserah diri padaMu," lirihnya Rubi yang menengadahkan kepalanya ke atas.
Rubi membuka jendela kamarnya, ia menatap jauh hingga ke atas langit yang biru dan cerah disore hari itu. Lamunannya buyar setelah ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya. Rubi berdiri untuk melihat siapa yang sudah mengetuk pintunya itu.
"Ya Allah jika bisa jangan biarkan aku untuk bertemu lagi dengan kakak Afrizal, aku tidak ingin mengingat kembali kejadian malam kemarin karena aku hanya manusia biasa, jadi tolonglah aku ya Allah dan kabulkan lah permintaan dan permohonanku ini," lirihnya Rubi sebelum membuka pintunya.
"Rubi!! Kok lama banget bukain pintunya? Rubi apa yang kamu lakukan!" Teriaknya Jenar di balik pintu.
"Sabar dikit kenapa, tunggu!" Teriak balik Rubi yang berjalan tergesa-gesa ke arah pintu kamarnya.
"Ya Allah… Jenar masa sih kamu tidak dengar suaranya Rubi yang berteriak kencang dari dalam kamarnya, sepertinya kamu butuh ke dokter tht kalau kita sampai di Jakarta," guraunya Shela yang menatap jengah sahabatnya itu.
Hehehe," kamu kok tahu, Iya nih sudah hampir setahun aku gak pernah lagi periksa ini aku punya telinga," timpalnya Jenar yang hanya tertawa cengengesan menanggapi candaan sahabatnya itu.
Sheila dengan spontan menjitak kepalanya Jenar menggunakan kipas tangannya yang dipegangnya sedari tadi. Pintu itu berdecit pertanda yang punya kamar sudah membuka pintunya. Jenar dan Sheila refleks memeluk tubuhnya Rubi seolah Rubi baru saja pulang dari tempat yang jauh saja.
__ADS_1
Rubi keheranan melihat sikap kedua sahabatnya," kalian kenapa? Apa yang terjadi pada kalian? Aku baik-baik saja kok jadi tolong lepasin pelukan kalian nafasku sesak banget nih," ujarnya Rubi yang berusaha melerai pelukan Jenar dan Sheila.
Keduanya hanya tertawa cengengesan," maaf kami, entah kenapa kami merasa kamu akan pergi jauh dari sisi kami makanya kami bersikap seperti ini," imbuhnya Jenar yang meneteskan air matanya.
Sheila pun ikut sedih dan air matanya tak segan ia teteskan saking bahagianya melihat Rubi dalam keadaan baik-baik saja.
"Aku kira kamu kenapa-kenapa bestie, soalnya semalam kami berapa kali menghubungi nomor hpmu tapi tidak aktif dan kamu juga enggak muncul di tempat acara makanya kami sangat khawatir dengan kondisi kamu, tadi pagi juga kami datang memeriksa kamu tapi kamu gak bangun juga, apa yang terjadi sebenarnya sama kamu tapi, setelah kami melihat kamu dalam keadaan baik-baik saja jadi kami bisa bernafas lega dan pastinya kami bahagia," ungkapnya Jenar yang melepaskan pelukannya dari tubuhnya Rubi.
"Ya Allah… aku sangat bersyukur karena memiliki sahabat yang selalu ada untukku bersamaku disaat aku bahagia maupun sedih," cicitnya Rubi.
Sheila memperbaiki letak hijabnya Rubi seraya berucap, "Rubi, apapun yang terjadi padamu, ingat lah jika kami ini sahabat kamu yang selalu ada disaat sedihmu, disaat dukamu, disaat bahagiamu jadi kelak ada yang kamu butuhkan dalam kesulitan apapun bicara lah pada kami maka kami akan membantu kamu semampu kami karena kami akan sedih jika kamu sedih dan kami akan bahagia jika kamu pun juga bahagia, " jelasnya Sheila lagi.
"Entah kenapa, hati kecilku mengatakan bahwa ada sesuatu hal besar yang telah terjadi pada Rubi, tapi aku tidak tahu apa itu ya Allah… karena hati ini selalu merasakan ada keanehan pada diriku jika aku mengingat sahabatku itu, tapi aku berharap semoga saja ini hanya feelingku saja yang tidak akan jadi kenyataan," Jenar membatin.
Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya terhadap First Love Rubi Salman dengan caranya:
Like Setiap babnya, Rate bintang lima, Favoritkan agar tetap mendapatkan notifikasi, Bagi gift poin atau koinnya dan klik iklannya juga yah kakak readers...
Makasih banyak all readers… I love you all..
__ADS_1
by Fania Mikaila Azzahrah
Takalar, 19 November 2022