
"Maaf dokter yang Ibu ini maksudkan adalah pasien yang baru saja selesai kita periksa pasien perempuan yang memakai hijab abu-abu itu," jelasnya Mbak Suster.
Bu dokter menatap ke arah Bu Humairah," kalau pasien itu sebaiknya kita berbicara di ruanganku, kurang baik kalau kita ngomongnya sambil berdiri," imbuhnya Bu dokter Alisha.
"Kenapa meski dokter harus ngomongnya di dalam ruangan segala apa, kondisinya putriku tercinta, ya Allah... aku sangat takut," lirihnya Bu Humairah.
Bu Humairah dan Fariz segera berjalan ke ruangan dokter Fadli Snider.
"Kenapa Pak Dokter Fadli harus menjelaskan semuanya tentang kesehatannya Rubi di dalam ruangannya apa penyakit anakku cukup parah, ya Allah aku serahkan hidup dan mati kami di tanganMu," batinnya Bu Humairah.
"Ya Allah… semoga feeling dan dugaanku semuanya salah, aku tidak tahu harus berbuat jika perasaanku itu jadi kenyataan," Fariz membatin raut wajahnya menyiratkan kekhawatiran dan kecemasan yang berlebih.
Tok… tok…
Pintu bercat putih gading itu diketuk oleh Fariz.
"Silahkan masuk Pak, Bu…," imbuhnya perawat yang berjaga d sekitar pintu ruangan tersebut.
"Makasih banyak Sus!" Ucapnya Fariz yang menatap ke arah perawat sebagai asistennya Pak Dokter Fadli.
__ADS_1
Dokter Fadli yang sedang sibuk dan serius memeriksa sebuah dokumen yang ada di depannya segera mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk membaca beberapa berkas hasil pemeriksaan kesehatan beberapa hasil laboratorium pasien.
"Silahkan duduk Nyonya," ucapnya Pak Dokter.
Bu Humairah dan Fariz tersenyum tipis kearahnya Dokter yang bernametag Fadli.
"Apa Anda ibu dari pasien yang bernama Rubi Almeera Aliya Aziz?" Tanyanya Dokter lalu segera menutup berkas yang bersampul merah itu.
Bu Humairah menganggukkan kepalanya," Iya benar sekali Pak, saya ibunya.. kalau boleh tahu apa sebenarnya yang terjadi pada putriku itu Pak Dokter karena sudah hampir seminggu pola makannya tidak teratur, ia sering mengeluh perutnya perih dan hari sudah beberapa kali memuntahkan semua isi perutnya dokter, kalau boleh tahu apa sebenarnya yang terjadi gangguan kesehatan pada anakku?" Tanyanya Nyonya Humairah yang sangat ingin mengetahui hal itu agar ketakutan dan kecemasannya bisa reda.
Pak dokter menatap mereka satu persatu secara bergantian sebelum menjawab dan menjelaskan semuanya tentang apa yang sedang terjadi pada Rubi. Pak dokter sesekali menghembuskan nafasnya dengan cukup kasar.
Fariz membalas menatap ke arah Pak Fadli Zon selaku dokter yang menangani kesehatannya Rubi. Ia menautkan kedua alisnya saking tidak mengerti kenapa ia diberikan pertanyaan seperti itu dan apa hubungannya dengan Rubi yang jelas-jelas masih gadis statusnya belum menikah itu, ia sangat tidak percayanya dengan maksud dan arti dari pertanyaan pak dokter untuknya.
"Maaf putriku belum menikah sekalipun dan dia adalah kakaknya Rubu anak sulung ku dokter," ungkapnya Bu Humairah yang keheranan kenapa dan apa alasannya Dokter berbicara seperti itu.
Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya terhadap First Love Rubi Salman dengan caranya:
Like Setiap babnya, Rate bintang lima, Favoritkan agar tetap mendapatkan notifikasi, Bagi gift poin atau koinnya dan klik iklannya juga yah kakak readers...
__ADS_1
Mampir juga dinovel aku yang lain:
Merebut Hati Mantan Istri.
Duren, i love you
Bukan Yang Pertama
Cinta Pertama
Makasih banyak all readers… I love you all..
by Fania Mikaila Azzahrah
Takalar, Sabtu, 26 November 2022
__ADS_1