
"Baik, Bos juga nikmati tubuhnya malam ini," imbuhnya dengan tertawa penuh kemenangan sambil berlalu dari hadapan pria yang memakai topeng merah itu.
Hahaha suara tawanya menggema di dalam ruangan itu. Tapi tak satupun yang mendengarnya karena semua temannya sudah meninggalkan tempat tersebut menuju kafe tempat pesta.
"Akhirnya malam ini kamu akan menjadi milikku, beginilah rasanya jika kamu terlalu sombong dan angkuh menolak cintaku yang selalu tulus mencintaimu! tapi malam ini aku akan buktikan kepada kamu siapa aku sebenarnya setelah aku merenggut ke su cian mu!" geramnya.
"Jen! Kok Rubi belum muncul juga yah? Apa jangan-jangan ia tidak tahu kalau tempat acaranya di rubah?" Tanyanya Sheila yang mulai gelisah mondar-mandir berdiri di depan sekitar pintu menunggu kedatangan sahabat terbaiknya itu.
"Aku sudah kirim chat tapi, belum dibalas aku juga sudah menelponnya tapi nomornya selalu di luar jangkauan sudah banyak kali juga aku hubungi tapi hasilnya sama," balasnya Jenar.
Sheila berjalan ke Jenar untuk memastikan hal itu," coba sini hpmu Jen aku coba telpon lagi," usulnya Sheila.
"Ya Allah… Sheila kamu juga kan punya hp kenapa gak pakai hpmu saja untuk hubungi Rubi, apa kamu hilang ingatan atau amnesia yah?" Cibirnya Jenar.
Bukannya melakukan apa yang diperintahkan oleh Jenar malahan Sheila hanya tertawa terbahak-bahak," ya Allah.. kamu yah apa sih bedanya antara amnesia dengan hilang ingatan!" Sarkasnya Sheila.
Mereka tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan mereka sendiri. Hingga melupakan keberadaan Rubi yang belum datang ke tempat acara.
Sedangkan di tempat lain, langkahnya maju mundur di depan pintu masuk karena ragu dan bimbang yang melanda hati dan pikirannya. Rubi ragu untuk membuka pintu kafe itu tapi, karena ia tidak ingin membuat beberapa sahabatnya menunggunya terlalu lama hingga ia pun berjalan ke arah pintu masuk tempat pelaksanaan pesta tersebut.
"Bismillahirrahmanirrahim," gumamnya Rubi seraya memutar kenop pintu.
Baru selangkah kakinya ia langkahkan di dalam ruangan tersebut tapi, ia langsung dibuat shock, karena kondisi dari pesta tersebut sangat berbeda jauh dengan apa yang ada di dalam ekspektasinya dan ucapan teman-temannya yang mengatakan kalau pestanya bebas dari minuman yang berbau alkohol.
Teman-temannya tidak ada yang mengatakan kalau mereka akan party dengan berbagai minuman beralkohol. Dia tidak akan menyentuh minuman itu sedikit pun.
Rubi memperbaiki penampilannya dan letak topeng yang dipakainya. Walaupun terkejut dengan suasana dalam pesta tersebut, dia memaklumi karena semua temannya hanya dia yang berasal dari Indonesia dengan keyakinan yang berbeda pula.
Rubi berjalan lebih ke dalam lagi untuk mencari keberadaan dua sahabat baiknya," Sheila sama Jenar ada di mana kok tidak kelihatan yah?" Rubi membatin.
__ADS_1
Malam ini mereka mengadakan pesta topeng. Mereka memakai berbagai kostum pilihan terbaik mereka masing-masing dan sama persis dengan beberapa orang yang berada di dalam bar yang berkedok kafe itu.
"Ya Allah… maafkan aku sudah menginjakkan kaki ketempat seperti ini ya Allah… aku sama sekali tidak mengetahui dan tidak menyangka jika cafe yang mereka katakan wujudnya seperti ini," cicitnya Rubi yang sangat menyesal telah memutuskan untuk ikut bergabung di pesta yang sangat tidak baik untuknya.
Rubi risih dan jijik melihat tingkah laku beberapa temannya yang beradegan mesum di depan matanya. Bukannya sok suci tapi, seperti itulah kebiasaannya selama hidupnya. Tapi, tidak memperlihatkan secara gamblang ketidaksukaannya tersebut.
"Astagfirullah…" berulang kali kata itu dia lafalkan dan ucapkan karena merasa sudah bersalah telah mendatangi tempat mak siat itu yang penuh dengan do sa.
Rubi mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya mencari Sheila tapi berulang kali ia edarkan pandangannya tapi, ia sama sekali tidak melihat kawannya itu.
"Kok tampang mereka gak terlihat dan juga aku perhatikan satu persatu dari mereka satupun aku tidak mengenali mereka, apa jangan-jangan aku salah alamat, ini semua pasti gara-gara hpku yang lowbet jadi aku ketinggalan informasi," ketusnya Rubi.
Rubi segera kabur dari tempat itu, dia tidak tahan lagi dengan bau dari alkohol yang menyeruak memenuhi seluruh ruangan itu. Lagian ia tidak menemukan siapapun yang dikenalnya. Ia pun berjalan ke arah pintu keluar.
"Alhamdulillah akhirnya bisa juga menjauh dari sana," dengan mengelus dadanya perlahan saking bahagianya karena terbebas dari party itu.
Tetapi langkahnya tertahan karena tangannya dicekal oleh seseorang.
Dia menatap tajam ke arah pria itu. Wajahnya keheranan bercampur marah. Orang itu satu pun tidak dikenalnya. Ia berusaha untuk mengenali mereka tapi susah, karena pencahayaan yang kurang lagian mereka memakai topeng.
"Lepaskan tanganku!!" Teriak Rubi yang tidak menyukai karena ada pria lain yang menyentuh pergelangan tangannya dengan paksa dan menyakitinya karena mereka cukup kuat memegang tangannya Rubi.
Pengumuman!!!!!
Mulai besok hingga tanggal 4 aku akan adakan give away..
Dukungan Nomor Rank 1 dan 2 pulsa 50k Untuk dua orang.
__ADS_1
Dukungan posisi rank ke 3-4 masing-masing 25k untuk 4 orang.
Syaratnya Wajib:
Like, Baca dari bab 1 hingga update bab sampai tgl 4 Desember 2022 Khusus Novel Fania yang berjudul "MEREBUT HATI MANTAN ISTRI". Perhitungannya mulai hari Senin tanggal 14 November.
Harus dan Wajib Follow akun Fania Mikaila Azzahrah yah!!
Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya terhadap First Love Rubi Salman dengan caranya:
Like Setiap babnya, Rate bintang lima, Favoritkan agar tetap mendapatkan notifikasi, Bagi gift poin atau koinnya dan klik iklannya juga yah kakak readers...
Mampir juga dinovel aku yang lain:
Merebut Hati Mantan Istri.
Duren, i love you
Bukan Yang Pertama
Cinta Pertama
Makasih banyak all readers… I love you all..
__ADS_1
by Fania Mikaila Azzahrah