First Love Rubi Salman

First Love Rubi Salman
Bab. 17


__ADS_3

Rubi sama sekali tidak memeriksa kondisi seprei dan bedcover, andai saja ia memeriksanya pasti akan mengetahui apa yang terjadi padanya sebenarnya.


"Aku harus buru-buru pulang agar tidak ada yang tahu dan curiga dengan apa yang terjadi padaku semalam, biarlah cukup aku yang tahu kelakuan bejaknya Kak Afrizal dan cukup berusaha untuk menghindar jika suatu saat nanti bertemu lagi, bukannya aku memaafkan dengan begitu mudah tapi, membalas ataupun melapor ke pihak kepolisian juga akan semakin memperkeruh keadaan saja dan juga aku tidak punya cukup bukti, jadi sudahlah! Aku hanya berharap Kak Afrizal segera diberikan hidayah oleh Allah SWT agar segera berubah dan menyadari kesalahannya itu dan bertaubat agar kelak ia tidak bertindak kurang ajar lagi," harapnya Rubi sembari berjalan pelan dan segera membersihkan seluruh tubuhnya itu.


Rubi baru bisa bernafas lega ketika tidak menemukan kejanggalan pada tubuhnya. Rubi memeriksa luar dalam bagian anggota tubuhnya, hanya saja bagian daerah intimnya yang masih ngilu, sakitz perih yang dikeluhkannya.


"Ya Allah… semoga saja sakitnya ini hanya karena akibat kecelakaan yang aku alami semalam," batinnya Rubi sembari mulai menyalakan shower nya.


Rubi sedikit tergesa-gesa, karena sudah masuk waktu siang hari dan ia tidak ingin membuat semua temannya curiga jika ia tidak berada di dalam kamarnya.


Berselang beberapa menit kemudian, ia berjalan ke arah ranjangnya baru saja ingin membersihkan sprei yang kusut, langkahnya dan gerakannya terhenti disaat ketukan beberapa kali dari pintu kamar hotel yang dihuninya itu.


"Siapa yah? Aku baru ingat semalam kan aku hampir ditabrak oleh seseorang, orang itu ada di mana apa orang itu yang menolongku dan menyewakan aku kamar hotel, tapi ngomong-ngomong gimana kalau orang itu tidak membayar sewanya dan salah satu pegawai hotel menagihku pasti bayarnya hotel ini cukup mahal," Gumamnya Rubi yang mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.


Rubi mengagumi keindahan dari arsitektur kamar hotel tersebut jika, ia ingin menginap di hotel itu sama saja dengan satu semester pembayaran kuliahnya. Rubi kembali dibuat tersentak terkejut mendengar ketukan pintu yang semakin besar itu. Ia lupa jika sedari tadi ada seseorang orang yang mengetuk pintu kamar hotel tersebut.


Rubi berjalan tertatih-tatih dan menahan perih yang tiba-tiba datang disekitar daerah sensitifnya jika, ia berjalan tapi, Rubi berusaha untuk menahannya karena tidak ingin membuat orang itu marah jika ia semakin lama untuk membuka pintunya.


Pintu berwarna cat cokelat itu terbuka lebar dan muncullah seorang wanita yang berpakaian seragam biru tua yang bertuliskan officer girl di bagian punggungnya.


"Maaf Mbak, sudah waktunya Mbak chekout dari kamar ini, jadi kami ingin membersihkan seluruh ruangan ini," jelasnya Mbak og itu.


"Oohh gitu, hehe maaf Mbak kelupaan soalnya keenakan tidurnya," imbuhnya Rubi yang sedikit malu karena seharusnya sekitar satu jam yang lalu ia sudah harus meninggalkan kamar hotel tersebut.


Og itu tersenyum ramah,"Tidak apa-apa Mbak, itu hal yang wajar dan biasa terjadi," pungkas Mbak og itu lagi.


Rubi segera berjalan ke arah dalam kamar untuk mengambil tasnya, ia mencari topeng berwarna ungu itu tapi,ia tidak menemukan keberadaan benda tersebut.


"Topengku dimana yah? seingat aku sebelum terjatuh di atas tumpukan batu aku masih memakai topeng itu," Rubi terus berusaha untuk mencarinya tapi, karena tidak enak hati sehingga ia tidak melanjutkan pencariannya lagi.

__ADS_1


Og itu melihat Rubi yang seperti sedang mencari sesuatu segera berjalan untuk mendekati Rubi yang berdiri seperti orang yang kebingungan," Maaf! Sepertinya Mbak sedang mencari sesuatu kalau boleh tahu apa yah?" Mbak og itu ingin membantu Rubi.


Rubi tersenyum hangat sebelum menjawab pertanyaan dari og itu," tidak apa-apa kok Mbak, aku sebenarnya mencari topengku tapi aku tidak menemukannya," jawabnya Rubi yang masih mencari topeng itu.


"Aku bantu cariin yah Mbak, mungkin topengnya jatuh di sekitar ranjang," imbuhnya og itu yang membantu Rubi untuk mencarinya.


Sekitar lima belas menit dicari, tapi tidak menemukan keberadaan topeng itu malah og itu menemukan sebuah benda yaitu kotak buludru yang berwarna merah.


"Maaf sepertinya topengnya Mbak gak ada di dalam sini, tapi aku menemukan ini Mbak, mungkin ini punyanya Mbak," ujarnya og itu sembari menyodorkan kotak tersebut ke hadapan Rubi.


Rubi spontan mengambil benda itu lalu ia memeriksa kotak tersebut dan membukanya hingga matanya berkilauan terkena pantulan cahaya dari cincin indah itu. Sebuah cincin emas putih yang bertahtakan berlian yang kecil berwarna ungu di tengahnya.


"Tapi…" ucapannya Rubi terpotong saat hpnya berdering.


Rubi segera mengangkatnya dan menetralkan perasaannya sebelum mengangkatnya.


Rubi berpura-pura baru terbangun dari tidurnya," assalamualaikum Jenar!" Sapanya Rubi.


"Kamu masih tidur! Jam segini Rubi Aliya Sayed baru bangun dari tidurnya! What's apa dunia sudah terbalik atau matahari sudah terbit dari sebelah barat?" Ketusnya Jenar yang sama sekali tidak percaya jika Rubi kesiangan bangunnya.


"Biasa saja kali reaksinya, emangnya sudah mau kiamat apa?" Dengusnya Rubi yang sudah terbiasa dengan reaksinya Jenar yang kadang diluar dugaan dan kendali.


"Ingat ba'da shalat ashar kita akan berkumpul di dalam aula karena ada acara lagi katanya kakak Afrizal," jelasnya Jenar.


Rubi yang mendengar perkataan Jenar tiba-tiba menghentikan langkahnya dan terdiam sesaat. Tapi, apa yang dilakukan oleh Rubi membuat seseorang menjatuhkan hpnya.


Prang!!!


Hpnya Rubi pun sudah mati total karena kehabisan daya baterai. Sedangkan orang yang ditabraknya cukup membuat Rubi sedikit takut karena melihat raut wajahnya yang seperti seseorang menahan amarahnya, matanya melotot, jkungnya naik turun menatap tajam ke arah Rubi.

__ADS_1


Rubi refleks menundukkan tubuhnya untuk meraih hp yang sudah teronggok di atas lantai keramik lobi hotel. Ia sedikit mengeluh perih saat membungkukkan badannya.


"Maafkan saya Pak! Ini semua gara-gara saya yang tidak berhati-hati berjalan," ujarnya Rubi yang meminta maaf karena sudah membuat hp seseorang terjatuh.


"Kalau minta maaf diterima buat apa ada polisi!" Sarkasnya pria itu yang mengambil hpnya dengan kasar dari dalam genggaman tangannya Rubi lalu berjalan meninggalkan Rubi yang masih mematung tidak percaya dengan sikap orang yang baru pertama kali ia temui itu.


Rubi sama sekali tidak perduli dengan sikap kasar pria itu, baginya yang penting ia segera pulang ke villa tempat penginapannya dengan aman, selamat tanpa ada orang lain yang curiga dengan apa yang dilaluinya semalam.


Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya terhadap First Love Rubi Salman dengan caranya:


Like Setiap babnya, Rate bintang lima, Favoritkan agar tetap mendapatkan notifikasi, Bagi gift poin atau koinnya dan klik iklannya juga yah kakak readers...


Mampir juga dinovel aku yang lain:



Merebut Hati Mantan Istri.


Duren, i love you


Bukan Yang Pertama


Cinta Pertama



Makasih banyak all readers… I love you all..


by Fania Mikaila Azzahrah

__ADS_1


Takalar, Minggu, 20 November 2022


__ADS_2