First Love Rubi Salman

First Love Rubi Salman
Bab. 37


__ADS_3

"Pak Salman tidak perlu khawatir dengan masalah harta gono-gini karena klien kami Nona Muda Ayesha sama sekali tidak berniat untuk meminta sedikit pun dan ia serahkan sepenuhnya untuk pak Salman saja," ungkap Pak Liem.


Salman hanya mengucapkan bismillahirrahmanirrahim sebelum menandatangani surat perceraiannya. Ia sedih,tapi mau diapa nasi sudah menjadi bubur karena semua itu sudah menjadi takdir dari Allah SWT yang sudah menjadi kehendak yang Maha Kuasa.


Salman tidak berpikir lama untuk segera membubuhkan tandatangannya di atas kertas berkas perceraiannya dengan Sarah. Tidak ada sedikit pun guratan kecewa, sedih dan penyesalan yang terpatri di wajahnya itu.


Seolah yang terjadi padanya seperti sebuah beban berat akhirnya jatuh ke atas tanah selama bertahun-tahun ia pikul. Raut wajahnya Salman sulit terbaca.


"Makasih banyak Pak Salman atas kerjasamanya," ujarnya pengacara keluarga besar yang dikirim oleh Ayesha untuk menyelesaikan perceraiannya.


Salman hanya tersenyum menanggapi perkataan dari Pak pengacara tersebut. Tanpa ada niat untuk berbicara sepatah kata pun.


"Aku kira Tuan Salman akan bersikeras menolak dan tidak menerima perceraian mereka, tapi ternyata Pak Salman dengan ikhlas menandatangani dan menyetujui keputusan yang dipilih oleh Ayesha Putri Fras.


Salman mengantar Pak Nabil Edward Liem pengacara kedua yang membantu penyelesaian gugatan perceraiannya Ayesha.

__ADS_1


"Makasih banyak atas kerjasamanya Pak Nabil, saya berharap semoga Ayesha tidak menyesali keputusannya ini,"imbuhnya Salman sebelum menutup pagar rumahnya.


Pak Nabil hanya tersenyum simpul mendengar perkataan dari Salman yang cukup mencengangkan. Menurutnya Salman yang akan rugi dan menyesal karena telah bercerai dengan Ayesha anak pengusaha tapi, sedikitpun tidak ada sumbangsihnya dalam kemajuan dan perkembangan karirnya Salman.


Salman mengusap wajahnya dengan cukup kasar," ya Allah… mungkin semua ini salahku, atas perbuatanku pada gadis itu sehingga calon bayiku harus meninggal dunia, maafkanlah aku ya Allah…," Salman membatin seraya meraih hpnya yang tergeletak di atas meja sofa ruang tamu.


"Aku harus menjual rumah ini, aku tidak ingin hidup terus dalam bayang-bayang kenangan kami berdua, bukannya aku kesulitan untuk move on tapi, aku tidak ingin terbelenggu dalam bayang-bayang masa lalu, jadi jalan yang terbaik aku harus melegonya," gumam Salman sembari menyeka air matanya itu.


Salman segera menelpon salah satu temannya yang bisa secepatnya mengurus jual beli rumahnya itu. Salman akan menerima mutasi pemindahannya ke daerah Sulawesi Selatan Makassar yang sudah direncanakan oleh pimpinan tertinggi di perusahaan tempat ia bekerja sebagai, tetapi selama ini belum setuju atau pun mengiyakan perkataan dari atasannya tersebut.


"Ya Allah… jika ini jalan yang terbaik untuk hubungan kami maka jauhkanlah sifat benci dan dendam dari dalam hatiku dan pikiranku, aku ingin hidup bebas dan damai tanpa adanya rasa penyesalan dan kebencian yang berlarut larut," batinnya Salman dengan mengemas barang-barangnya yang akan ia bawa juga pindah ke kota daeng.


Like Setiap babnya, Rate bintang lima, Favoritkan agar tetap mendapatkan notifikasi, Bagi gift poin atau koinnya dan klik iklannya juga yah kakak readers...


Mampir juga dinovel aku yang lain:

__ADS_1



Kau Bahagiaku


Duren, i love you


Bukan Yang Pertama


Cinta Pertama


Meraih Cintanya



Makasih banyak all readers… I love you all..

__ADS_1


__ADS_2