First Love Rubi Salman

First Love Rubi Salman
Bab. 16


__ADS_3

"Aku harus mengirimkan rekaman video ini segera ke nomor hpnya Fariz, aku yakin dengan sangat dan sudah membayangkan apa yang terjadi padanya ketika melihat isi dari videonya, aku yakin ia akan hancur sehancur-hancurnya karena melihat adiknya sudah tidak suci lagi," ketusnya Salman sambil berjalan ke arah pintu keluar.


Salman hanya menolehkan kepalanya sesaat kearahnya Rubi yang sudah terlelap dalam tidurnya.


"Aku berharap semoga kita tidak berjumpa lagi di kemudian hari," ujarnya Salman sebelum memutar kenop pintunya.


"Aku akan mengirimkan rekaman video ini ke nomor hpnya Fariz tapi tidak memakai nomor pribadiku, aku harus membeli kalau seperti ini kartu baru agar tidak ketahuan jika aku yang mengirimkannya," gumamnya Salman.


Rubi masih tertidur pulas setelah untuk yang pertama kalinya menikmati hubungan intim yang selama ini belum pernah Ia lakukan.


"Kamu gadis yang cantik dan manis serta sholeha tapi maaf! Aku terpaksa Melakukannya disaat aku memiliki kesempatan besar dan tentunya aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas yang belum tentu datang untuk kedua kalinya," batinnya Salman lalu menutup rapat pintu kamar hotel yang ia sewa.


Salman segera berjalan ke arah officer boys yang kebetulan berjalan ke arahnya," maaf aku minta tolong dijaga kamar itu karena aku harus pulang terlebih dahulu sebelum istriku bangun dan ini sebagai ucapan terimakasihku," pintanya Salman sebelum melanjutkan perjalanannya.


"Makasih banyak Tuan!" Balasnya ob itu.


Salman hari ini sebenarnya memiliki pekerjaan di daerah Jimbaran Bali, bersama beberapa rekan kerjanya. Salman bekerja di salah satu perusahaan ternama yang ada di Bali.


Salman segera mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang,ia hari berencana akan pulang ke rumahnya yang ada di kota Denpasar karena hari ini adalah hari ulangtahun pernikahannya yang sudah hampir enam tahun tapi, belum juga dikaruniai keturunan.


"Raisya, tunggu aku sayang aku akan segera pulang dan maaf hari ini aku pulang terlambat karena aku harus menyelesaikan dendamku pada gadis kecil itu," batinnya Salman seraya tersenyum penuh maksud.


Salman segera merogoh sakunya saat hpnya bergetar sambil berdering," siapa sih yang nelpon ditengah malam begini," dengusnya Salman.


Jam di dinding sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, barulah Rubi mengerjapkan kedua matanya. Lenguhan kecil terdengar dari bibir mungilnya. Rubi membuka kelopak matanya dan sesekali mengedipkan matanya karena ia merasakan silau saat matanya melihat cahaya sinar lampu kamarnya.


"Kenapa cahaya lampu kamarnya silau banget, apa ada masalah dimataku," gumamnya Rubi yang berusaha membuka lebar kelopak matanya.


Hingga pandangan matanya tertuju pada seluruh keadaan kamar hotel tersebut yang membuatnya cukup terkejut karena untuk pertama kalinya ia berada di dalam ruangan yang cukup asing baginya yang belum pernah Ia injakan kakinya di tempat itu.


"Aku ada dimana? Ini kan bukan kamarku yang di Villa?" Cicitnya Rubi yang mulai merasakan ada hal aneh yang terjadi padanya.


Ia tanpa sengaja melihat jarum jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi," ya Allah.. aku sudah terlambat hari ini kan perayaan kelulusan para kakak senior," ucapnya yang buru-buru ingin bangun dari baringnya.

__ADS_1


Tapi, gerakannya segera terhenti karena Ia merasakan sakit di sekujur tubuhnya terutama dibagian sensitifnya.


"Aahh!! Sakit!" Keluhnya saat tiba-tiba rasa perih dan ngilu dibagian daerah intimnya itu.


Rubi segera memeriksa seluruh tubuhnya dan mendapati semua pakaiannya masih lengkap seperti awal ia meninggalkan kamar villa tempat ia menginap dengan temannya. Rubi berusaha untuk mengingat apa yang terjadi semalam.


Bagaikan kaset kusut, rekaman kejadian beberapa jam yang lalu muncul di dalam ingatannya. Air matanya menetes membasahi pipinya dikala ia kembali teringat saat mulai bangun tidur, hingga mereka berangkat dari Jakarta menuju pulau Bali Denpasar hingga pesta topeng yang membuatnya mengetahui rahasia besar tentang Afrizal.


Air matanya menetes membasahi pipinya tanpa aba-aba. Ia sangat terpukul saat hampir saja ia di le ceh kan oleh pria yang selalu ia anggap sebagai kakaknya sendiri yang baik dan tidak pernah berbuat apa-apa di luar sana sepengetahuannya.


"Ya Allah… kenapa Kak Afrizal tega sekali melakukan itu padaku, tapi saya bersyukur karena saya bisa kabur dari kejahatannya," Gumamnya Rubi lalu berusaha mengingat kejadian sesudah dari insiden yang hampir saja membuatnya hancur.


Yang paling jelas ia ingat adalah saat ia hampir saja ditabrak oleh mobil sedan putih tapi ia masih sanggup untuk menghindar dan tubuhnya terutama bagian pantatnya yang terbentur dengan batu.


"Apa gara-gara itu yah saat aku terjatuh sehingga bagian sensitifku terasa ngilu dan perih, tapi siapa pria itu yang menolongku dan mungkin pria itu yang membawaku kemari," cicit Rubi seraya memeriksa seluruh tubuhnya dan semuanya baik-baik saja, tidak ada luka lecet, merah-merah ataupun goresan dikit pun diatas kulit mulusnya.


Rubi setelah selesai memeriksa sekujur tubuhnya hingga bagian paling tersembunyi pun tak lupuk dari pantauan dan pengecekannya. Hanya bagian daerah intimnya yang perih.


"Alhamdulillah… aku baik-baik saja, mungkin ini sakit gara-gara kecelakaan itu, batu itu cukup tajam," lirih Rubi sambil menghembuskan nafasnya dengan cukup kasar.


Rubi baru ingin bangkit dari duduknya, hpnya berdering tapi selalu ada tanda pengingat jika battreinya lowbat," aku kira hpku sudah mati, soalnya semalam aku mau telpon Jenar tapi gak bisa aktif ternyata sekarang bisa aktif lagi, mungkin hpku ajaib," candanya saat menghidupkan kembali hpnya.


Rubi juga heran dengan hpnya karena semalam ia Ingat jika hpnya sudah lowbet total. Ia segera melihat ke layar hpnya dan ternyata yang menelponnya adalah bundanya.


"Assalamualaikum Bunda," sapanya Rubi saat sambungan telpon sudah terhubung.


"Waalaikum salam Nak, kamu sudah sampai di Jimbaran gak Nak?" Tanyanya Bu .


"Alhamdulillah sudah sampai kok Bunda, kalau Bunda gimana kabarnya, kapan pulang dari Bandung? Terus kemarin kok pergi enggak bangunin aku dulu," ucapnya Rubi yang merajuk yang sudah melupakan kebingungannya.


Bundanya tersenyum dibalik hpnya," maaf Nak, soalnya bibi kamu pagi-pagi sekali datang jemput di rumah, lagian kamu juga anak gadis bangunnya kesiangan sih!" Guraunya Bunda.


Rubi tertawa cengengesan menanggapi perkataan dari mamanya itu. Sedang Bu sejak semalam merasakan kegelisahan dan kegundahan karena entah kenapa pikirannya selalu tertuju pada keadaan putri tunggalnya itu sekaligus anak bungsunya.

__ADS_1


"Ya Allah… kenapa perasaanku tidak enak yah? Aku merasakan jika ada sesuatu yang terjadi pada anak-anakku, tapi aku sudah menelpon Abang, katanya Alhamdulillah ia lagi jaga sedangkan adek juga dari nada suaranya sepertinyainsya Allah baik-baik juga," batinnya Bu.


"Bunda! Sudah dulu yah, aku tutup telponnya aku mau masuk kamar mandi soalnya, titip salam sama Mbak April, Mas Danu, Tante Risma sama paman Yoga yah Bunda, terus ada lagi jangan lupa oleh-olehnya, assalamualaikum," pungkasnya Rubi lalu menyatukan sambungan telponnya karena sudah kebelet ingin masuk ke dalam kamar mandi


"Waalaikum salam, hati-hati Nak! Hati Bunda merasa tidak tenang, tapi setelah mendengar suara kalian Alhamdulillah Bunda bisa tenang di sini," cicit Bu.


"YAllah...Se jaga dan lindungilah kedua anakku dimana pun mereka berada, hatiku merasa ada yang aneh tapi, aku tidak tahu apa itu, aku hanya berharap semoga anak-anakku selalu dalam lindunganMu ya Allah… ya Robb!" Bu membatin.


"Aahhh!!! Kok sakit banget yah! Ya Allah… pasti gara-gara kecelakaan tadi malam jadinya bagian ini sakit banget," keluhnya yang berdiri dari atas ranjang dengan berjalan tertatih sambil berpegangan pada ujung seprei dan juga dinding hingga ia sampai juga di dalam kamar mandi.


Rubi sama sekali tidak memeriksa kondisi seprei dan bedcover, andai saja ia memeriksanya pasti akan mengetahui apa yang terjadi padanya sebenarnya.


"Aku harus buru-buru pulang agar tidak ada yang tahu dan curiga dengan apa yang terjadi padaku semalam, biarlah cukup aku yang tahu kelakuan bejaknya Kak Afrizal dan cukup berusaha untuk menghindar jika suatu saat nanti bertemu lagi, bukannya aku memaafkan dengan begitu mudah tapi, membalas ataupun melapor ke pihak kepolisian juga akan semakin memperkeruh keadaan saja dan juga aku tidak punya cukup bukti, jadi sudahlah! Aku hanya berharap Kak Afrizal segera diberikan hidayah oleh Allah SWT agar segera berubah dan menyadari kesalahannya itu dan bertaubat agar kelak ia tidak bertindak kurang ajar lagi," harapnya Rubi sembari berjalan pelan dan segera membersihkan seluruh tubuhnya itu.


Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya terhadap First Love Rubi Salman dengan caranya:


Like Setiap babnya, Rate bintang lima, Favoritkan agar tetap mendapatkan notifikasi, Bagi gift poin atau koinnya dan klik iklannya juga yah kakak readers...


Mampir juga dinovel aku yang lain:



Merebut Hati Mantan Istri.


Duren, i love you


Bukan Yang Pertama


Cinta Pertama



Makasih banyak all readers… I love you all..

__ADS_1


By Fania Mikaila Azzahrah


Makassar.


__ADS_2