First Love Rubi Salman

First Love Rubi Salman
Bab. 18


__ADS_3

"Kalau minta maaf diterima buat apa ada polisi!" Sarkasnya pria itu yang mengambil hpnya dengan kasar dari dalam genggaman tangannya Rubi lalu berjalan meninggalkan Rubi yang masih mematung tidak percaya dengan sikap orang yang baru pertama kali ia temui itu.


Rubi sama sekali tidak perduli dengan sikap kasar pria itu, baginya yang penting ia segera pulang ke villa tempat penginapannya dengan aman, selamat tanpa ada orang lain yang curiga dengan apa yang dilaluinya semalam.


"Assalamualaikum sayang," sapanya seorang perempuan dibalik telponnya seraya berjalan santai di sekitar taman bunganya.


"Waalaikum salam istriku, bagaimana dengan kondisi calon bayi kita sayang?" Salman menyeruput secangkir kopi susu yang sudah ia seduh sendiri.


Salman sudah hampir tiga tahun membuka cabang usaha kafenya di daerah Bali tepatnya di Jimbaran. Ia bersyukur karena di tahun pertama sudah menunjukkan kemajuan dan perkembangannya yang cukup signifikan. Hampir lima tahun pernikahannya baru tahun ini, Ayesha mengandung anak pertama mereka.


Sudah jalan dua bulan kehamilannya Ayesha, kebahagian dan rasa syukur dari Ayesha, Salman dan juga seluruh anggota keluarganya sangat terasa kental. Mereka tak hentinya mengucap syukur alhamdulillah kepada Allah SWT Sang Maha Pencipta.


"Kapan Mas pulang?" Tanyanya Ayesha sambil menghirup aroma wangi bunga mawar merah yang baru mekar itu.


Salman tersenyum penuh bahagia saat mendengar perkataan dari istrinya wanita yang paling ia sayangi, "Kenapa? Tumben tanya kapan aku pulang, biasanya cuek saja," candanya Salman yang sudah berdiri di pagar balkon kamarnya.


Ayesha wajahnya merona memerah seperti tomat saja,ia tersipu malu mendengar perkataan dari suaminya itu yang bercanda dengannya.


"Aku yakin wajahmu pasti memerah iya kan?" Tebaknya Salman yang sudah membayangkan bagaimana warna wajah istrinya jika tersipu malu.


"Aahh Mas! Bisa saja nebaknya selalu benar adanya, apa Mas belajar jadi cenayang selama satu minggu tinggalnya di pulau Bali," gurau Ayesha yang membalas candaan suaminya.


"Hahaha! Enggak lah aku kan selalu tahu semua yang ada pada dirimu sayang, Ingat! Apa pun itu," jelasnya Salman.


Tapi, tiba-tiba air matanya tanpa permisi langsung menetes membasahi pipinya itu. Ia terisak dalam tangisannya tapi, ia segera menghapus jejak air matanya agar tidak ketahuan oleh suaminya.


"Maafkan aku Mas, aku tidak bisa berkata jujur untuk yang ini," batinnya Ayesha.


"Sudah dulu, nanti Mas telpon balik lagi, soalnya aku mau ke Jimbaran untuk bertemu dengan Ibrahim katanya sudah lama menunggu kedatangan Mas ," pamitnya Salman sebelum menutup sambungan telponnya.


"Hati-hati yah Mas, cium sayang selalu untuk Mas seorang, assalamualaikum," Ayesha segera mematikan sambungan teleponnya dengan tergesa-gesa karena air matanya semakin menetes membasahi pipi putih dan mulus itu.


"Waalaikum salam, aku selalu dan selalu sayang kamu hingga akhir nafasku," sahutnya Salman.

__ADS_1


Keesokan harinya di Kota Jimbaran, Bali pulau Dewata.


Rubi sama sekali tidak mengambil hati sikap dari pria yang menabraknya itu. Tapi, ada perasaan aneh yang dia rasakan ketika tanpa sengaja mata mereka saling berserobot sebelum pria itu pergi dan berjalan cepat meninggalkan Rubi yang sempat menolehkan kepalanya ke arah pria itu yang berjalan ke dalam lift.


Kenapa aku merasa pernah bertemu dengannya, apa aku mengenalnya yah?" Rubi terus menatap ke arah pria itu hingga pintu liftnya tertutup rapat hingga wajahnya sang pria tidak kelihatan lagi.


Rubi segera memesan ojek online untuk mengantarkannya segera ke villa tempat teman-temannya berada.


"Ya Allah semoga aku bisa melupakan kelakuannya Kak Afrizal hingga hati ini dijauhkan dari sikap dendam, benci dan sakit hati yang berkepanjangan," Rubi berdiri di pinggir jalan seraya menunggu motor yang akan menjemputnya hingga mengantarnya pulang.


Sedangkan masih di sekitar hotel, seorang pria sedang sibuk mencari sesuatu,ia bahkan masuk kedalam kamar yang sempat ia sewa untuk gadis kecil yang mampu membuatnya melupakan jika hari ini adalah hari anniversary nya yang kelima tahun bersama istrinya.


"Ternyata Rubi masih berada di sini, apa dia baru bangun atau telah bertemu dengan seorang lagi setelah kepergianku," batinnya Salman.


Ia rencananya siang hari ini akan bertolak ke Jakarta dari Bali, tapi hadiah yang dibelinya untuk Ayesha terjatuh hingga kepulangannya terpaksa ia pending sementara waktu. Beberapa menit sebelum ia menabrak tubuh Rubi di sekitar loby.


"Seingat aku menyimpannya di dalam saku celanaku,tapi kok enggak ada lagi."


Salman segera memutar mobilnya di depan belokan karena saat selesai menelpon istrinya barulah ia teringat jika ia membelikan hadiah sebuah cincin emas putih yang bertahtakan berlian khusus dan spesial dibelikan untuk Ayesha istrinya.


Laju mobilnya membelah jalan protokol Kota Jimbaran seakan-akan seorang pembalap formula one saja. Ia tidak ingin kotak itu hilang dan jatuh kedalam tangan yang salah.


"Ya Allah… semoga saja kotak untuk istriku tidak hilang dan diambil orang," tatapan matanya Salman tertuju dan fokus pada jalan raya yang malam itu cukup legang hingga ia cukup bebas menambah kecepatan mobilnya.


Impian dan harapannya Salman pupus dan musnah sudah ketika masuk kedalam kamar tersebut dan sama sekali tidak melihat kotak itu lagi. Bukan karena harganya yang cukup mahal itu, tapi itu adalah cincin yang sangat diimpikan dan diinginkan oleh Ayesha selama ini dan barulah Salman bisa membeli cincin itu.


Salman berlari ke arah luar kamar hotel itu, dan segera berlari mencari og atau ob yang bertugas untuk membersihkan dan merapikan kamar tersebut. Karena menurutnya, office boy ataupun office girl pasti akan mengetahui keberadaan dari kotak perhiasannya.


Salman tersenyum sumringah saat melihat ada dua og yang berjalan di koridor hotel, "Maaf, boleh aku bertanya kepada kalian berdua?" Salman menarik nafasnya yang ngos-ngosan karena terburu-buru berlari mengejar og itu.


Salman berdiri di hadapan dua orang yang berseragam biru yang bertuliskan officer Girl.


"Iya Pak! Apa yang bisa kami bantu?" Og itu saling bertatapan satu sama lainnya.

__ADS_1


"Aku mau ketemu dengan orang yang membersihkan kamar itu!" Ujarnya Salman sambil menunjuk ke arah kamar 202 itu.


Og itu kembali dibuat saling berpandangan," maaf orang yang membersihkan kamar itu sudah pulang Pak! Kebetulan ia hanya jaga malam jadi sudah pulang beristirahat di rumahnya," jawabnya og itu.


Raut wajahnya Salman langsung berubah drastis sedikit ada guratan rasa kecewa tapi, ia belum berputus asa.


"Kalau boleh tahu alamat rumahnya dimana?" Salman berharap pertanyaannya itu membuahkan hasil.


"Kalau rumahnya Ani, maaf kami juga kurang tahu karena ia baru tiga hari bekerja disini Pak," ungkapnya perempuan itu.


Rasa sedih, kecewa, jengkel dan marah sudah bercampur menjadi satu bagian di dalam pikirannya. Salman mendengus kesal karena pencariannya hanya membuahkan hasil yang sia-sia belaka.


"Makasih banyak," tuturnya Salman lalu berjalan lesu kre arah lift.


Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya terhadap First Love Rubi Salman dengan caranya:


Like Setiap babnya, Rate bintang lima, Favoritkan agar tetap mendapatkan notifikasi, Bagi gift poin atau koinnya dan klik iklannya juga yah kakak readers...


Mampir juga dinovel aku yang lain:



Merebut Hati Mantan Istri.


Duren, i love you


Bukan Yang Pertama


Cinta Pertama



Makasih banyak all readers… I love you all..

__ADS_1


by Fania Mikaila Azzahrah


Makassar


__ADS_2