
Salman akhirnya menyandang status barunya sebagai duda keren diusianya yang baru 27 tahun itu.
Salman menyugar rambutnya kebelakang dengan gusar karena ia tidak menyangka jika perempuan yang dicintai dan disayanginya itu ternyata menggugat cerainya.
"Aku tidak boleh terpuruk dalam keadaan seperti ini, aku harus bangkit mungkin ini sudah jalannya dan takdir yang harus aku terima dengan ikhlas dan lapang dada," Salman menghembuskan nafasnya dengan cukup keras.
Bu Arini yang melihat kondisi kekalutan anak tunggalnya itu memeluk tubuhnya Salman dari belakang.
"Kamu harus kuat Nak ini yang terbaik untuk rumah tanggamu, Mama akan selalu bersamamu melewati semua ini," ucapnya Bu Arini yang sedih melihat kehidupan rumah tangga putra semata wayangnya.
"Saya akan berangkat hari ini juga ke Makassar, Mama urus terlebih dahulu semua masalah rumah yang dijual oleh Ayesha, maafkan Salman jika harus pergi lebih duluan ke Makasar," ucapnya sendu Salman.
__ADS_1
Ibu Arini tersenyum teduh ke arah anaknya," kamu bersabarlah insya Allah akan indah pada waktunya, kalau kamu sudah siap ke Sulawesi kamu hubungi kakak sepupumu Andi agar dia mengurus yang disana," nasehatnya Bu Arini
"Iya Ma, kalau gitu kita pulang secepatnya mumpung masih ada waktu yang cukup banyak untuk mengemasi barang-barang yang akan nantinya aku bawa ke Makassar," ucap Salman.
Kedua orang beda generasi itu berjalan masuk ke dalam mobilnya dengan perasaan yang berbeda-beda.
Sedangkan di tempat yang cukup jauh harus menyebrang pulau, seorang gadis muda sesekali sesenggukan memegangi perutnya yang masih datar itu.
Faris dan bundanya tanpa sengaja mendengar perkataannya Rubi mereka saling berpandangan satu sama lainnya.
"Nak, apa kamu belum menemukan pria yang telah mengambil kesucian adikmu? Bunda tidak ingin melihat adikmu seperti ini terus, bunda bisa bersabar menerima calon bayinya Rubi, tapi jika anak yang tidak bersalah sedikitpun harus hidup tanpa ayahnya bagaimana nasib dan masa depannya kelak, itulah yang bunda khawatirkan," keluhnya Bu Humairah bundanya Rubi dan Fariz.
__ADS_1
Fariz berusaha untuk menenangkan ibunya itu," insya Allah…Fariz berjanji akan mencari pria itu sampai ketemu sebelum perutnya Rubi semakin membesar, untungnya kita sudah pindah ke Makassar sehingga kenyataan kehamilan Rubi cukup kita saja yang tahu, lingkungan perumahannya juga tidak begitu peduli dan kepo dengan kehidupan rumah tangga tetangganya dibandingkan dengan rumah lama kita Bun," ujarnya Faris yang bahu membahu saling membantu dalam menangani trauma dan penyakitnya Rubi beberapa bulan ini.
Bu Humairah dan anak sulungnya berpura-pura tidak mendengar keluhannya Rubi.
"Assalamualaikum bidadari tercantiknya Bunda," sapanya Bu Humairah dengan seulas senyuman yang tersungging di bibirnya indahnya.
Rubi yang mendengar perkataan dari bundanya segera menyeka air matanya dengan diam-diam dan berusaha untuk menetralkan perasaannya itu agar tidak ketahuan jika sudah menangis.
Rubi berusaha untuk tersenyum walaupun tipis dan sedikit dipaksakan," waalaikum salam Bunda, Abang Fariz,"
"Ini ada makanan yang khusus bunda buatkan untuk putrinya Bunda dan calon cucuku, ada rujak buah yang sejak kemarin kamu ingin makan," imbuhnya Bu Humairah sambil meletakkan nampan yang berisi beberapa jenis makanan diantaranya rujak buah, sate ayam dan juga jus alpukat sesuai yang dipesan oleh Rubi.
__ADS_1