First Love Rubi Salman

First Love Rubi Salman
Bab. 44


__ADS_3

"Ya Allah… kenapa Mas Salman tidak mengerti dengan apa yang sudah aku putuskan, karena apapun yang kamu lakukan aku tidak akan mengijinkan kamu untuk mendekati ataupun menyentuh putraku!"


Rubi keesokan harinya pagi-pagi sekali, pergi dari rumahnya semula yang sudah meminta ijin kepada bundanya itu terlebih dahulu. Rubi memilih untuk tinggal di rumah dinasnya tanpa sepengetahuan dari Salman dan yang lainnya. Rubi memang menutupi kenyataan yang ada,ia tidak ingin Salman datang lagi menganggu ketenangan kehidupannya.


Faris tidak pergi dari tempat rumah lamanya, karena ia sudah menikah dengan Rindi tanpa ada yang mengetahui latar belakangnya Rindi sebelumnya yang mantan pasien RSJ. Makanya ia tidak mungkin pergi meninggalkan istrinya seorang diri atau memutuskan hubungan silaturahmi dengan mama mertuanya dan kakak iparnya itu.


Satu tahun kemudian…


Seorang anak kecil bermain bola di sebuah taman sedangkan mamanya duduk di kursi taman bercat putih itu dengan terus memandangi apa yang dilakukan oleh putra semata wayangnya itu.


Hari itu hari minggu sehingga memiliki banyak waktu luang bersama putranya. Ia hanya duduk mengamati interaksi beberapa anak seusia dengan putranya itu. Tiba-tiba ponselnya berdering hingga ia harus mengangkat telponnya dan berjalan sedikit menjauh dari kebisingan suara teriakan anak-anak.


Rubi melupakan anaknya jika ia hanya seorang diri tanpa pengawasan orang besar ataupun orang dewasa. Saking asyiknya menelpon, Rubi semakin melupakan kondisi dan keberadaan dari putranya itu. Hingga suara teriakan dari seseorang mampu mengalihkan perhatiannya dari handphone genggamnya itu.


"Awas!" Teriak beberapa orang yang melihat ada anak kecil yang menyebrang jalan sambil mengejar sebuah bola yang terus menggelinding di tengah jalan.


"Stop!! Ada anak kecil!" Teriak seorang ibu-ibu.


Cittt!!!


Suara decitan nyaring terdengar menggema seantero taman. Rubi menolehkan kepalanya ke arah sumber suara dan betapa terkejutnya melihat putranya yang sudah berdiri di tengah jalan dengan mobil yang mengarah ke arah Nizam. Rubi melempar hpnya dan segera bergerak cepat untuk menolong anaknya itu.

__ADS_1


"Nizam lari nak!" Jeritnya Rubi Aliya.


Rubi sudah menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya itu karena tidak kuasa melihat adegan tabrakan tersebut antara putranya yang baru berusia 1 tahun delapan bulan itu.


"Aahhh tidak!!" Pekik Rubi.


Berselang beberapa menit kemudian, Rubi masih tidak sanggup untuk melihat apa yang terjadi pada anaknya, tapi ia juga heran kenapa tidak ada yang aneh dengan kejadian itu.


Tak disangka ada seseorang yang menarik ujung hijabnya berulang kali barulah Rubi membuka matanya yang sejak tadi terpejam karena tidak mampu melihat putranya yang hampir ketabrak mobil.


"Mom… moms…" ucap anak kecil yang masih cadel dalam berbicara mengingat umurnya yang masih sangat kecil.


Rubi memalingkan wajahnya ke arah belakang dan betapa terkejutnya melihat siapa yang menarik ujung hijab berwarna ungu muda itu, tidak lain dan tidak bukan adalah anaknya yang dianggapnya sudah tertabrak.


Rubi tanpa melihat siapa yang menggendong anaknya segera meraih tubuhnya Nizam Alayyubi. Ia memeriksa berulang kali tubuh putranya itu, hingga dari ujung kaki sampai ujung rambutnya.


"Syukur Alhamdulillah kamu baik-baik saja Nak, mama sangat bersyukur dan gembira setelah melihatmu selamat tidak terluka sedikitpun," imbuhnya Rubi Aliya yang meneteskan air matanya saking senangnya karena anaknya selamat dari kecelakaan maut itu.


"Besok-besok kalau ajak anaknya bermain di taman, jangan ditinggal Bu, untungnya ada seseorang yang sigap menolongnya jika tidak kemungkinannya Anda tidak akan melihat anak anda lagi," ketusnya seorang ibu-ibu yang tadi jantungnya hampir copot gara-gara kaget.


"Maaf Bu, makasih banyak atas bantuannya dan nasehatnya Bu," ucapnya Rubi dengan berusaha untuk tersenyum walaupun dia masih ketakutan.

__ADS_1


"Tidak perlu berterima kasih kepada kami karena bukan kami yang menolong anak anda, tapi orang yang berdiri di depan anda yang sudah berjasa besar berguling dan menyelamatkan putra anda Bu,"


Rubi masih asyik memeluk tubuh putranya dan tidak memperhatikan siapa orang yang menolongnya.


"Pa..pa papapa," celotehnya Nizam.


Rubi barulah mengarahkan pandangannya ke arah orang itu dan Rubi terdiam mematung mengamati dengan seksama siapa orang itu. Ternyata pria yang hampir setahun lebih ini tidak dilihatnya, pria yang selalu dihindarinya itu. Papa biologisnya Nizam yang selama ini berusaha untuk mencari keberadaan Rubi dan putra kandungnya itu.


"Abang Salman," beonya Rubi.


Keduanya pun meninggalkan taman bermain itu dengan perasaan yang berbeda pula. Nizam terus berceloteh dalam gendongan papanya. Taman bermain yang letaknya tidak jauh dari kompleks perumahan tersebut sehingga cukup berjalan kaki pagi itu.


"Makasih banyak Abang sudah tolongin Nizam," ucapnya Rubi seraya membuka kenop pintu rumahnya itu.


"Kamu tidak perlu repot-repot berterima kasih karena memang ini sudah menjadi kewajiban aku sebagai papanya," imbuhnya Salman Sayed Alfarizi.


Waktu terus berlalu hingga satu minggu pun terlewati, hubungan keduanya kembali akrab. Salman seringkali mengunjungi putranya itu dan berharap Rubi menerima lamarannya.


"Maafkan saya Abang,saya belum siap untuk menikah, kalau alasannya Abang karena ingin bertanggung jawab terhadap putranya Abang Nizam, tanpa menikah juga bisa kok, biarkan lah hubungan kita ini berjalan seperti ini jika kita jodoh pasti bertemu dan bersatu juga."


Ucapannya dan keputusannya Rubi dihormati oleh Salman, bunda dan neneknya Nizam serta kakaknya Fariz. Mereka tidak ingin memaksakan kehendak mereka. Selama Rubi bahagia Itu sudah lebih dari cukup.

__ADS_1


Hubungan mereka semakin akrab dan membesarkan dan mendidik anaknya tanpa harus menikah itulah komitmen bersama mereka hingga Nizam dewasa. Karena jika hati sudah tak mau tidak ada yang bisa memaksanya.


...--------TAMAT--------...


__ADS_2