First Love Rubi Salman

First Love Rubi Salman
Bab. 43


__ADS_3

Fariz menatap tajam ke arah Salman," sepertinya skor kita 2-1 tidak berimbang, padahal aku juga punya alasan untuk memukulmu!" Sarkas Fariz Al-Ghazali.


Salman mengerutkan keningnya karena, tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Fariz.


"Maksud loh apa?!" Ketusnya Salman.


"Kamu tidak perlu berlagak pura-pura tidak mengerti, apa kamu ingat gadis remaja yang kamu perawanin sekitar kurang lebih dua tahun lalu di pulau Dewata Bali tepatnya di Jimbaran, sepertinya saya tidak perlu menjelaskan lebih detail lagi karena gadis itu adalah adikku yang kamu buat hamil hingga adikku punya anak di luar nikah itu semua gara-gara kamu untungnya kami selalu mendukung dan menyemangati adikku, andai tidak mungkin dia sudah lama mati!" Geramnya Fariz.


"Abang! Apa maksud dari perkataan Abang, apa benar dia pria yang telah menghamiliku!?" Tanyanya Rubi dengan melototkan matanya dan baru kali berbicara kasar dengan volume suara yang cukup tinggi.


Rubi, Bu Nurhalizah dan Bu Humairah Razak terkejut bukan main karena tidak menyangka jika pria yang dianggap mereka baik itu adalah pria bejak.


"Itu tidak mungkin, bukannya adikmu menikah dengan pria lain lalu memiliki anak?" Tanyanya Salman yang baru tersadar jika Rubi selama ini hamil karena anaknya bukan pria lain.


"Hahaha menikah, andaikan Rubi mau menikah itu lebih bagus lagi tapi adikku sudah menutup diri dan menolak semua lamaran dari pria yang baik, ini semua gara-gara kamu Salman Al Farisi Aziz!" Kesalnya Fariz.

__ADS_1


Air matanya Bu Humairah dan bbu Nur tak terbendung lagi, mereka tidak menyangka jika anak mereka saling berkaitan dan berhubungan padahal, hampir dua tahun mereka saling bertetangga dan saling berhubungan baik, tapi bodohnya tidak ada yang mengetahui hal tersebut.


Bu Nur berjalan ke arah putra sulungnya itu kemudian tanpa segan menampar wajahnya Salman sekuatnya.


Air matanya menetes membasahi pipinya itu, "Ibu tidak menyangka jika kamu sungguh brengsek, aku sangat malu mempunyai seorang putra sepertimu Salman, Ibu mungkin telah salah didik kamu Nak, padahal semua masalah yang menimpa adikmu Rindi karena kesalahannya sendiri, tidak baik memaksakan kehendak kita kepada orang lain, yang seharusnya kamu lakukan adalah perbanyak introspeksi diri bukan balas dendam seperti ini, apa calon anakmu dulu bersama Ayesha keguguran karena karma ini!?" Geramnya Bu Nur.


"Abang aku tidak menyangka jika kamu selama ini dekat denganku, kamu sudah tahu jelas-jelas kamu yang membuat aku hamil tapi kenapa! Kamu tidak bertanggung jawab atas perbuatanmu! Kenapa?!" Teriaknya Rubi kemudian menampar pipi kanannya Salman.


Plak!!


"Rubi bagaimana pun dia adalah papa biologisnya Nizam Nak, memang apa yang dilakukannya sudah salah besar dan keliru tapi bagaimanapun juga dia tetap lah papanya ibarat kamu cuci selautan sesamudra pun ikatan darah tetaplah sama,kamu tidak bisa memungkiri jika dia adalah papanya Nizam," bujuknya Bu Humairah Razak.


"Rubi jangan mau lemah dan lembek menghadapi pria seperti dia! Kalau perlu kamu pergi saja dari Makassar untuk selamanya biarkan saja dia seorang diri hingga dia menjadi kakek-kakek, karena dia belum tahu rasanya sakitnya sedihnya kecewanya dan hancurnya berada di posisimu nak, Tante dukung apa pun yang kamu pilih," tegas Bu Nur seraya meraih Nizam didalam stroler bayinya berwarna biru tua itu.


"Mama! Apa maksudnya sengaja mendukung dan menganjurkan agar Rubi pergi menjauh dari sini, kenapa Mama lebih memihak kepada Rubi bukan aku anaknya mama sendiri!" Dengusnya Salman.

__ADS_1


"Abang stop, aku mengerti dengan sangat kenapa mama berbicara seperti itu, ini semua karena pilihan Abang sendiri yang terlalu egois dan jahat banget sehingga gadis yang tidak berdosa pun jadi amukan dan pelampiasan amarahnya Abang, kalau aku jadi Rubi akan melakukan hal itu juga,"


Rubi dan Fariz segera pergi dari ruangan itu mereka cukup jadi tontonan gratis dari beberapa pengunjung rumah sakit. Rubi segera mengambil anaknya dalam gendongan neneknya sendiri.


"Maaf Tante kami harus pergi," Rubi dengan sedikit memaksa Bu Nur untuk mengambil anaknya itu.


Bu Nur enggan untuk berpisah dengan cucu pertamanya tersebut. Faris menatap intens ke arah Rindi di dalam sorot mata keduanya saling menyiratkan bahwa mereka sama-sama merindukan kehadiran masing-masing.


Satu bulan kemudian setelah kejadian itu…


Rubi lebih tertutup dari dunia luar, setiap hari berangkat kerja membawa anaknya untungnya atasannya dan beberapa rekan kerjanya tidak mempermasalahkan Rubi menbawa anaknya itu.


Hari ini Salman berusaha untuk bertemu dengan putranya itu, ia sangat merindukan bayi berusia sepuluh bulan itu.


"Ya Allah… ijinkan aku bertemu dengan putraku, kenapa aku sangat sulit untuk bertemu dengan anakku sendiri," Salman sudah berdiri di depan pagar rumahnya Rubi hingga menjelang magrib tiba tapi Rubi dan penghuni rumah tersebut belum ada tanda-tanda jika mereka belum pulang juga.

__ADS_1


Setiap hari seperti itu terjadi, Rubi akan balik ke rumahnya setelah Salman pulang.


__ADS_2