
Fariz menaiki undakan tangga dengan langkahnya yang panjang. Ia mencengkeram kuat genggaman tangannya saking marahnya. Tapi ia tidak tahu harus melampiaskan pada siapa.
Rubi sudah bersiap untuk pergi memeriksakan kondisi kesehatannya di rumah sakit. Begitupun halnya dengan Bu Humairah. Pintu kamarnya terbuka lebar dan mereka melihat raut wajahnya Fariz yang tidak seperti biasanya.
Rubi yang melihat abangnya tidak seperti biasanya merasakan ketakutan karena jika mimik wajahnya seperti itu berarti ada hal yang genting dan urgen yang terjadi yang membuat kakaknya seperti itu.
"Abang Fariz!" Beo Rubi.
Fariz segera berjalan menaiki undakan tangga untuk menuju kamar adiknya. Ia tidak ingin mempercayai bukti rekaman video yang telah dikirim oleh seseorang ke nomor hpnya.
"Aku yakin jika ada konspirasi dibalik semua kejadian yang menimpa adikku Rubi, aku akan mencari tahu siapa sebenarnya pria yang telah mengirim pesan tersebut dan aku akan menemui Salman dan Afrizal untuk meminta keterangan dari kejadian itu," batinnya Fariz Elrumi Aziz.
Baru beberapa langkah kakinya menaiki anak tangga,ia melihat Bunda dan adiknya berjalan sambil bergandengan tangan. Fariz memperhatikan dengan seksama wajah adiknya yang tampak pucat pasi.
"Bunda dan Rubi mau kemana, kenapa gandengan tangan segala," Tanyanya sekedar basa-basi yang sudah merasakan keanehan ketika melihat raut wajahnya Rubi yang seperti seorang penyakitan saja.
Bu Humairah yang mendengar seruan dari anak sulungnya segera menghentikan langkahnya lalu menjawab pertanyaan tersebut," bunda mau antarin adikmu ke rumah sakit karena sejak kemarin muntah-muntah terus dan sudah hampir lima hari tidak ada nafsu makannya, mungkin adikmu asam lambungnya tinggi," jawabnya Bu Humairah panjang lebar.
"Apa jangan-jangan Rubi hamil? Ya Allah… tolonglah kami semoga hanya sekedar firasat aku saja," Fariz berdiri tak bergeming ditempatnya.
__ADS_1
"Abang! Apa yang terjadi denganmu, apa Abang sakit?" Tanyanya Rubi yang keheranan melihat reaksi Abangnya yang menurutnya lain-lain.
"Fariz! Abang Fariz!" Tegurnya Bu Humairah yang sedikit mengeraskan suaranya untuk menyadarkan anak sulungnya agar berhenti untuk melamun.
Fariz segera menghentikan lamunannya," maaf Bunda," ujarnya yang tersenyum tipis.
Bu Humairah tersenyum menanggapi tingkah laku anaknya itu, "Abang apa kamu bisa mengantar kami ke dokter Nak?" Bu Humairah berbicara dengan sangat pelan dan penuh kelembutan.
"Bisa kok Bunda, kalau gitu kalian tunggu aku di teras depan, aku akan mengganti pakaian aku sebentar saja," imbuhnya Fariz.
"Kalau gitu kami tunggu Abang di depan, tapi jangan lama-lama kasihan adik kamu nanti mual dan muntah lagi," pintanya Bu Humaira.
"Aku berharap kepadaMu ya Allah semoga adikku baik-baik saja dan feelingku yang tidak baik itu tidak jadi kenyataan," Gumamnya Fariz sembari membuka lemari pakaiannya lalu mengambil baju dengan celana secara acak dan sembarang saja.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah berada di jalan raya protokol ibu kota Jakarta. Mobil mereka sempat mengalami kemacetan yang cukup panjang. Untungnya Rubi masih sanggup untuk menahan gejolak dari dalam perutnya yang ingin memuntahkan apa yang masih terdapat di dalam lambungnya itu.
Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya terhadap First Love Rubi Salman dengan caranya:
Like Setiap babnya, Rate bintang lima, Favoritkan agar tetap mendapatkan notifikasi, Bagi gift poin atau koinnya dan klik iklannya juga yah kakak readers...
__ADS_1
Mampir juga dinovel aku yang lain:
Merebut Hati Mantan Istri.
Duren, i love you
Bukan Yang Pertama
Cinta Pertama
Makasih banyak all readers… I love you all..
by Fania Mikaila Azzahrah
Takalar, Selasa, 2November 2022
__ADS_1