
Apa yang kedua perempuan beda usia itu perbincangkan menjadi tontonan dari seseorang yang berdiri dibalik pagar besi rumahnya yang bercat putih itu yang setiap hari mengamati apa yang dilakukan oleh Rubi dengan keluarganya itu. Sejak kedatangannya di lingkungan komplek tersebut yang baru sekitar sebulan lebih tinggal di daerah itu selalu memperhatikan Rubi secara diam-diam.
"Ternyata dia sudah hamil berarti dia perempuan bersuami, sayangnya padahal rencananya aku ingin jodohkan dengan putraku," gumamnya sambil menarik pagar tersebut yang baru saja melepas kepergian anaknya untuk bekerja.
Rubi hari ini berangkat ke kampusnya dengan menaiki taksi online, tapi belum sampai di kampusnya di jalan Urip Sumoharjo Makassar. Mobil yang ditumpanginya pagi yang cukup mendung hari itu terpaksa berhenti karena mesinnya mogok.
"Mbak maaf yah, sepertinya mobilku harus aku bawa ke bengkel, Mbak naik mobil saja untuk lanjut ke kampusnya masalah ongkosnya tidak perlu dibayar kok Mbak," ucapnya supir tersebut setelah memeriksa mesin kendaraan roda empatnya itu.
Rubi pun keluar dari mobil tersebut dan mengambil uang berwarna ungu bergambar pahlawan yang memegang pedang, walau baru sekitar beberapa menit mobil itu melaju tapi, baginya Rubi tetap harus membayar ongkosnya walau hanya separuh saja.
"Ini pak sedikit, enggak enak kalau sudah numpang tapi nggak bayar walau hanya sedikit saja, terima yah pak maaf sedikit," ujarnya Rubi sambil menyodorkan uang pecahan sepuluh ribu sebagai biayanya.
__ADS_1
"Tidak usah Mbak, tidak apa-apa kok saya ikhlas," tolaknya bapak itu.
"Saya juga ikhlas kok Pak, kalau tidak mau ambil anggap saja sebagai uang jajannya anaknya Bapak di rumah," paksanya Rubi yang kembali memberikan uang tersebut kedalam tangannya Pak supir ojol.
"Alhamdulillah kalau begitu makasih banyak Mbak, maaf sudah menghambat perjalanan ke kampusnya," sesalnya Pak supir.
Rubi tersenyum lembut," tidak apa-apa pak ini semua sudah kehendak Allah SWT, jadi santai saja kalau gitu aku pamit mau tunggu bis di sebelah pak, assalamualaikum," pamitnya Rubi.
Rubi segera menyebrang jalan untungnya di sekitar tempat itu ada halte bus sehingga memudahkan perjalanannya kembali. Rubi duduk di dalam halte busway, tapi sudah hampir setengah jam berlalu satupun sama sekali tidak ada yang lewat di depan jalan raya itu.
Ya Allah… kenapa tidak sekali kendaraan yang lewat,apa aku pesan ojek online saja dari pada nungguin lama bisa-bisa aku terlambat lagi.
__ADS_1
Baru beberapa detik Rubi berencana untuk memesan ojol,tapi hujan pun turun derasnya hingga Rubi terpaksa mengurungkan niatnya.
Hujan juga semoga saja taksi aku pesan secepatnya datang, masalahnya dosen kali ini cukup disiplin dan kalau terlambat tidak bisa ikut mata kuliahnya hari ini.
Tiba-tiba saja ada mobil sedan merah berhenti di depannya itu. Ujung gamisnya Rubi sudah terkena beberapa cipratan air hujan yang bercampur dengan lumpur. Hingga sebuah payung sudah menaunginya tanpa disadarinya itu.
"Kamu ikut bareng di mobilku saya akan mengantarkan kamu berangkat kampus," tawarnya pria itu yang tersenyum tipis melihat Rubi yang menatapnya dengan intens.
"Maaf makasih banyak, tapi saya sudah pesan ojol kok, dan maaf saya tidak pernah ikut di dalam mobil orang yang sama sekali tidak saya kenali, jadi makasih banyak atas bantuannya," tolaknya dengan halus dan sopan Rubi.
"Saya adalah teman kuliah sekaligus teman SMA-nya juga kakakmu Faris Al-Ghazali," balasnya pria itu yang bersekukuh dan ngotot ingin mengantar Rubi hingga ke kampusnya.
__ADS_1
Rubi menatap ke dalam dua pasang netra hitamnya pria yang cukup ganteng dengan stelan pakaian kerjanya yang membuatnya semakin tampan saja. Untungnya pria itu punya cukup banyak waktu luang untuk mengantar Rubi hari itu.