First Love Rubi Salman

First Love Rubi Salman
Bab. 9


__ADS_3

"Lepas!! Kenapa kalian memegang tanganku!! Tolong lepaskan aku!" Pintanya Rubi yang sudah mulai ketakutan melihat sorot mata mereka yang licik dan penuh maksud.


Dia menatap tajam ke arah pria itu. Wajahnya keheranan bercampur marah. Orang itu satu pun tidak dikenalnya. Ia berusaha untuk mengenali mereka tapi susah, karena pencahayaan yang kurang lagian mereka memakai topeng.


"Lepaskan tanganku!!" Teriak Rubi yang tidak menyukai karena ada pria lain yang menyentuh pergelangan tangannya dengan paksa dan menyakitinya karena mereka cukup kuat memegang tangannya Rubi.


Rubi semakin ketakutan saat ada seseorang yang menarik tangannya dengan paksa," "Lepaskan tanganku!!" Teriak Rubi yang berusaha untuk melepaskan pegangan tangan dari dua pria yang bertubuh besar itu.


Kefua pria itu mengelilingi Rubi, mereka saling berpandangan dan tersenyum licik satu sama lainnya.


"Ka-lian sia-pa? ke-na-pa ka-lian meng-hen-ti-kan lang-kah-ku?" Tanyanya dengan tidak menyukai perbuatan pria itu dengan nada suara yang terbata.


Pria itu tersenyum licik karena sudah berhasil membuat Rubi ketakutan, "Cantik tenanglah kami ini orang baik kok," ucap pria yang bertopeng hijau itu.


"Ya Allah… mereka siapa,apa maksud mereka menghadang ku jalanku?" Batinnya Rubi.


"Iya betul sekali jadi kamu tidak perlu khawatir dengan apa yang akan Kami lakukan Nona manis," timpalnya rekannya yang memakai topeng biru dengan tangannya yang mulai nakal ingin mencolek pipinya Rubi.


Rubi secepatnya berpaling agar wajahnya tidak tersentuh dan terkontaminasi dengan tangan pria kotor yang tidak dikenalnya.


"Ternyata gadis ini sangat cantik, sayangnya bos melarang kita untuk menyentuh, mencicipi dan menikmatinya walaupun hanya secuil saja." Umpat pria yang sedikit tambun itu memakai topeng biru


Dengan matanya yang jelalatan memperhatikan wajah hingga bentuk tubuhnya Rubi dari ujung kaki hingga ujung rambutnya. Ia mengendus aroma wanginya parfum yang dipakai oleh Rubi.

__ADS_1


"Bos hentikan, apa Bos ingin dihukum oleh pria yang menyuruh kita?" cegah rekannya untuk menyadarkan bosnya yang hampir hilang kendali itu.


"Tubuhnya terlalu menggoda buatku, padahal masih gadis kecil," kilah si Botak.


Dia menelan air liurnya sendiri yang sudah berusaha menahan hasratnya hanya melihat sepintas bentuk tubuhnya Rubi yang bak gitar Spanyol di umurnya yang masih belia.


"Bawa dia ke dalam kamar yang sudah kita persiapkan, aku akan menelpon Si Bos untuk segera datang ke sini!" perintah si Botak yang tidak kuasa menahan hasratnya yang sudah berada di ubun-ubunnya.


Teriak orang yang dipanggil bos tersebut. Anak buahnya yang dua orang segera membawa Rubi ke suatu tempat. Karena lokasi tempat Rubi yang jauh dari tempat pesta membuat tidak ada yang menyadari apa yang dilakukan oleh ketiga pria tersebut.


"Hey!! Kamu mau bawa kemana Aku?" teriak Rubi yang berusaha terus meronta ingin meloloskan diri dari orang itu dengan tetesan air matanya sudah membasahi pipinya itu.


"Percuma saja kamu berteriak, tidak akan ada orang yang mendengar teriakanmu, jadi simpan saja tenagamu untuk melayani pria yang telah membayar kami," sahut pria yang gondrong itu dengan senyuman liciknya.


"Iya betul jadi tidak usah buang-buang waktumu karena hanya sia-sia saja," timpalnya yang berkepala plontos itu.


"Stop!!!! Kamu bisa diam tidak, kalau Kamu tidak diam kami akan memukulmu!!" Hardik Pria gondrong yang sudah mengagungkan tangannya ke arah wajah Rubi yang siap menamparnya.


Mereka terus berjalan melewati beberapa lorong dan ruangan. Kafe itu sungguh sangat besar. Hingga apa yang dilakukan oleh ketiganya tidak ada yang mengetahui dan memperhatikannya.


"Cepat ambil botol yang berisi jus tadi," pinta si Botak.


"Baik Bos," jawabnya sembari membuka tutup botol air mineral yang ada berubah warna menjadi air jus buah jeruk.

__ADS_1


"Ayolah cantik, pasti kamu hauskan setelah sedari tadi berteriak," Pria itu mengangkat sebuah gelas yang sudah disiapkan oleh anak buahnya sedari tadi.


Anak buahnya segera memberikan sebuah gelas yang sudah berisi jus jeruk ke depan matanya Rubi yang sudah ketakutan dengan lelehan air matanya membasahi pipinya. Dia memalingkan wajahnya agar minuman yang diyakininya ada sesuatu yang tidak beres di dalamnya agar tidak masuk ke dalam tenggorokannya.


"Kenapa sih sedari tadi Kamu paksa aku untuk minum?" ucapnya yang tetap bersikukuh untuk tidak meminumnya.


Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya terhadap First Love Rubi Salman dengan caranya:


Like Setiap babnya, Rate bintang lima, Favoritkan agar tetap mendapatkan notifikasi, Bagi gift poin atau koinnya dan klik iklannya juga yah kakak readers...


Mampir juga dinovel aku yang lain:



Merebut Hati Mantan Istri.


Duren, i love you


Bukan Yang Pertama


Cinta Pertama


__ADS_1


Makasih banyak all readers… I love you all..


by Fania Mikaila Azzahrah


__ADS_2