
“Tentu saja, penyanyi rookie terbaik tahun ini, jatuh pada…”
Trace menyilangkan jari telunjuk dengan jari tengahnya, matanya terpejam keras, dan jantungnya berdegup kencang.
“Gracy Manson! Selamat, Grace!”
“Yes! Grace!” Trace melompat berdiri, lalu menepukan tangannya. Rumahnya yang sepi membuat suara tepukan tangannya menggema, begitu pula dengan suara sorakan dan tepuk tangan yang keluar dari televisi di hadapannya.
Mata Trace kembali terfokus pada televisi yang menampakan gadis dengan gaun nila panjang, berjalan menaiki panggung dengan anggunnya. Wajahnya terlihat mirip—bahkan identik—dengan Trace dan senyumnya yang terkenal itu mengembang dengan bangga. Trace kembali duduk saat saudari kembarnya mulai mendekatkan bibir ke pengeras suara.
“Terimakasih kepada semua orang yang telah mendukungku. Mama, dan Papa yang aku yakin menjadi
pembeli terbanyak albumku, juga Tracy yang mungkin sedang sibuk-sibuknya menulis novel seri ketiganya. Dan tidak terlupakan juga semua fans yang mau datang dan mendukungku hari ini, aku bukan apa-apa tanpa kalian.”
Gracy melambaikan tangannya, lalu kembali turun panggung dengan hati-hati. Sebuah piala berkilau kini sudah di
dekapannya. Trace tersenyum lebar, lalu kembali duduk. Semua yang menjadi kebahagiaan Grace akan selalu menjadi kebahagiaan Trace juga. Seberapapun jauh jarak yang memisahkan mereka, Gracy dan Tracy berasal dari satu telur yang sama, tidak akan sulit bagi mereka merasakan apa yang dirasakan satu sama lain.
Tracy mematikan televisinya setelah yakin wajah Grace tidak akan ditampilkan lagi, lalu kembali ke kamarnya. Bubble, anjing pom coklat mininya masih bergelung disana, tertidur. Udara memang sedang agak hangat. Bubble selalu tertidur di saat-saat udara hangat, dan lalu menjadi hiperaktif saat udara mendingin. Tapi bisa apa Trace tanpa Bubble? Apartemennya memang sangat kecil, tapi tanpa teman Trace bisa jadi seonggok daging tidak
bergerak.
Kedua tangan Trace, sudah kembali siap di atas laptopnya, mencoba untuk mengingat apa saja yang ia ingin tulis tadi. Tayangan singkat Grace membuatnya sedikit melupakan konsep ceritanya sendiri. Kini Trace masih mengawang di udara, namun setelah beberapa kalimat terketik, ia tenggelam lebih jauh ke dalam ceritanya dan lalu jarinya akan menari begitu saja.
Ia mengangguk setelah membaca kalimat terakhir dan mulai mengetik:
__ADS_1
Lalu, disinilah kisahku dimulai.
Tracy Manson, adalah saudari kembar dari Gracy manson. Ya, Gracy, penyanyi yang sedang naik daun dan model top itu. Tapi tidak ada yang mengira bahwa Tracy—yang memiliki wajah cantik Gracy yang katanya sudah dinobatkan sebagai model tercantik sejagad raya dibawah umur 25—sama sekali tidak memiliki sifat lembut dan anggun seperti kakaknya. Gracy berdiri di atas runway, sedangkan Tracy duduk di belakang komputernya. Walaupun tak urung wajah dan tubuh Tracy yang ramping sempat menghiasi beberapa sampul majalah terkenal, Tracy merasa tampil di depan umum itu terlalu melelahkan.
Tracy Manson baru saja lulus kuliah, dan sekarang gadis itu gencar mencari pekerjaan. Walaupun ayahnya, punya satu showroom dan bengkel yang cukup sukses, ibunya punya restoran kecil dan tak lupa Gracy yang sedang sukses-suksesnya itu tetap mengirimi uang pada Tracy, tapi ia tidak bisa selamanya diurusi bak anak kecil oleh keluarganya. Trace juga harus bisa menghidupi dirinya sendiri. Ibunya sudah menawarkan lowongan sebagai barista di restoran temannya, tapi keinginan Trace hanyalah menulis, memasak hanya sekedar hobinya.
Seri novel romansanya yang baru sudah ditunggu dengan ekspektasi tinggi oleh pembaca setianya. Sebuah novel sastra cinta yang menceritakan tentang sepasang kekasih yang tidak bisa bersama hanya karena adanya seorang gadis yang merupakan sahabat tokoh utama juga jatuh pada lelaki yang sama dengannya. Trace awalnya tertawa geli dengan ide itu. Itu cerita yang sudah pasaran. Tapi setelah ia berpikir betapa pasarannya cerita itu, Trace justru memilihnya untuk menjadikan tema pasaran itu sebuah cerita unik yang berbeda dengan roman-roman lainnya. Tapi sayang otaknya tidak selalu menari secepat jemarinya. Ketika hal itu terjadi, Tracy selalu punya satu orang yang bisa memberinya pencerahan.
“Tracy!”
Gadis berambut coklat terang itu mengangkat kepalanya yang awalnya menunduk menatap layar laptop saat mendengar namanya disebut, lalu tidak lama senyumnya mengembang, senyum menawan yang hanya dimiliki oleh si kembar Manson. Sedangkan gadis lain, dengan rambut pendek hitam legam, berjalan pelan dari arah pintu masuk toko kopi itu menuju ke arah Trace yang berdua saja dengan laptopnya. Trace spontan kembali sadar dengan lingkungan sekitarnya, dan seolah-olah kelima indranya baru kembali berjalan. Aroma biji kopi kembali meresap ke dalam penciumannya. Aroma itulah yang selalu membuat Tracy bisa konsentrasi pada tulisannya.
Gadis berambut hitam itu menaruh tas tangannya di meja, lalu duduk di sofa menghadap Tracy.
“Kau sudah dari jam berapa duduk disini?” Dari sekali dengar pun semua orang pasti tahu kalau gadis ini bukan orang biasa. Setidaknya dari gayanya berpakaian yang cukup nyentrik dan heboh untuk seukuran pengunjung kafe biasa.
“Jadi.” Kata Violetta saat kembali duduk dengan piring berisi sepotong pai dan segelas kopi di tangan lain. “Apa yang kau ingin aku bantu hari ini?”
Trace berhenti mengetik, lalu menopang dagunya. Ia memandangi layar laptopnya untuk beberapa saat lagi sebelum akhirnya menatap Violetta yang dengan sabar menunggu jawaban Trace sambil mengisi perut.
“Aku… kau tahu aku, Vi, aku belum pernah pacaran. Aku tidak bisa menggambarkan dengan baik suasana ketika Troy berpacaran dengan Henney. Tentu saja aku tahu hal-hal yang dilakukan sepasang kekasih saat mereka berdua, dunia serasa milik berdua, semuanya terasa menyenangkan blablabla dan sebagainya. Tapi aku jadi tidak bisa dengan detail menggambarkan perasaan mereka masing-masing.” Trace menghela napas, lalu mengambil cangkir berisi Green Tea Latte panasnya, lalu menyesapnya sedikit.
Violetta tertawa, lalu mencondongkan badannya.“ Perasaan macam itu, harus kau alami sendiri. Kau tidak bisa minta aku yang gambarkan.” Gadis itu kembali bersandar setelah tertawa kecil. “Kau tahu, kau punya wajah dan postur yang sempurna. Seharusnya itu menjadi poin tambahan yang sangat banyak untukmu menggaet seorang laki-laki.”
Trace mendengus.
__ADS_1
“Ini bukan soal tampang, Vi, ini soal perasaan. Kalau ada yang mendekatiku, itu hanya semata-mata karena aku punya wajah Grace, itu saja.” Trace ikut bersandar, melipat tangannya dengan wajah kesal.
“Oh, omong-omong soal kembaranmu itu, dia menyebut karyamu ini di televisi kemarin malam kan?”
Trace terdiam sesaat, lalu mengangguk-angguk. “Ada apa soal itu?”
“Beberapa pembacaku sangat menanti novelmu. Menanti disini sama dengan sangat antusias. Tidak hanya pembacaku, tapi beberapa teman-teman sekolahku yang dulu, mereka ikut mengontakku hanya untuk menanyakan kapan kau merilis seri itu.”
“Mengontakmu? Untuk apa?”
“Kau…” Violetta berhenti sesaat untuk tertawa dengan nada mengejek. “Kau seperti tinggal dibawah batu, Trace. Kau dan aku pernah menulis novel bersama tahun lalu ingat? Mereka jadi tahu kalau kita ini semacam sahabat novelis dan novel itu jadi novel terlaris dan masuk New York Times. Masa kau tidak tahu? Bahkan judul halaman paling depan surat kabar itu tertera dengan jelas: ‘Asisten Desainer Jesca, Violetta Nakajima dan Saudara Kembar Gracy Manson, Tracy Manson, Menciptakan Novel Luar Biasa.’” Violetta melambaikan kedua tangannya diudara.
“Benarkah? Mereka menulisnya seperti itu? Menciptakan novel luar biasa?” Tracy nyengir jijik.
Violetta mengangguk semangat dengan senyum lebar. Sontak Tracy meledak tertawa.
“Ya ampun, judulnya benar-benar tidak bisa dipikirkan lagi kah? Kau sudah punya studio sendiri!”
Violetta mengangguk-angguk dengan senyum pahit, dan mengaduk Caramel lattenya. “Iya, kau memang betul. Aku yang selalu asisten Jesca, dan kau yang selalu saudara kembar Gracy Manson.”
Tracy ikut tersenyum pahit. “Kita hanya seorang penulis. Maksudku semua orang senang mengetahui macam-macam kisah yang tidak mereka alami. Tapi nampaknya entertainer seperti Grace-lah yang orang lebih suka.” Tracy mengangkat bahunya sekilas. “Aku tak menyalahkan mereka. Maksudku aku tahu Grace cantik dan anggun, dan menawan, dan… eh… sempurna.” Tracy mengedikan bahunya sekali lagi, sebelum kembali menyesap minumannya. Violetta mendengus.
“Ayolah, Trace, nggak seburuk itu. Lagipula berapa banyak tawaran model yang sudah kau tolak? Kau bisa jadi sama besarnya dengan Grace kalau kau mau.”
Tracy menggelengkan kepalanya, bahkan sebelum kalimat Violetta selesai.
__ADS_1
“Tidak, tidak. Itu sama saja dengan mimpi burukku. Katakan bahwa kau tidak lupa apa yang pernah aku ceritakan.”
Violetta hanya mengedikan bahunya. “Ya sudah, kita bertemu disini bukan untuk berdebat soal saudarimu, maupun soal Jesca. Mana, perlihatkan naskahmu padaku.”