
“Ya, tidak perlu formal-formal, santai saja seperti sedang mengobrol.” Teriak seorang laki-laki dengan kameranya yang terangkat. Rambut coklatnya yang gelap menyembul dari balik kamera.
Lelaki itu berdiri tepat di depan gerbang Notre Dame yang di hadapannya berdiri sepasang laki-laki dan perempuan dengan baju pengantin. Lelaki itu bergerak-gerak mencari sisi yang tepat. Di sisinya ada lelaki lain yang memegangi kaca besar dan di sisinya yang lain seorang lelaki mengarahkan kipas angin besar ke arah pengantin. Ia mengambil beberapa foto lagi, sebelum akhirnya mengangguk pada dirinya sendiri.
“Oke! Kita akan istirahat makan siang, dan kembali ke sini jam empat dengan gaun casual. Jangan lupa, pengantin
perempuannya berikan baju warna merah, dan laki-lakinya tidak perlu pakai tuxedo, pakai kemeja putih saja. Kita akan pakai golden hour Notre Dame, lalu setelah itu kita akan menuju Eiffel. Terimakasih.” Arahnya.
Erangan lelah mulai terdengar dari segala sisi halaman Notre Dame. Hanya pasangan pengantinlah yang masih kelihatan segar dan semangat. Kerumunan staf foto mulai bubar satu persatu, begitu juga dengan pengantinnya.
Louis Troya sebenarnya bukanlah fotografer yang benar-benar terkenal, ia hanya tidak sengaja menjadi terkenal saat sebuah majalah olahraga ternama membutuhkan seorang fotografer untuk halaman World Cups. Tadinya mereka ingin menghubungi Luis Trevor, senior yang sudah jauh levelnya diatas Louis Troya yang sempat mengambil foto Olympic Games beberapa tahun lalu dengan hasil luar biasa, namun mereka salah baca, dan Louis
Troya-lah yang dipanggil untuk mengambil foto World Cups. Tapi keberuntungan ada di sisiya ketika hasil jepretannya melebihi ekspektasi klien, dan setelah itu permintaan foto mulai berdatangan.
“Louis.”
Pria yang sedang memeriksa hasil fotonya itu menoleh saat ia merasa namanya dipanggil. Di belakangnya berdiri seorang lelaki yang wajahnya terlihat lebih tua beberapa tahun darinya, menyodorkan ponsel hitam.
“Ada telepon untukmu. Katanya dari Jasper Kendrick. Kau tidak pernah cerita padaku kalau ternyata kau kenal dia.” Protes lelaki itu sebelum menaruh ponselnya di telapak tangan Louis yang terbuka. Louis menyeringai.
“Nanti aku cerita.” Katanya sebelum menempelkan ponsel itu ke telinganya. “Jasper!”
“Halo, Louis. Kau sedang sibuk? Tadi itu asistenmu, kan? Dia bilang kau sedang di Perancis.”
“Ya, bisa dibilang begitu. Kami ada sesi foto pra-nikah di sini. Ada apa? Tumben sekali kau telepon aku siang-siang begini.”
“Siang? Oh, benar kau sedang di Prancis. Aku sedang di Hawaii sekarang, kita beda dua belas jam.”
“Hawaii? Sekarang aku yang tanya, sedang apa kau di Hawaii?” Louis memberi tanda pada asistennya dan kru lain untuk pergi duluan mencari makan, lalu berjalan ke arah teras Notre Dame dan duduk disana.
“Liburan singkat, sekalian main bersama teman-temanku.”
Louis tertawa kecil, spontan ia langsung merasa ingin liburan. “Senangnya jadi kau. Kalau begitu langsung ke intinya saja. Ada apa kau meneleponku?”
__ADS_1
*“Oh ya\, aku hampir lupa. Aku dan tunanganku mau membuat**brand *baru. Temanya kasual dress untuk di buka ke pasaran menengah ke atas. Plus J&K juga sudah mulai banyak pesanan gaun nikah dari kalangan atas jadi aku betul-betul perlu tenaga bantuan. Aku ingin kau jadi fotograferku untuk rilis katalog-katalognya, bagaimana?”
Louis tersenyum lebar mendengar tawaran itu. “Kamu bercanda? Tentu saja aku mau!”
Jasper tertawa kecil. “Aku tahu kau akan antusias. Oh ya, tapi aku tidak hanya minta tolong untuk mengambil gambar, tapi juga untuk modelnya. Desain yang harus aku buat tidak sedikit, jadi aku tidak akan punya waktu untuk mencari model. Dari sekitar tiga puluh desain yang aku buat baru dijahit lima dan dua diantaranya tidak sesuai dengan keinginanku. Aku akan sibuk mengurusinya. Jadi aku harap kau tidak keberatan membantuku mencari modelnya.”
Louis mengangguk-angguk, seolah-olah ia sedang berbicara tatap muka dengan si perancang busana yang sedang beruntun disebut-sebut media akhir-akhir ini.
“Tentu saja, aku tidak keberatan, aku sebenarnya sudah punya seseorang yang kupikirkan.”
“Benarkah? Baguslah kalau begitu. Tapi pikirkan juga soal biayanya. Aku tidak akan sanggup membayarmu serta dengan modelnya kalau modelnya terlalu mahal.” Jasper tertawa lagi, kali ini lebih keras dan lama.
Louis ikut tertawa sekenanya, ia terlalu antusias dengan tawaran ini.
“Aku rasa model ini tidak akan terlalu murah, tapi aku bisa bantu biayanya. Kalau sampai aku berhasil membawanya jadi modelmu, aku bersedia mengambil gambar tanpa dibayar.”
“Jangan bercanda, Lou, memangnya siapa model luar biasa ini?”
“Kau pasti tau, Gracy Manson?” Senyum Louis makin mengembang.
Louis mengangguk-angguk, senang idenya disetujui dengan mudah.
“Tapi aku pikir nggak akan semudah itu mendapatkan Grace Manson. Tunanganku sahabat dekat adiknya, dan bahkan dia sendiri sering bilang Grace tidak pernah punya waktu untuk bertemu dengan keluarganya. Aku pikir kau lebih baik menyiapkan seorang model cadangan.”
Namun senyum Louis masih mengambang. Pikirannya sudah bulat, ia akan mendapatkan Gracy Manson untuk modelnya, apapun yang terjadi. Tidak akan ada orang lain yang bisa menggantikan posisi Gracy Manson di kepalanya.
“Kau tidak perlu khawatir, Jasp, kau hanya perlu mendesain dan akulah yang akan membawa Gracy Manson kepadamu.”
“Benar ya? Baiklah, aku serahkan padamu. Aku mau mandi dulu, kabari aku ya soal perkembanganmu.”
“Oke. Sampai ketemu nanti.”
Jasper membalas kalimat Louis dengan sebuah kalimat penutup yang volumenya perlahan-lahan mengecil, lalu sambungan telepon terputus. Louis menghela napas, lalu berdiri dan memasukan ponselnya ke saku. Langit sore Paris memang indah, didukung suasana vintage yang dibawa oleh sekitaran Notre Dame. Louis tidak keberatan untuk melihat lebih lama, tapi perutnya yang mulai perih harus diisi. Ia berdiri dan mulai berlari kecil ke arah restoran yang tidak jauh dari lokasinya.
__ADS_1
Begitu ia masuk ke restoran, suasana yang riuh dan wangi halus keju langsung mengisi indranya. Louis langsung duduk dan memesan, bengong sampai pesanannya diantar ke mejanya ketika tim fotonya sudah hampir semuanya menyelesaikan makanan mereka.
Bagaimana caranya supaya Louis bisa mendapatkan Gracy Manson? Jasper benar, mendapatkan Gracy Manson tidak mungkin semudah itu. Apalagi ia baru saja memenangkan penghargaan kemarin. Setahu Louis, Gracy masih mempromosikan lagu barunya, ditambah ia juga masih shooting satu seri drama. Sedangkan permintaan modelling tentunya masih dilakukan Gracy.
Louis berdebat dengan dirinya sendiri. Tapi ia sudah terlalu yakin, tidak akan ada orang yang bisa memenuhi permintaannya lebih baik daripada Gracy di titik ini.
“Lou!”
Fotografer muda itu menoleh ke sisi kirinya. Wajah bingung milik Paul asistennya menyambut. “Kau pesan makanan untuk dilihat atau untuk dimakan sih? Cepatlah! Waktu kita terbatas."
Louis menghela napasnya dalam-dalam, sebelum menusukan garpunya ke tumpukan pasta, lalu menyendoknya dan memakannya sedikit.
“Paul…” Panggil Lou pada managernya itu tanpa menoleh.
“Hm?”
“Apa kau kenal Gracy Manson?” Akhirnya Lou menyuarakan pikirannya.
“Gracy Manson? Tidak juga. Maksudku aku pernah bertemu dengannya sekali, dan managernya juga cukup dekat denganku. Ada apa dengannya?”
Louis tersenyum lebar. “Aku diambil Jasper Kendrick untuk jadi fotografer desain-desainnya. Dia bilang dia dan tunangannya akan mengeluarkan katalog baru yang perlu aku foto dan cari modelnya. Membayagkan desain Jasper, aku yakin tidak akan ada model lain yang bisa lebih cocok dairpada Gracy Manson.” Mata Louis berbinar dengan kekaguman. Memang keanggunan Grace dalam balutan kain-kain bermodel feminim andalan Jasper akan jadi luar biasa, tapi Louis tahu juga kendalanya.
Mata Paul membelalak, “Jasper Kendrick menawarkan kerja sama? Itu langkah besar, Lou! Tapi…” Paul menghela napasnya lalu menepuk bahu Louis yang sontak menoleh pada managernya itu.
"Banyak hal yang ingin aku katakan padamu soal Gracy Manson dan alasan-alasan kau harus mengurungkan niatmu itu. Tapi yang jelas, ini bukan waktu yang tepat. Gracy bukan model sembarangan."
Louis mendecakan lidahnya. Ia tahu semua orang akan berpikir begitu. Tapi ia bersikeras.
“Terserah katamu. Tapi aku akan mendapatkan Grace dengan caraku sendiri. Jadi bisakah aku minta nomor telepon manager Gracy? Biar aku yang urus dari sana.”
Paul mengedikan bahunya lalu kembali makan. “Terserah katamu, Lou. Lagian selain itu, manager Gracy Manson yang ini agak rese.”
Louis tidak menggubris peringatan yang terakhir itu. Serese apapun manager Gracy tetap saja menurutnya tidak ada yang tidak mungkin.
__ADS_1
Louis Troya akan memfoto Gracy Manson. Itu keputusan terakhir.