Floriografi: Mawar Merah

Floriografi: Mawar Merah
Bab 20


__ADS_3

Louis menunduk untuk beberapa saat, merasa bersalah.


“Tapi jujur bukan itu yang aku lihat kemarin, Manson. Kau yang berjalan di show kemarin seolah...entahlah, seperti magis buatku. Apa kamu nggak bisa sebut itu jenius?”


Tracy menghela napas, dan menengok ke sekitarannya, memastikan di sekeliling mereka tidak banyak orang yang ikut mendengarkan. Tracy mencondongkan badannya ke arah Louis.


“Saat kamu masih kecil, kau pasti pernah kan, berakting seperti idolamu, sekali atau dua kali?” Tracy berbisik. Louis hanya mengangkat alisnya.


“Itu yang aku lakukan. Di momen-momen itu aku yakin, kalau aku adalah Gracy, bukan Tracy.” Tracy terkekeh kecil sambil kembali bersandar ke bangkunya.


“Karena pada akhirnya penampilan luarku sama persis dengan dia, kan? Yang perlu aku lakukan hanyalah berakting seperti dia.”


Louis ikut kembali bersandar ke bangkunya. Ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya. Louis tidak bisa mengatakan hal ini, tapi ia tidak bisa berhenti melihat foto-foto yang ia ambil dari fashion show kemarin, foto-foto Tracy Manson di atas runway dan tentu saja, ia juga sudah ratusan kali memperhatikan foto-foto Gracy, dan yang ia lihat di foto fashion show kemarin, jelas-jelas bukan Gracy. Tidak. Louis bisa melihat perbedaannya, tapi apa perbedaan itu? Louis tidak bisa menjelaskan.


“Apa ada hal lain yang mau kau tanyakan, Troya? Tiramissu matcha ini terus-terusan membisikan namaku, aku harus mulai makan.” Tracy menggigit bibirnya. Louis tertawa kecil sambil mengangkat tangannya mempersilakan Tracy.


“Silakan.” Bisiknya.


Tracy tertawa kecil sambil mulai menyantap kudapan-kudapan yang disajikan kepada mereka.


“Lalu apa yang membuatmu kembali ke dunia modelling kali ini? Aku rasa bukan sekadar karena Miss Naka adalah teman dekatmu.”


Tracy mendengus, mengelap bibirnya sebelum menjawab.


“Kau belum kenal Violetta. Kalau dia sudah menginginkan sesuatu akan sulit untuk menolaknya. Aku juga tahu Violetta itu perfeksionis, dan dari langkah pertamanya, ia sudah membayangkan sepuluh langkah setelahnya, dan semuanya yang ia bayangkan akan selalu terjadi, karena dia adalah Violetta Nakajima, buatnya kalau ada satu hal yang perlu diganti dari bayangannya, hal itu tidak sama, dia akan kembali ke langkah pertama dan mengulang karyanya.”


Louis tersenyum, seolah-olah ada yang lucu dari kata-kata Tracy.


“Begitu? Tapi maksudku Miss Naka adalah teman baikmu. Aku yakin ia tahu cerita soal kau dan kakakmu tapi dia masih memaksamu untuk ikut show?”


Tracy mengangkat bahunya.


“Violetta professional. Dalam pekerjaannya buat dia masalah personal tidak bisa dicampur-aduk dengan masalah


pekerjaan. Violetta sering toleransi padaku, tapi aku juga tidak suka tidak professional. Setidaknya aku sudah dewasa, aku juga tidak mau kan merusak karya temanku sendiri.”


“Padahal desainer dengan nama besar seperti Miss Naka akan bisa mendapatkan Gracy dengan mudah.” Louis bergumam, cukup keras sampai Tracy mendengarnya.


“Oh, tentu saja. Tapi Violetta tidak mau.”


Louis mendengus. “Kau yakin?”


Tracy memutar bola matanya dan menaruh sendok makannya di sisi piring.


“Kalau kau fotografer yang bergelut di dunia model harusnya kau tahu, karya pertama Team Naka, yang dapat rating rendah itu.”


Louis mengernyit dan berpikir untuk beberapa saat, tapi ia tidak ingat. Team Naka selalu dapat banyak pujian, meskipun banyak dari karya mereka yang kontroversial, tapi rating rendah? Hampir tidak pernah. Tracy lalu memutuskan untuk menjelaskan.


“Grace mempersembahkan tiga gaun, Daisy Glory, Wisteria Mystery, dan Rose n Tulip. Dan lebih dari sepuluh majalah menilai penggunaan Gracy sebagai model dari ketiga desain itu adalah keputusan naif dan bodoh.”


Tracy mengangkat bahunya. “Semenjak itu Violetta lebih hati-hati memilih modelnya. Bukan berarti ia menyalahkan Gracy, tapi saat itu Violetta menggunakan Gracy untuk panjat sosial saja, dan bukan karena Gracy cocok dengan gaun yang ingin ia presentasikan.”


Louis mengangkat alisnya lagi, tidak berkata-kata. Tracy menyeringai.


“Kenapa? Tersindir ya?”

__ADS_1


Louis memutar bola matanya dan kembali bersandar.


“Mungkin. Entahlah Manson, di satu sisi aku memang benar-benar yakin kalau gaun itu akan paling cocok dipresentasikan oleh Gracy, tapi di sisi lain aku juga tidak bisa bohong kalau aku memang berpikir nama Gracy bisa membawa naik namaku juga.”


Louis menghindari tatapan mata Tracy selama pembicaraan berlangsung.


“Tidak perlu sungkan, aku mengerti. Ini pekerjaanmu, jadi aku rasa punya Gracy di bawah proyekmu akan jadi kesempatan besar buatmu. Tapi belajarlah dari kasus Violetta, kurasa ada baiknya juga kalau kau memanjat pelan-pelan dari bawah.”


Louis menghela napas, dan meraih kopinya yang kelihatan sudah dingin.


“Mungkin.” Bisiknya, lalu menyesap kopinya.


“Tapi begini, Manson, biar aku jelaskan sedikit tentang diriku sendiri.” Louis memindahkan sebuah apple pie ke


piringnya, sebelum kembali menyimpan alat makannya di samping dan menopang dagunya dengan kedua tangan terkatup, menatap Tracy.


“Kau bisa bilang aku juga sedikit banyak mirip dengan Miss Naka. Karena dari awal aku sudah membayangkan Gracy mengenakan gaun itu—dan memang benar kata Jasper kalau aku tidak perlu meminta Gracy untuk project yang tidak terlalu besar itu, tapi aku jadi tidak bisa membayangkan model lain mengenakan gaun itu.” Louis menghela napas. “Aku tidak bisa bilang diriku ambisius juga, tapi perfeksionis mungkin?”


Tracy hanya mengangguk-angguk mencoba membuka pikirannya seluas mungkin.


Louis menghela napas dan menghempaskan tubuhnya ke bangku lalu mengusap wajahnya. “Aku cuma ingin semuanya…. Sempurna, kau tahu kan perasaan itu? Maksudku… kalau kau bisa menjangkau angka seratus kenapa kau harus hanya mengambil angka lima puluh?” Tracy ingin menjawab, bukankah itu yang namanya ambisius? Tapi ada pertanyaan lain yang menurutnya lebih penting.


“Dan Gracy lah angka seratus itu?” Tracy mengangkat alisnya. Retoris, tapi Tracy hanya ingin mendengar Louis


mengatakannya dari mulutnya sendiri.


“Di kasus ini, ya.”


Tracy mengangguk-angguk.


partner kerjamu.” Tracy menegakan poisi duduknya, membersihkan mulutnya dengan americanonya yang sudah mulai dingin. “Perhatian Gracy sedang kacau akhir-akhir ini. Apalagi karena album barunya baru saja keluar dan ia masih dalam masa promosi. Ia juga sedang tidak aktif di agensi modelnya jadi aku juga tidak bisa bilang kalau Gracy adalah angka seratus yang bisa kau gapai—ingat, masalahnya bukan ada padamu, tapi pada Gracy. Aku tidak bohong ketika ada kalanya e-mailku baru dibalas sebulan setelah terkirim.”


Louis menganggukkan kepalanya, seolah ia juga sudah tahu soal itu.


“Yah, tapi maksudku ketika manager Gracy bahkan sudah membalas teleponku dan mengundangku ke Jepang, kupikir ia setidaknya menganggapku serius.”


Tracy memutar bola matanya. “Manager Gracy memang bodoh. Ia baru menangani Gracy selama enam bulan, dan ini pertama kalinya ia menjadi manager artis sebesar Gracy. Gracy bilang agensinya tidak mau membayar terlalu mahal, makanya mereka memilih orang ini. Aku turut berduka cita kau kena jebakan si bodoh itu.”


Louis mendengus, mulai memakan pie yang bertengger di piringnya sedari tadi. “Kau bicara seperti kau kenal dia.”


“Aku hampir kena jebakannya juga. Dia pernah sekali mengangkat telepon dariku dan bilang kalau Gracy akan pulang dalam waktu satu minggu. Dan aku percaya saja, membatalkan segala macam acara dalam minggu depan itu, dan ternyata memang Gracy hanya hinggap kesana kemari dengan cepat dalam satu hari lalu kembali berpindah tempat.” Tracy menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Terlalu sering asal ngomong.” Sambung Tracy sedikit.


“Yah, ya sudahlah, aku sudah di Jepang juga, aku tidak bisa apa-apa.”


“Bukankah kau juga ke Jepang karena diundang Violetta?”


Louis dengan cepat menggelengkan kepada sambil mengernyit. “Tidak.” Ia mengelap mulutnya. “Aku langsung menelpon Jasper tidak lama setelah waktu yang dijanjikan manager Gracy dan setelah itu barulah Jasper mengirim aku pada Violetta.”


Tracy mengangguk-angguk. “Ooh… masuk akal. Jadi, kembali pada Gracy.”


“Hm? Kenapa soal Gracy?”


“Ya, lalu bagaimana dengan model penggantinya?”

__ADS_1


Louis mengangkat bahu, langsung memutuskan kontak matanya dengan Tracy dan melanjutkan makannya.


“Aku tidak tahu, akan kupikirkan pelan-pelan. Mungkin akan kupanggil beberapa model untuk fitting, yang terbaik akan kuambil.”


Tracy menghela napas. “Jangan terlalu sedih, bisa kerja sama dengan Violetta dan Jasper dalam waktu seperti ini juga bisa kau anggap alat panjat sosial. Terkadang karena kita terlalu dekat dengan mereka berdua mereka terasa seperti orang biasa, padahal—“ Tracy mendengus kecil, membicarakan tentang hal itu membuat jantung Tracy berdetak lebih kencang, menyadari apa yang telah ia lakukan. “Kita baru saja melakukan show di Shibuya, Louis. Di tempat yang biasa digunakan oleh Fashion Week.”


Louis tertawa kecil.


“Kau ada benarnya. Hal itu juga berlaku untukmu?”


Tracy mengangguk. “Tentu saja! Aku sudah vacuum dari dunia model untuk waktu yang lumayan lama. Runway terakhirku masih bersama Gracy, setelah itu aku masuk majalah kurang lebih dua kali dan sudah.” Tracy mengangkat bahunya. “Hilang.”


“Aku belum jadi fotografer secara professional saat itu. Aku masih foto untuk hobi saja. Tapi kalian sudah sering ada di TV dan koran jadi tentu saja aku ingat.” Louis menyelesaikan pie apelnya dan mengambil sepotong tiramisu.


“Sudah kuduga kau fotografer baru.” Tracy memicingkan matanya.


Louis tertawa lebar kali ini, lesung pipinya yang manis membuat Tracy ikut tersenyum. “Aku kan mengakui kalau kau tidak salah bilang aku fotografer amatir, tolong lupakan saja lah segala hal yang terjadi sebelum ini. Aku juga…” Louis menepuk keningnya. “Aku juga tidak tahu apa yang terjadi padaku.”


“Ya, ya, kita melakukan ini kan untuk melupakan semuanya. Aku jujur juga tidak mau punya hubungan jelek dengan siapapun di industri ini setelah Violetta mengambilku sebagai jurnalisnya full time.”


“Oh ya?” Louis mengangkat alisnya. “Sepertinya aku pun akan bekerja di tempat Jasper untuk beberapa waktu. Ada satu gaun pengantin yang sedang ia rancang untuk pernikahan dua bulan depan, ia ingin melakukan photoshoot dulu dengan model sebelum mengirim gaunnya, lalu foto pra-nikah pasangan itu juga aku yang tangani.”


“Jadi kita akan jadi rekan kerja?” Tracy mengangkat alisnya sedikit kaget.


Louis mengangkat bahunya “Kemungkinan besar begitu?” Louis tertawa lagi. Tracy ikut tertawa.


“Keputusan yang bagus untuk genjatan senjata. Tolong baik-baik padaku untuk kedepannya.” Tracy sedikit membungkuk dengan main-main. Louis dengan gugup ikut mengangguk, sadar mereka sedang ada di Jepang dan ikut menunduk sambil tertawa kecil.


“Dan sebaliknya.” Balas Louis singkat. Percakapan ini melegakan hatinya, tapi sedikit banyak Tracy tidak bisa


menghilangkan kecurigaannya pada orang ini. Seperti halnya hewan liar yang selalu takut pada manusia tanpa alasan, itulah yang selalu Tracy rasakan pada fotografer dan pekerja industry lainnya.


“Apa yang membuatmu memutuskan untuk bicara denganku sebenarnya?” Tracy langsung bertanya begitu ia duduk  kembali. Menyadari pertanyaannya terdengar terlalu mendadak, ia menambahkan, “Maksudku kalau percakapan ini tidak terjadi, kau juga tidak akan tahu kan kalau kita akan jadi rekan kerja nantinya?”


“Hm…” Louis bertopang dagu, menyusun kalimat di kepalanya.


“Bilang saja aku baru kembali ke akal sehatku, dan siapapun kau aku merasa ada beberapa kata-kataku yang memang tidak pantas dikatakan kepadamu. Apalagi setelah kemarin aku menyinggung soal kau dan modelling, maksudku benar katamu, aku tidak kenal kalian berdua secara personal, tapi aku kelewatan menyuarakan pikiranku dengan kata-kata yang—setelah kupikirkan kembali—terlalu menggali kehidupan pribadi seseorang dan stereotype.” Louis tertawa kecil. “Karena setelah melihat performa-mu di panggung kemarin, aku…”


“Hm…” Mata Louis mendadak memandangkosong ke arah Tracy. Tracy mengernyit dan memiringkan kepalanya, menerka apa yang sedang dipikirkan lelaki di depannya itu.


“Ah, sulit mengatakannya. Mungkin bisa dibilang, aku adalah orang yang sulit percaya dengan perkataan, aku lebih percaya dengan apa yang aku lihat. Dan apa yang aku lihat di panggung kemarin meninggalkan kesan yang… lumayan besar buatku.” Louis akhirnya bersuara. Tracy menahan diri untuk tidak memutar bola matanya. Pujian-pujian ini membuatnya kesal.


“Ok, kalau kita mau bahas ‘runway yang berkesan’—“ Tracy membuat tanda kutip dengan jari-jarinya. “Kita ganti topik saja. Apa yang akan kau lakukan setelah pulang nanti? Aku sepertinya mau mampir ke kantor Violetta dulu untuk merampungkan artikel yang dia mau, baru pulang ke rumah.”


Louis terlihat ingin mempertanyakan soal pergantian topik itu tapi ia menarik kembali dirinya dan memutuskan untuk


mengikuti alur yang dibuat Tracy.


“Aku pun ingin langsung bertemu Jasper dan memberikannya pilihan-pilihan model pengganti Gracy, sekaligus meneleponnya di tempat. Karena kalau model-modelku menolak, aku perlu beberapa hari untukmencari penggantinya.” Louis melirik ke arah jam di ponselnya, dan itu membuat Tracy juga mengintip ke arah angka-angka di layar digital itu. Tracy terbelalak, betul juga, sedari tadi ia belum memeriksa ponselnya—yang selalu dipasang di mode diam.


Dengan panik Tracy membuka ponselnya, dan melihat satu panggilan tidak terjawab dari Violetta. Tracy dengan cepat membuka kotak pesannya. Sepuluh menit lagi mereka akan berangkat.


“Kita sebaiknya turun.”


Tracy mengangkat wajahnya dari ponsel dan melihat Louis yang juga sedang memeriksa ponselnya. Tracy mengangguk.

__ADS_1


“Ide bagus.”


__ADS_2