Floriografi: Mawar Merah

Floriografi: Mawar Merah
Bab 23


__ADS_3

“Aku sudah lebih dari dua puluh satu tahun! Aku sudah legal!” Tracy cemberut. Jasper jelas-jelas menahan tawanya


sampai wajahnya merah. Entah kenapa setiap kali Tracy bicara dengan Jasper, Tracy bisa membayangkan kalau ia bisa memilih seseorang untuk dilahirkan kembali menjadi Kakak laki-lakinya, orang itu adalah Jasper.


“Oh ya? Kalau sudah legal mana pacarmu, Tracy? Ayolah sudah waktunya kau memikirkan soal pernikahan.” Jasper mengangkat alisnya. Tracy semakin cemberut.


“Mentang-mentang kau sudah tunangan, jangan kira—“


“Lho, yang tadi itu pacarnya Tracy, Jasp. Kau ini kenapa tidak peka?” Louis memukul lengan Jasper main-main. Jasper terbelalak, lalu menengok ke arah dimana Steve pergi. Tapi taxi yang dikendarai Steve sudah lama pergi.


“Yang tadi itu?” Jasper menutup mulutnya. “Tak kusangka seleramu—“


“Hey! Steve ganteng buatku!” Tracy membalas tanpa pikir. Ia ingin menepuk dahinya dan berlari bersembunyi setelah itu. Kalau pembicaraan ini terjadi hanya di depan Jasper, Tracy tidak masalah, seperti yang semua orang tahu, Jasper sudah seperti kakaknya sendiri. Tapi Louis—yang menahan tawanya sedari tadi ikut mendengarkan dengan sangat seksama.


“Oh, bukan wajahnya yang jadi masalah, Trace, ya ampun. Tapi kau ini kan model, kalau kau berdiri dengan stiletto di sebelahnya, kau akan jadi lebih tinggi darinya.” Jasper mendecakkan lidah.


“Ugh, aku bukan model.” Tracy memutar bola matanya.


“Badanmu seperti model, setidaknya hal itu perlu kau sadari sejak dini.” Jasper tertawa, lalu ia menoleh ke arah


Louis, dan sebuah ide terlintas di kepalanya.


“Oh! Bagaimana kalau kau dengan dia saja.” Jasper mendaratkan tangannya di bahu Louis. Tracy mengernyit, dan melemparkan ekspresi jijik dengan tidak sengaja.


“Dia?” Tanya Tracy sambil menunjuk Louis.


Louis mendengus dan meniru wajah Tracy dan balas menunjuknya dengan bahu terangkat, membuatnya terlihat seperti gremlin. “Dia?!”


“Hey, jangan munafik. Setidaknya dari ukuran fisik kalian cocok bukan main.” Jasper mundur selangkah untuk memperhatikan Tracy dan Louis. Mereka saling berpandangan dengan jijik.


“Kali ini bukan wajah ataupun tinggi permasalahannya, dia brengsek.” Tracy menunjuk Louis dengan ibu jarinya.


Louis mendengus, “Kurasa kapasitas makian yang sudah kau berikan padaku telah melewati batas aman, nona. Mulai sekarang akan ada swear jar dan setiap kali kau memakiku kau harus membelikan aku makanan mewah.” Louis berkacak pinggang.


“Makanan mewah? Cih.” Tracy meniru Louis dan mencibirnya. “Jangan jadikan hal itu alasan supaya kau bisa berkencan denganku.” Tracy ikut berkacak pinggang.


“Apa kau bilang?!” Suara mereka semakin lama semakin melengking.


“Apa kalian tidak sadar kita ada di pinggir jalan dan kalian berdua bertengkar seperti anak-anak sekarang?” Jasperhanya menutup mulutnya menahan tawa. Tracy dan Louis sontak melihat ke sekeliling mereka dan menemukan satu, dua orang yang menoleh ke arah mereka memperhatikan.


“Manson… dasar anak kecil.” Louis menepuk dahinya.


“Kata Jasper, kau juga, anak kecil! Lagipula aku sudah legal!” Tracy masih menekankan hal itu.


“Aku juga sudah jauh dari legal, anak kecil. Jangan kurang ajar padaku yang lebih tua ini.” Louis mendecakkan lidahnya dan berjalan mendekat ke arah Tracy.


“OH? Begitukah? Kakek Louis?”


“Wah mereka mulai lagi.” Jasper berbisik pada dirinya sendiri. “Kawan-kawanku yang terkasih, aku mau pulang sebelum aku dikira teman kalian dan digusur ke kantor polisi terdekat, oke? Tolong jangan bakar kantornya.” Jasper dengan cepat berjalan pergi ke arah mobilnya.


“Oke! Oke! Hati-hati di jalan! Peluk Violetta untukku!” Tracy melambai ke arah Jasper.


“Cih, peluk Violetta untukku~” Louis meniru Tracy sambil mencibir dengan suara kecil. Tracy melayangkan tangannya ke arah Louis yang berada sedikit di belakangnya sambil matanya masih memperhatikan Jasper. Louis menghindari pukulan itu tepat waktu. Ia lalu mendorong Tracy ke dalam kantor dengan paksa.

__ADS_1


“Masuklah, nak, diluar dingin.” Kata Louis dan menutup pintu kantornya dan menyalakan lampu.


Tracy menggeram.


“Aku masih tidak percaya, bisa-bisanya Jasper yang keren, nyentrik, dan asik punya teman seperti kau yang cupu, brengsek dan kurang ajar.” Tracy memicingkan matanya menatap Louis.


“Cupu?? Cupu katamu??” Louis mengangkat alisnya tidak percaya.


“Iya. Jadi kau sedikit banyak setuju kan, kau brengsek dan kurang ajar?” Tracy meniru wajah Louis.


Louis menggoyangkan bahunya kecil sambil melengkungkan bibirnya ke bawah.


“Hm…. Kadang-kadang. Yuk, ke atas.” Louis berjalan menuju tangga namun Tracy berhasil menahan lengannya kali ini.


“Eh? Atas kemana?”


“Lho? Bukannya kau masih butuh di bantu untuk pindahan?”


“Sudah dirapikan oleh Steve, kau sudah tidak terlalu dibutuhkan!” Tracy tersenyum lebar dengan bangga.


“Benarkah? Enam box dirapikan dalam tiga jam, aku tidak yakin. Lagipula lantai inipun belum di sapu kan? Aku lebih ragu soal lantai dua.”


Tracy menggeram, benar juga, sekarang hidungnya jadi terasa gatal.


“Lantai satu dan dua biar staff kebersihan yang urus besok. Tapi hanya tinggal tiga box buku yang perlu aku


rapikan, jadi kalau kau mau pulang silakan.”


Mata Louis tiba-tiba berbinar.


“Yang benar saja, aku tidak yakin kau tipe laki-laki yang baca buku.”


Louis memutar bola matanya. “Banyak hal yang bisa seseorang yakini tapi ternyata salah pada akhirnya. Ayolaaaahhh, aku malas pulang ke rumahhh.” Louis merengek. Ternyata lelaki itu punya sisi seperti ini. Tracy mendesis.


“Ugh! Yasudah! Naiklah! Kau ini seperti anak kecil.”


Louis tertawa puas dan berjalan naik ke atas. Letak dus-dus berisi buku itu tidak jauh dari tangga, karena rak buku


juga tidak jauh dari tangga. Violetta menyimpan dua rak buku besar dan tinggi berwarna putih. Di sana masih terpajang beberapa buku, tidak banyak. Tracy sudah menyimpan mereka di pojok kiri bawah agar mudah di temukan.


“Jadi…” Louis langsung duduk bersila di lantai yang berlapis kayu itu, melipat kaki panjangnya dengan gaya yang


kelihatan kurang nyaman dan menaruh tangannya di atas salah satu box di depannya. “Ini?”


Tracy mengangkat bahunya dan ikut duduk di depan Louis. “Ya, buka saja. Aku juga tidak tahu yang mana berisi apa.”


Louis langsung membuka box itu dan Tracy hampir menarik napas kaget. Takdir mengatakan dus pertama yang harus Louis buka adalah yang berisi buku tulisan Tracy.


“Oh…” Louis mengambil satu, dan sontak langsung tersenyum.


“Bipolar…. Oleh Tracy Manson.” Baca Louis pelan-pelan dan membalik buku bersampul hitam putih itu.


“Chrissy tidak tahu apa yang menunggunya ketika bertemu dengan William. Yang ia tahu lelaki itu hanyalah lelaki

__ADS_1


brengsek—hey, ini bukan soal aku kan?” Louis membaca synopsis di belakang buku itu dan langsung mengangkat wajahnya menatap Tracy untuk menanyakan pertanyaan retoris itu.


“Baca saja tahun terbitannya, Kakek. Apa matamu juga sudah mulai buram? Mau kuambilkan selimut sekalian?”


Louis tertawa mengejek, Tracy dapat melihat matanya melirik ke tahun terbitannya yang dicantumkan di bagian bawah. Buku Bipolar sudah diterbitkan tiga tahun yang lalu.


“Maksudku keren juga kan kalau kau menulis tentang aku.” Louis menaruh buku itu ke rak, ke barisan kedua dari bawah. Tracy agak terkejut. Ia baru saja merencakan akan membariskan buku tulisannya di sana. Setidaknya Louis lumayan berguna buatnya sekarang.


“Ah, andai saja semudah itu.” Tracy mendesah, bersandar ke belakang dengan tangannya sebagai tumpuan dan memutuskan untuk menonton Louis membereskan bukunya. Lelaki itu kelihatan tidak masalah, setidaknya untuk sekarang karena matanya masih menelusuri buku Tracy yang lain dan membaca sinopsisnya sambil tertawa-tawa kecil sendiri.


“Kenapa memangnya? Bukannya buku barumu bahkan sudah mau selesai? Aku lihat Gracy pernah membahasnya sekali kalau tidak salah ingat.” Mata Tracy memperhatikan tangan Louis yang memasukan bukunya yang lain—Sandiwara—ke sebelah Bipolar.


“Iya, aku kena writer’s block.”


“Pemandangan di Jepang kemarin tidak membantu?”


Tracy mengangkat alisnya, sedikit kaget. Louis ternyata lumayan juga, tidak terlalu bodoh soal ini.


“Masalahnya bukan ada di situ.” Lidah Tracy terhenti. Louis baru di kenalnya beberapa hari, mereka bahkan baru saja berdamai dan memutuskan untuk berteman dengan satu sama lain tepat hari kemarin. Baru lewat dua puluh empat jam lebih sedikit. Tapi sesuatu tentang Louis membuatnya nyaman menceritakan apa saja, hampir sebelas dua belas dengan kalau ia bercerita dengan Jasper dan Violetta. Tapi dua orang itu kan sudah dikenalnya lama.


“Lalu? Aku bukannya ingin korek-korek sih, kalau itu personal buatmu tidak perlu di ceritakan, tapi santai saja


denganku. Aku bukan orang yang suka bicara tentang satu orang ke orang lain.”


Alis Tracy terangkat lagi. Kenapa lelaki ini seperti membaca pikirannya?


“Aku belum pernah pacaran.” Tiba-tiba saja kalimat itu meluncur dari lidah Tracy. Anehnya, tidak ada rasa malu kali


ini. Tracy selalu malu menceritakan kisah percintaannya yang gersang pada orang-orang, padahal ia adalah novelis romansa.


“Iya, lalu?” Louis kembali bertanya. Mengangguk-angguk sambil matanya tetap memperhatikan buku-buku Tracy satu persatu. Tapi sekarang ia lebih memperhatikan keindahan desain sampulnya.


Tracy mendengus. Ada apa dengan lelaki ini? Beberapa hari yang lalu Tracy kira lelaki ini adalah orang paling


stereotype dan judgemental yang pernah ditemuinya, tapi sekarang ia merasa seperti sedang mengobrol dengan orang ter-open minded yang pernah ia temui.


“Ya, novelku novel romansa. Jadi ketidakadaan pengalamanku itu agak sulit buatku untuk melanjutkan novelku yang kali ini.” Sekarang pikiran Tracy berkecamuk. Yang ingin ia bahas sekarang bukan tentang dirinya, tapi tentang Louis. Sebenarnya orang macam apa sih Louis?


“Tapi novel romansamu sudah segini banyak.” Kali ini Louis mengangkat kepalanya. Menepuk-nepuk dus yang ia tarik sampai menempel ke kakinya itu, lalu ke buku yang sedang ia pegang. “Kau tidak pernah nulis genre lain kan? Tidak pernah tiba-tiba menulis cerita misteri pembunuhan berantai kan?”


Tracy tidak bisa menahan tawanya. “Tidak. Tapi pasangan utama di buku itu kebanyakan diambil dari cerita nyata. Seperti buku Bunga Mawar Putih contohnya, itu adalah cerita Jasper dan Violetta. Jadi mudah buatku untuk mengerti jalan pikiran keduanya.”


“Lalu kali ini kau kehabisan orang untuk diwawancara?” Louis kembali menata buku-buku itu ke rak. Kali ini tidak terlalu memperhatikan satu-satu dengan terlalu seksama walau sesekali ia berhenti untuk sekadar membaca judul atau mengagumi bahan sampul buku di tangannya.


“Hmm… tidak juga. Buku kali ini lebih seperti… Kalau seorang Tracy Manson bisa memilih cerita cintanya sendiri, maka buku inilah ceritanya.” Tracy tertawa pahit. “Tapi kan aku belum punya cerita cinta, dan tipe pemeran utama pria di bukuku itu jarang kutemui.”


“Steve?” Tanya Louis, beranjak ke dus kedua.


“Aku belum mengenalnya sedalam itu. Seperti kubilang kami cuma teman, itu tidak bohong.”


“Masih teman.” Louis mengkoreksi.


Sebuah pertanyaan tiba-tiba melintang di kepala Tracy, dan lidahnya berjalan lebih cepat daripada otaknya ketika ia mengatakan,

__ADS_1


“Hey, jatuh cinta itu rasanya seperti apa?”


__ADS_2