
Tracy keluar dari taksinya tepat di depan sebuah restoran bernuansa hijauh tua bertuliskan "Hudson's Steakhouse" dan dengan terburu-buru masuk ke restoran itu. Tracy hampir terlambat setengah jam, ia sudah lama tidak keluar rumah dan berdandan betul-betul terasa menyenangkan sampai ia lupa waktu.
Tracy melemparkan pandangannya ke seluruh sisi ruangan untuk mencari sosok Steve Elmer yang ia ingat. Berkacamata, dengan rambut hitam yang kotak rapi dan kulitnya sedikit eksotris kecoklatan kurus kerempeng. Tapi dimanapun ia melihat, Tracy tidak bisa menemukan sosoknya. Sampai ada seseorang yang melambaikan tangan ke arah Tracy dari kejauhan, dan Tracy memicing sambil berjalan mendekat.
Ya Ampun. Pikir Tracy.
Apa itu betul-betul Steve Elmer yang dulu?
Memang Tracy hanya mengenalnya kurang lebih dua tahun karena tahun terakhir di SMP mereka tidak satu kelas, tapi mau bagaimanapun orang itu sama sekali tidak kelihatan seperti Steve Elmer yang ia ingat.
Tracy menghampiri lelaki itu dengan perasaan yang agak canggung. Ia masih ragu, apa memang ini Steve Elmer yang sama atau jangan-jangan lelaki ini operasi plastik? Selain itu badannya jauh lebih besar sekarang. Bukan besar dalam artian gemuk, tapi besar seperti ia rajin push-up seribu kali setiap pagi.
Spontan Tracy berdeham kecil untuk menghilangkan pikiran-pikirannya yang bercampur aduk dan tersenyum ketika ia sudah cukup dekat dengan lelaki yang mengaku sebagai Steve Elmer itu.
“Hey.” Sapa lelaki itu sambil berdiri.
“H-hey.. Em… Steve?” Tanya Tracy, masih ragu-ragu. Steve tertawa sebelum akhirnya kembali duduk setelah mempersilakan Tracy duduk.
“Ya, ini aku. Aku tahu wajahku seperti diganti dengan wajah orang lain, tapi ini aku. Kau juga berubah banyak Trace, tapi aku masih bisa mengenalimu.”
Trace hendak membalas kalimat Steve, tapi tepat saat itu pelayan mendekati mereka untuk menanyakan pesanan mereka, dan seperti yang sudah direncanakannya, Trace memesan sepiring steak dan teh Earl Grey, sedangkan Steve memesan Pesto Penne mereka.Setelah pelayan pergi, Steve kembali menatap Trace. Sontak Trace jadi memperhatikan lelaki itu. Kenapa Steve yang luar biasa culun itu bisa tumbuh besar menjadi seperti ini?
Yah, dulu Trace memang tertarik pada Steve karena kepintarannya, tapi... Oh, matanya yang coklat itu seperti menenggelamkannya dalam tatapan yang hangat. Ya ampun, Trace mengenal dan menganguminya sejak kecil, tapi tidak menyadari tatapan hangat itu. Memang Steve Elmer yang dulu ia sukai itu sangat manis dimatanya, tapi sekarang...
“Jadi..” Kata Steve. Trace hampir terperanjat, dan wajahnya memanas. Sedari tadi ia sepertinya memperhatikan
Steve dengan tajam tanpa menyadarinya sedikitpun. Rasa malunya langsung ia tutupi dengan aksi merogoh tas untuk mencari naskahnya yang tebal, lalu menyodorkannya pada Steve.
“Ini. Aku belum memeriksanya lagi, tapi sepertinya ini edisi yang sudah kurevisi dan sudah kuperbaiki. Semoga kau suka.” Trace tersenyum tipis saat Steve menerima naskah itu lalu memperhatikan halaman utamanya sambil tersenyum.
Oh. Senyumnya.
Kenapa Steve bisa tumbuh menjadi seorang lelaki yang luar biasa menarik seperti ini? Dan lebih parah lagi, Trace tidak pernah menyadari daya tariknya sebelumnya. Sekali lagi, Trace sempat menyukainya bukan karena tampangnya tapi keseriusannya dalam belajar.
__ADS_1
“Thanks. Aku akan membacanya dirumah.” Steve memasukan naskah itu ke dalam tas ransel hitamnya, lalu kembali menatap Tracy dalam-dalam. Atau sebenarnya lelaki itu hanya sekadar melihatnya saja, tapi Trace merasa seolah-olah lelaki itu bisa melihat langsung ke dalam jiwanya.
“Jadi, bagaimana? Aku dengar dari siaran kakakmu beberapa hari lalu kalau kau sedang merampungkan serianmu yang baru.”
Senyum Trace perlahan memudar. Untuk suatu alasan, ia selalu kesal, saat setiap orang--terutama laki-laki--yang mengajaknya bicara selalu memulai kalimatnya dengan "Kakakmu" atau "Grace". Tracy memaksakan sebuah senyum kembali mengembang, namun kali ini ia tidak menatap Steve.
“Ya, begitulah.” Trace membuka mulutnya untuk melanjutkan kalimatnya, namun ia menutupnya kembali.
"Jujur aku suka sekali semua tulisanmu. Kesannya kau selalu sengaja mengambil tema-tema cerita yang pasaran, tapi semakin ke belakang, buku itu akan jadi terasa seperti buku paling unik yang pernah ada." Lelaki itu tersenyum lebar. Tracy hanya mengangkat bahunya. Mau tidak mau semangat Tracy sedikit terpompa dengan Steve yang membicarakan soal sesuatu yang jarang disadari orang tentang karya-karyanya.
“Iya, memang itu yang aku pikirkan ketika memilih sebuah topik. Senang rasanya kalau hal itu disadari juga oleh pembacaku.” Trace tersenyum sambil menyibakan poninya yang terjatuh menutupi mata. Steve mengangguk.
“Justru karena alasan itulah aku menyukai karya-karyamu.Mungkin kau sempat berpikir kenapa laki-laki sepertiku bisa menyukai cerita roman-roman untuk perempuan, tapi karyamu berbeda.”
Trace tersenyum sekadarnya, ia tidak terlalu suka dipuji. Dan yang dilakukan lelaki di depannya benar-benar
terdengar seperti pujian habis-habisan.
“Hm, sekarang giliranku bertanya padamu. Kemana Steve yang dulu? Setahuku kau diajak untuk mengambil beasiswa ke Jerman oleh guru-guru.” Trace menopang dagunya.
Maksudku ada banyak faktor yang menyebabkanku batal berangkat.”
“Batal? Berarti kau memang sudah sempat setuju pergi waktu itu?"
Steve mengangguk sambil dengan canggung mengusap tengkuknya.
"Kurang lebih begitu."
Tracy menunggu Steve untuk melanjutkan penjelasannya.
"Yah..." Steve mulai melanjutkan, "Ayahku meninggal sebelum aku sempat pergi, dan setelah itu aku tidak tega meninggalkan mamku sendirian di rumah."
Tracy langsung duduk tegak, senyumnya surut dan menghilang.
__ADS_1
"O-oh. S-sorry. Aku nggak bermaksud--"
"Santai saja." Kata Steve cepat sambil tertawa kecil. "Lagipula memang aku banyak pertimbangan waktu itu. Setelah dipikir-pikir aku lebih suka berada di sini. Dan yah... ada beberapa faktor lain."
Trace terlanjur merasa bersalah dan mood obrolan sudah jadi terasa berat. Suasana itu lalu dicairkan oleh waitress yang mengantar makanan mereka ke meja.
"By the way," Steve memecah keheningan itu sambil membersihkan alat makannya. "Aku benar-benar nggak percaya waktu mendengar kau jadi penulis dan Grace melanjutkan jadi model sendirian. Jangan tersinggung, tapi dari dulu aku sudah merasa aneh saat teman-teman sekolah kita mengidolakan Grace waktu SMA dan lalu mereka seperti menganggapmu nggak ada, tertimbun eksistensi Grace."
Untuk beberapa waktu, jantung Trace seolah berhenti. Ini adalah pertama kalinya, ada seseorang yang menyadari hal itu—selain Violetta yang sudah bersamanya sejak lama tentunya. Trace mengelap bibirnya, lalu menanyakan penjelasan pada Steve lewat matanya. Sekali lagi ia kaget saat Steve menyadari pertanyaan itu dan melanjutkan kalimatnya.
“Maksudku, Grace sendiri nggak berusaha untuk menutup-nutupi keberadaanmu karena takut disaingi atau semacamnya, aku tahu. Tapi dari pandanganku…” Steve menatap Trace dengan tatapan minta izin, lalu kembali bicara. “Yah, ini hanya pikiranku, sekali lagi jangan tersinggung, tapi seolah-olah kaulah yang berusaha untuk mengubur diri dibalik ketenaran Grace.”
Trace menelan makanannya kuat-kuat, dan menghela napas untuk menghalau matanya yang terasa panas. Kenapa lelaki yang baru ditemuinya lagi setelah sekian lama ini seolah-olah sudah mengenalnya semenjak ia dilahirkan? Padahal selama ini ia tidak bicara apapun tentang itu pada siapapun selain Violetta.
“D-dari mana kau menyadari hal itu?”
Steve mengedikan bahunya. “Tidak akan sulit bagimu menjadi model yang sama atau bahkan lebih terkenal dari Grace, tapi kau malah diam dan mendukung Grace dari jauh. Dari situ aku langsung mengerti seberapa kau menyayangi Grace, dan memutuskan untuk mengorbankan dirimu sendiri.”
Trace tetap terdiam. Lelaki ini menerawang jauh ke dalam dirinya. Trace tidak bisa membantah.
“Kau tahu, seseorang pernah mengatakan padaku bahwa segala hal yang ditumpahkan seorang penulis ke atas kertasnya hanyalah dua hal, satu, hal yang selalu ia inginkan namun belum tercapai, dua, sakit hati, dan ketidak puasannya terhadap sesuatu, sehingga ia membuat jalan ceritanya sendiri tentang hal itu.” Steve terdiam sebentar untuk menelusuri ekspresi wajah Trace. “Kau selalu menceritakan keduanya, yah, setidaknya menurutku. Beberapa bagian seringkali mengingatkan aku tentangmu, dan malah membuatku menunggu kehadiranmu di dunia hiburan, bersamaan dengan Grace.”
Trace tersenyum pahit. “Aku yakin tidak hanya itu, karena aku tidak bicara sebegitu banyaknya di bukuku, walaupun
kalimatmu ada benarnya juga. Tapi sekali lagi aku yakin ada faktor lain yang membuatmu begitu memahamiku.”
Steve tertegun, lalu berusaha untuk mengalihkan perhatiannya pada piring makanannya. Tapi Trace tetap menunggu penjelasan.
“Kau betul ingin tahu soal alasan itu? Aku nggak mau kamu menyesal setelah mendengarnya."
Jantung Trace berdetak dua kali lebih cepat, lalu akhirnya gadis itu mengangguk.
Asal jangan kau bilang kau mendekati aku demi kenal Grace saja. Pikirnya.
__ADS_1
Namun kenyataannya lebih rumit dari itu.
“Mungkin terlalu cepat untukku mengakui ini, tapi aku menyukaimu semenjak SMP.”