Floriografi: Mawar Merah

Floriografi: Mawar Merah
Bab 32


__ADS_3

“Sungguh, Steve, maafkan aku lagi. Aku pelupa kau tahu lah. Gracy akan pulang ke rumah, dan Sabtu ini akan ada makan-makan di rumah orang tuaku. Gracy mau aku mengajakmu dan teman-temanku untuk sama-sama yah… merayakan kepulangannya. Anggap saja kumpul keluarga.”


Steve sempat terdiam sedikit sebelum menjawab, “Wah, Trace, aku tersanjung sekali sih kalau diundang oleh keluargamu. Jadi keluargamu sudah tahu soal aku?”


Tracy tertawa kecil.


“Gracy sudah tahu, yang lainnya belum. Jadi mungkin ini juga kesempatan yang baik untuk menenangkan Papa dan Mama, sekadar kasih tahu saja kalau anaknya sudah punya pacar—jangan dianggap terlalu serius, sungguh. Ini cuma sekadar makan malam bareng saja. Mereka nggak akan langsung menikahkan kita atau semacamnya.” Tracy dengan canggung bercanda, dan dari sudut matanya ia bisa melihat Louis menekan bibirnya rapat-rapat supaya ia tidak tertawa.


Betul juga, Steve jauh lebih susah untuk diajak bercanda daripada Louis. Entah kenapa, Tracy baru sadar.


“T-tapi kalau menurutmu ini terlalu cepat—“


“N-nggak, aku mau kok, Trace. Justru aku langsung merasa gugup.” Steve mengalihkan pandangannya dan tersenyum. “Aduh, aku tidak punya baju rapi untuk ketemu keluargamu. Mama dan papamu suka tipe cowok seperti apa? Aku mau tampil sebaik mungkin di depan mereka.”


Tracy langsung mencoba untuk membayangkan. Gracy pernah punya pacar beberapa kali. Tapi Gracy bukan tipe yang pemikir seperti Tracy, jadi pacar yang di bawa Gracy bervariasi, mulai dari pemain gitar elektrik, sampai perancang gadget yang bekerja di Apple. Dari yang berambut cepak dan beranting banyak, sampai yang pakai kemeja dengan kancing yang sampai ke leher dan rambut lepek berponi. Semuanya pernah dikenalkan kepada orangtuanya. Dan mereka sih oke-oke saja karena mereka tahu Gracy tidak serius.


“Hm… jadi dirimu sendiri saja. Mereka bukan orang yang strict kok.” Putus Tracy.


Kalimat itu menjadi kalimat terakhir sebelum pesanan mereka datang dan obrolan berubah menjadi obrolan yang singkat dan ringan, dan karena jam istirahat Tracy terbatas, mereka juga tidak bisa lama-lama nongkrong di Kelly’s dan langsung kembali ke kantor setelah selesai makan.


Begitu sampai di pintu kantor yang terkunci, sebuah paket yang berbungkus kertas coklat teronggok di depan pintu. Louis dengan lebih cepat berjongkok untuk memeriksa paket itu saat Tracy membukakan kunci pintu.


“Majalah. Mungkin punya Jasper atau Naka. Kita bawa dulu saja ke dalam.” Kata Louis sambil mengangkatnya seolah barang itu ringan.


Begitu sampai di dalam, Louis dan Tracy langsung membuka paket itu dan di cover majalah itu langsung membuat mereka berdua terkesiap.


Wajah Louis dan Tracy terpampang, tepat di halaman depan majalah katalog J&K bulan ini.


Tracy dengan panik menatap Louis yang juga ternyata sedang menatapnya dengan mata yang terbelalak.


“Itu majalah Naka? Aku mau lihat dong. Pasti ada fotomu kan di sana?” Kata Steve yang masih beberapa langkah di belakang mereka.


Tracy bertujuan untuk menduduki tumpukan itu supaya Steve tidak melihatnya, tapi Steve ternyata datang lebih cepat dan tangannya langsung mengambil satu dari tumpukan itu dan melihatnya dekat-dekat.


Louis dan Tracy langsung berdiri dan dengan panik menatap satu sama lain sebelum keduanya menatap Steve.


“E-eh… please jangan salah paham.” Tracy memulai.


Steve mengangkat alisnya dan menurunkan sedikit majalah itu supaya Tracy bisa melihatnya.


“Salah paham apa?” Tanya Steve dengan polos dan sekali lagi Tracy dan Louis berpandangan.


“S-salah paham soal aku modelling maksudnya.” Kata Louis dengan cepat, ditambah dengan tawanya yang canggung.


“Iya, b-betul. Waktu itu aku memang bilang dia bukan model, tapi ternyata model-model Jasper kurang tinggi kemarin, jadi dia perlu difoto denganku.” Tambah Tracy.


Steve masih terlihat bingung dan ia akhirnya menunjuk cover majalah itu sambil bertanya.


“Ini maksudnya?”


Tracy dan Louis mengangguk-angguk.


“Oh… begitu? Jadi dia itu model dan fotografer. Keren juga kau.” Kata Steve sambil menepuk-nepuk pundak Louis dan ia berjalan ke kursi tunggu untuk duduk santai dan membaca majalah itu.

__ADS_1


Tepat saat itu satu pelanggan datang dan Tracy langsung menyuruh Louis untuk menyingkirkan tumpukan majalah itu dari tengah ruangan dan Tracy langsung berjalan kembali ke mejanya.


Matanya tidak bisa menolak untuk melirik ke arah Steve sedikit.


Pria itu harusnya cemburu.


Dia cemburu sekali sebelum mereka pacaran. Setelah mereka pacaran seharusnya ia lebih cemburu lagi. Foto Tracy dan Louis di cover majalah itu kelihatan sangat-sangat intim. Kalau salah satunya batuk dan yang lainnya kaget, mereka mungkin sudah berciuman. Sedekat itu posisi Louis dan Tracy di cover majalah Jasper. Entah apa yang dipikirkan Jasper saat memilih foto itu sebagai covernya.


Oh, untuk sesaat Tracy lupa. Dia sedang sensasional.


Tapi kembali ke pemikiran soal cemburu itu. Tracy sedikit banyak tidak menerima Steve tidak cemburu. Mungkin benar sih kata-kata Louis soal ‘kalau mereka sedang dalam hubungan yang baik-baik saja kenapa harus khawatir?’. Tapi bukan seperti ini bayangan pacaran di otak Tracy. Hubungan seperti ini tidak akan membawa bukunya kemana-mana. Lagipula bukannya perumpamaan yang diberikan Louis itu adalah saat Louis tidak menganggap Lisha serius ya? Apa berarti Steve juga tidak menganggapnya serius? Itulah makanya tadi ia terlihat kaget saat Tracy bilang ia akan bertemu orangtuanya Sabtu ini?


Mungkin itu cuma terasa terlalu cepat. Betul juga, mereka baru pacaran empat hari.


Tapi Tracy harus meyakinkan dirinya sendiri. Ia yakin Steve orang yang mudah cemburu. Pasti ada alasan di balik ketidakcemburuannya hari ini.


Tracy tidak bisa konsentrasi setelah itu dan untungnya, Steve pamit pulang lebih dulu daripada Louis yang meminjam computer Naka untuknya menyelesaikan semua editan fotonya. Begitu jam menunjukkan pukul lima, Tracy langsung membalik tanda yang sekarang menunjukkan kalau toko sudah tutup. Tracy membereskan mejanya, mematikan sebagian lampu lantai satu dan langsung melesat ke lantai dua.


Begitu kakinya menjejak lantai dua, lagu FKJ berkumandang pelan dari ruang foto dan Tracy langsung mengintip dari pintu yang tidak di tutup itu dan menghempaskan dirinya ke kursi di depan Louis. Louis tidak menggubrisnya, bibirnya masih mengumamkan pelan lagu-lagu itu dengan fals sambil lekat-lekat menatap layar computer.


“Lou.” Panggil Tracy pelan.


“Hm?” Jawabnya singkat sambil masih memperhatikan computer.


“Apa menurutmu nggak aneh, Steve nggak bilang apa-apa soal foto itu? Maksudku melihat kau sama paniknya denganku tadi kurasa kau ngerti apa maksudku.” Tracy bersandar ke meja, memperhatikan Louis lebih dekat karena lelaki itu tidak kunjung melihatnya.


“Menurutku? Aneh. Satu, karena kau baru saja jadian, kan? Biasanya awal-awal jadian harusnya cowok jadi lebih posesif. Dua, kalau aku nggak salah ingat juga dia sempat bilang kalau kau harus hati-hati padaku dan semacamnya sebelum kalian jadian, kan? Makanya aku kemarin bahas-bahas soal dia itu cemburuan atau tidak.” Kata Louis sambil agak bergumam, membagi perhatiannya menjadi dua.


Tracy merengek. “Iya, aku juga berpikir begitu. Tapi menurutmu kenapa tadi dia peduli nggak peduli?”


“Aku juga nggak tahu, Trace. Mungkin dia nggak menganggapku ancaman.”


Tracy memutar matanya dan kembali bersandar ke kursinya. Tracy tahu bukan itu jawabannya, dan Tracy juga yakin Louis tahu.


“Daripada kau galau sendiri mending kau kemari dan lihat foto-fotomu.” Louis menepuk-nepuk kepala Tracy yang terkulai di meja. Tracy dengan malas berdiri dan mengitari meja untuk berdiri di sebelah Louis.


“Nih.” Kata Louis dan membuka salah satu fotonya. Foto itu diambil dari arah bawah panggung, yang hanya memperlihatkan bagian pinggang ke atas tubuhnya menggunakan gaun Ocean Tears. Matanya fokus dan memandang ke depan, Tracy sontak tersenyum.


“Hasil jepretanmu oke juga.” Kata Tracy.


Louis hanya mendesis.


“Itu sih karena modelnya kurasa.” Louis tertawa keras-keras dan Tracy barus aja mengangakat tangannya untuk memukul kepala Louis tapi lelaki itu cepat melanjutkan.


“Aku nggak bercanda sih, betulan. Aku sempat terpana berjam-jam memperhatikan foto ini. Foto ini yang membuatku datang ke kamarmu waktu itu, di hari terakhir kita di Jepang.” Kata Louis lebih serius. Matanya tetap memandang foto Tracy yang masih terpampang di layar kamera.


“Apa maksudmu? Kau merasa aku cantik juga jadi kau memilih untuk lebih baik berdamai denganku? Tuh kan, sudah kuduga kau ada maksud macam-macam.” Tracy sontak merasa gugup ketika pembicaraan mereka mulai serius. Tracy benci harus melakukan pembicaraan serius dengan Louis. Perasaannya jadi tidak karuan dan ia jadi bingung sendiri mengartikan apa yang dirasakannya itu. Tracy menjambak rambut Louis pelan-pelan tapi seperti biasa lelaki itu mengaduh berlebihan.


“Bukan! Astaga Manson! Maksudku karena foto ini aku merasa kau berbakat juga jadi model begituuu!” Louis mengambil tangan Tracy dan melepaskannya dari kepalanya. Tracy dengan cepat menepis tangan Louis. Louis menyentuhnya di saat-saat seperti ini akan membuatnya lebih bingung lagi.


“Baguslah. Puji aku lagi aku suka mendengarmu memujiku.” Tracy terkekeh lalu meraih ke computer untuk melihat


foto-foto lainnya. Banyak fotonya yang diambil Louis, dan semuanya betul-betul kelihatan bagus.

__ADS_1


“Hm… selain skill modellingmu lumayan, selera humormu bagus. Kau juga teman curhat yang oke. Kau juga rendah hati dan tidak sombong. Kau juga nggak ribet soal pilih-pilih makanan dan tempat nongkrong—kan katanya biasa cewek hobi bilang terserah tapi banyak maunya, tapi kau ternyata lumayan omnivora untuk cewek seukuranmu. Lalu—“ Tracy membekap mulut Louis dengan tangannya.


“Diam lah sebentar, aku sedang mengaggumi keindahan diriku dan gaun Violetta.” Bisik Tracy yang terfokus pada fotonya di layar. Foto ini diambil dari jarak yang lumayan jauh, tapi karena desain panggung yang heboh selaras dengan tema pakaiannya, Ia jadi kelihatan lebih megah.


Tiba-tiba ia merasakan hawa panas menabrak jemarinya yang membekap Louis, dan semua indranya seolah menyerap kehadiran Louis yang berada begitu dekat dengannya dalam sekejap.


Tracy bisa merasakan napas Louis yang menabrak ibu jarinya, dan rambut Louis yang menempel di lengannya yang mengitari pundak Louis. Tracy juga bisa meraskan bibir Louis yang menempel ke telapak tangannya. Louis menyentuh pergelangan tangan Tracy yang membekapnya untuk menarik tangan itu turun, dan Tracy spontan menoleh untuk menatap Louis.


Matanya bersibobok dengan mata lelaki itu dan lagi-lagi Tracy merasakan hal itu. Ia merasakan semuanya tepat. Tracy, berada sedekat itu dengan Louis, dan sangat-sangat sadar dengan kehadiran satu sama lain terasa begitu tepat. Seolah-olah memang harusnya mereka sudah begitu sejak dulu. Untuk beberapa saat yang terasa cukup lama untuk Tracy, mereka tenggelam dalam mata satu sama lain, sampai bunyi dering telepon Louis berterika keras dan mengagetkan mereka berdua.


Tracy terlompat kaget dan langsung mundur beberapa langkah dari Louis dan Louis juga langsung meraih ponselnya yang ada di meja.


“H-halo?” Louis berdeham, dan Tracy hanya bisa menunggu sambil bersandar ke tembok di belakangnya.


“Ya?” Jawab Louis ke suara di seberang telponnya yang hanya terdengar sangat-sangat samar di telinga Tracy.


“Iya fotonya sudah selesai. Termasuk yang di jalanan.” Balas Louis. Alis Tracy langsung mengangkat, sontak ia lupa dengan apa yang baru saja terjadi dan kembali maju untuk melihat ke arah Louis dan bertanya,


“Violetta?” Ucap Tracy. Louis mengangguk kecil.


“Violetta!” Panggil Tracy keras-keras dan Louis langsung tertawa.


“Iya aku masih di kantor Naka. Tadi aku makan siang di Kelly’s jadi kupikir aku selesaikan editannya di sini saja. Lagipula komputer di studio kan jauh lebih bagus daripada laptopku di rumah.” Jelas Louis panjang lebar pada Violetta dan lalu ia menjauhkan teleponnya dari telinga untuk menyalakan pengeras suara.


“Kalau begitu apa kalian berdua sudah makan malam?”


Louis melirik ke arah Tracy yang juga meliriknya dan mereka menggelengkan kepala bersamaan.


“Belum.” Jawab Louis.


“Baguslah kalau begitu. Di studio kan banyak gaun dan jas formal, bisakah kalian datang ke soiree pembukaan butik temanku? Aku masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan dan timku tidak ada yang bisa hadir juga. Lagipula ini event yang lumayan besar untuk Naka, kalau memang rencananya jadi, ia mau bekerja sama dengan kita, jadi butiknya juga akan menjual keluaran Naka yang kasual. Bisakah kalian tolong aku?”


“Oke, Vi, aku akan pergi.” Jawab Tracy cepat.


“Kau dan Louis ya, karena undangannya untuk dua orang.”


Tracy kembali melirik ke arah Louis yang hanya mengangkat alisnya.


“Kau tidak keberatan, kan? Lou?” Tambah Violetta cepat.


Louis mendengus. “Aku tidak akan menolak makanan gratis. Kirimkan saja undangannya ke aku atau Tracy ya, kami akan siap-siap.”


Violetta tertawa kecil.


“Oke. Jangan buat aku malu ya, jangan lupa untuk tanyakan juga soal kerja sama itu. Nama temanku Rosella, kau juga nanti tahu orangnya yang mana.”


“Noted, Vi. Jangan khawatir.” Blasa Tracy.


“Aku percaya padamu. Kalau begitu aku tutup dulu ya teleponnya, aku harus kembali menyetir. Aku akan ke kantor untukdrop offmobilku di kantor jadi kalian bisa pakai ke soireenya. Nanti aku pergi lagi dijemput klien.”


“Oke, Violetta. Hati-hati.” Kata Louis sebelum ia menunggu Violetta menutup teleponnya.


Mereka berdua langsung menghela napas begitu telepon ditutup.

__ADS_1


“Ayo kita siap-siap.”


__ADS_2