Floriografi: Mawar Merah

Floriografi: Mawar Merah
Bab 25


__ADS_3

Kini Tracy melemparkan tatapan penuh curiga pada Louis. Louis tertawa.


“Aku bercanda bodoh.” Louis melemparkan topinya ke arah Tracy. Tracy menangkisnya dengan cepat. Rambut Louis yang pirang dan agak panjang jatuh riap-riapan ke sebagian wajahnya. Sebenarnya, pikir Tracy, Louis punya daya tarik yang cukup oke kalau laki-laki itu bisa lebih peka dan genit sedikit terhadap perempuan. Tapi sepertinya itu sama sekali bukan karakter Louis. Tracy memasangkan topi Louis dengan sisi belakang menghadap ke depan di kepalanya.


“Jadi sebenarnya cinta itu apa?” Bisik Tracy sekali lagi.


Louis menggelengkan kepalanya.


“Entahlah.”


Louis dan Tracy akhirnya berakhir ngobrol sampai jam lima pagi, setelah insiden Louis dan Tracy kelaparan di tengah malam dan mereka memesan delivery dari salah satu restoran cepat saji terdekat yang buka 24 jam, Tracy takut tidur di tempat itu sendirian—tempat yang baru baginya—dan Louis juga takut keluar dari tempat itu jam tiga pagi karena terlalu banyak bercerita soal Lisha dan terrornya. Matahari mulai mengintip, dan langit bersemu jingga terlihat dari jendela lantai tiga rumah itu. Louis dan Tracy sudah bergelung di sofa yang di duduki masing-masing—tidak bersebelahan tentunya, Tracy duduk di sofa single di sisi kiri dan Louis beserta kakinya yang super panjang duduk di sofa besar di tengah.


Bunyi alarm Tracy yang di stel untuk selalu menyala pukul delapan berdering, membangunan kedua orang itu dengan tiba-tiba dan membuat mereka terperanjat hampir jatuh dari sofa masing-masing.


“Ya ampun, Manson, jam berapa ini?” Kata Louis dengan suaranya yang serak. Tracy mengerang, mencoba untuk meluruskan badannya yang meringkuk di sofa kecil selama dua jam setengah membuatnya sakit pinggang.


“Delapan, kurasa.” Balas Tracy dengan suara yang tidak kalah serak. Gadis itu berusaha turun dari sofanya dan malah tersungkur jatuh ke karpet. Louis sempat meraih untuk menahannya, tapi raihan itu dilakukan dengan tenaga di bawah nol persen. Lelaki itu malah menertawakan jatuhnya Tracy dan kembali berbaring di sofa. Tracy mengambil ponselnya yang masih berdering-dering di meja dan mematikan alarmnya.


“Ya Tuhan… hari ini mau ada petugas pembersih datang.” Kata Tracy, masih dengan suara serak itu.


“Sekarang?” Balas Louis Troya dengan suara yang terpendam sofa.


“Tidak, jam Sembilan.”


“Bolehkah kita tidur lagi sampai jam sembilan?”


“Kalau kita keluar berdua dalam keadaan seperti ini bisa-bisa besok kita kena skandal dan pdkt-ku pada Steve gagal, Troya, jangan kurang ajar.” Kata Tracy sambil menguap. Louis terkekeh kecil, tapi bergeming di sofa. Tracy mengambil bantal kecil yang menghiasi sofanya dan melemparkannya ke arah Louis yang mengerang kecil.


“Bangun, bodoh. Memangnya kau tidak ada kerjaan hari ini?”


“Aku freelancer, Manson. Satu-satunya pekerjaanku sekarang adalah mengedit foto-fotomu dari show kemarin, dan memilih-milih foto model. Berada di kantor ini sebenarnya jadi keuntunganku. Jadi tolong biarkan aku tidur sebentar lagi. Nanti kau kutraktir makan siang.” Louis bergumam panjang lebar. Tracy, yang nyawanya sudah mulai terkumpul, mengambil ponselnya dan menyalakan perekam suara lalu mendekatkannya pada Louis.


“Apa? Kalau aku membiarkanmu tidur lagi kau akan apa?” Tanyanya.


“Mentraktirmu makan siang.” Jawab Louis dengan gumaman yang semakin tidak jelas.


“Sip.” Bisik Tracy sambil mematikan perekam suaranya. Ia berdiri dan merenggangkan badan lalu berjalan ke arah kamarnya untuk mengambil stelan baju bersih dan handuk, dan mengarah ke kamar mandi.


Tracy Manson menolak untuk terlihat seperti mayat hidup sepanjang hari.


Tepat saat jam makan siang, lantai satu dan dua sudah bersih mengkilat. Ternyata petugas kebersihan yang datang adalah orang yang memang selalu membantu di kantor Naka, jadi tidak hanya debu-debu yang ia bersihkan, tapi koleksi Naka juga sudah ia jejerkan rapi di rak studio lantai dua. Petugas yang datang ada dua, seorang Ibu yang kira-kira berumur empat puluhan, dan anaknya yang sudah lumayan besar. Mungkin baru lulus SMA? Tebak Tracy. Mata anak itu berbinar melihat Tracy yang asing—dan mungkin karena melihat wajah familiar Gracy berseliweran di studio yang setiap hari ia datangi—dan terus memandanginya.


“Hey, ada yang naksir kamu.” Bisik Louis, sambil menunjuk anak itu dengan dagunya. Tracy spontan menoleh ke arah yang dimaksud Louis dan menemukan anak itu sedang memperhatikannya dan langsung pura-pura melihat ke arah lain. Tracy hanya mendengus.


“Dia masih kecil, mungkin dia mengira aku Gracy.” Kata Tracy ringan, sambil menutup majalah Naka yang sedang ia baca. Lantai dua lebih lega dari lantai satu dan tiga. Lantai itu adalah ruangan terbuka dengan sebuah rak gantungan panjang mengitari setengah ruangan, dan di sisi lainnya ada sebuah ruang kosong yang ditempeli alat yang bisa menurunkan background, tempat Naka memotret koleksinya. Di depan area foto, terdapat lampu flash besar seperti di studio foto dan di belakangnya terdapat sebuah meja dengan komputer yang biasa digunakan untuk mengedit. Louis duduk di depan Tracy yang duduk di belakang computer itu, tidak menyalakannya, hanya saja ia merasa harus menemani staff-staff kebersihan sampai mereka selesai sambil melihat-lihat majalah Naka.


Louis mencondongkan badannya untuk bertopang dagu ke meja.


“Kau selalu berpikir begitu ya setiap ada orang yang memujimu?”


Tracy tidak mengangkat wajahnya dari majalah, dan hanya mengangkat bahunya. “Ya, mau bagaimana lagi. Gracy cantik dan aku punya wajah Gracy.” Jawabnya ringan. Louis mendecakkan lidahnya.


“Padahal kalian tidak terlalu mirip juga.”


Kali ini kalimat itu menangkap perhatian Tracy dan ia menatap Louis. “Kau orang pertama yang bilang begitu.”


“Masa?”

__ADS_1


“Iya. Sungguh.”


“Hm.. apa ya?” Louis menatap bagian wajah Tracy satu persatu dari atas, dan spontan Tracy tersipu. Ia lemah dengan mata jernih Louis, apalagi setelah memperhatikannya semalaman.


“Aku juga tidak bisa mengatakannya tapi sesuatu dari wajahmu itu ada yang khas. Entah mungkin karena aku juga belum pernah bertemu Gracy secara langsung.”


Tracy mengagguk setuju.


“Kalau kau melihat kami bersebelahan kurasa kau juga tidak akan bisa membedakan.”


Louis mengangkat bahunya, “Mungkin.” Ia lalu berdiri dan menengok ke arah Nini—Ibu staff kebersihan—dan anaknya.


“Aku lapar, ayo kita ke Kelly’s lalu aku mau pulang.” Louis menguap.


Tracy ikut berdiri. “Ide bagus, tapi aku tidak mau meninggalkan mereka sebelum selesai.”


“Lho, justru kita ke sebelah dan bawakan mereka makan siang, lah.” Louis mengacungkan jempolnya ke arah Tracy. “Oke?”


Tracy memiringkan kepalanya, merasa kalah karena Louis memikirkan ide itu duluan sebelum Tracy.


“Oke.” Tracy langsung berlari ke arah Nini dan mengatakan mereka akan kembali dalam waktu kurang lebih dua jam, dan berjalan menuju tangga. Louis menunggu Tracy berjalan di depannya dan mengikuti gadis itu keluar dari kantor Naka.


Matahari bersinar terik di luar, walaupun salju masih menumpuk. Entah karena Tracy baru pulang dari Jepang—yang entah kenapa terasa lebih dingin—satu lapis jaket sudah cukup menghangatkannya saat keluar dari kantor yang memiliki penghangat. Lagipula Kelly’s juga punya penghangat yang tidak kalah oke dari kantor.


Tracy dan Louis berlari kecil ke arah Kelly’s dan duduk di pojok terdalam. Mereka berdua sama-sama mengeluarkan desahan lega saat pantat mereka menyentuh sofa meja berempat yang mereka tempati. Tracy kembali melepas jaketnya dan melipatnya rapi di tempat kosong di sampingnya. Dengan cepat pelayan langsung mendekati mereka. Tapi saat matanya bersibobok dengan Tracy, rautnya berubah dan tiba-tiba saja pelayan itu bertingkah canggung. Tracy tidak mengindahkan hal itu dan dengan basa-basi membolak-balik menu yang tidak terlalu ia perhatikan—karena pikirannya hanya tertambat di menu mix grill yang mereka punya beserta segelas lemon hangat. Louis memesan hal yang sama dan dengan ragu-ragu pelayan itu menoleh kembali ke arah Tracy sebelum pergi.


“Rumahmu di mana?” Tanya Tracy pada Louis. Tidak seperti Tracy, Louis menyadari tingkah ganjil pelayan itu dan


memperhatikannya. Pelayan itu kembali ke dekat kasir untuk memasukan pesanan, lalu berbisik kepada temannya sambil melirik ke arah mereka.


“Hey.” Tracy memanggil Louis yang tidak menjawab dan lelaki itu hanya melepaskan topinya dan tanpa pikir panjang memasangkan topi itu pada Tracy, tidak lupa menekannya cukup bawah agar wajah Tracy tertutup bagian depan topinya.


“Dasar tidak peka, kau diomongin mereka.” Jawab Louis sambil melemparkan tatapan kau-bodoh-ya? Ke arah Tracy. Tracy mengernyit, tidak mengerti.


“Siapa yang ngomongin aku?”


Louis menunjuk ke arah kasir dengan kepalanya. “Tapi jangan dilihat. Siapa tau ada tangan mereka yang iseng


foto-foto dan tiba-tiba saja besok Gracy diskandalkan sedang kencan di Kelly’s dengan aku. Yah, bukannya aku nggak mau sih, tapi—“


Tracy memukul lengan Louis yang bertengger di meja dengan main-main. Lelaki itu mengaduh berlebihan.


“Ya, bilang saja kenapa.” Tracy cemberut dan membenarkan topi itu sekalian merapikan rambutnya. Tracy ingat juga, ia jarang benar-benar makan di Kelly’s. Setiap kali ia makan menu Kelly’s adalah ketika ia sedang ada di kantor Naka dan Violetta memesankan delivery untuk mereka semua.


“Jadi di mana rumahmu?”


“Tidak jauh dari sini. Hanya beda lima blok.”


“Lumayan juga kan kalau jalan kaki.”


Louis mengangguk lalu mengedikan bahunya. “Aku suka jalan kaki, tidak waktu musim dingin sih, tapi kalau terpaksa juga tidak masalah. Lagipula sepertinya malam ini aku perlu kembali ke kantor Naka.”


“Apa lagi kali ini?” Tracy pikir kantor akan sepi sebelum benar-benar di buka. Tapi Violetta dan jasper benar-benar


tidak suka libur kelihatannya.


“Jasper akan bawa gaun-gaunnya kemari dengan beberapa model untuk dicoba difoto di studio atas.” Mengingat itu, Louis mengeluarkan ponselnya, dan membuka sesuatu disana.

__ADS_1


“Kenapa tidak di studio Jasper saja? Bukannya di sana lebih besar?”


“Tapi kan tidak ada studionya, bodoh. Di sana kan hanya untuk kliennya mencoba baju saja. Lagian karena koleksi Jasper itu semuanya gaun pengantin, area studionya habis termakan gaun-gaun besar itu dan manekin-manekinnya. Masa kau belum pernah ke sana?” Louis mengalihkan perhatiannya dari layar ponsel ke arah Tracy.


“Tidak, kan urusanku selalu dengan Violetta. Kalau Jasper terlibat itu pasti karena projek Violetta berkolaborasi dengan Jasper jadi kami pasti rapat di sebelah.”


Mengingat tentang ponsel, Tracy ikut memeriksa ponselnya sendiri, dan ternyata sudah ada puluhan notifikasi chat dari Steve. Tracy menepuk jidatnya dan dengan cepat menelepon Steve. Setelah, tiga, empat nada dering telepon itu diangkat.


“Halo?”


“Ya ampun, Steve. Maafkan aku.”


Mendengar nama itu di sebut, Louis menatap Tracy dan tersenyum penuh maksud.


“Aku jarang buka handphone dan tadi malam—“ Pembicaraan Tracy terhenti, apa yang akan ia katakan pada Steve? Louis menginap di rumahnya? Sangat terdengar wajar kan? Tracy mengatupkan mulutnya, mencari kata-kata yang tepat. Sedangkan pemandangan Louis yang menahan tawa di depannya sama sekali tidak membantu.


“Jangan dipikirkan, Tracy. Tadi malam juga aku chat kamu hampir tengah malam, karena supir taxiku nyasar. Jam segitu kau pasti sudah tidur, kan?”


Jawab Steve pengertian. Tracy menghela napasnya pelan-pelan.


“Iya, aku ngantuk sekali, mungkin sekitaran jam sepuluh aku sudah tidur.” Jawab Tracy bohong. Louis bersandar


lalu tertawa kecil.


“Kau sudah makan?” Tanya Tracy cepat, kali ini memutuskan untuk mengalihkan pandangannya ke arah botol-botol saus di sisi mereka agar matanya tidak perlu bersibobok dengan Louis yang sudah pasti akan terus-terusan menjahilinya.


“Sudah, kamu?”


“Aku sedang di Kelly’s, restoran sebelah rumah.”


“Oh, baguslah! Jangan telat makan ya, cuacanya lagi dingin. Katanya malam ini akan bersalju lagi, jangan lupa nyalakan pemanas.”


Tracy tersenyum. Tracy suka perhatian itu.


“Kau juga. Kau sedang sibuk?”


“Tidak, hari ini aku tidak ke gym. Oh, tapi aku perlu pergi sebentar lagi, dan aku mau mandi. Apa aku bisa telepon kamu lagi nanti? Mungkin setelah jam enam sore?”


Tracy menganggukkan kepalanya, seolah Steve ada di depannya. “Tentu boleh. Akan kutunggu. Hati-hati di jalan.”


“Kau juga. Sampai nanti.”


Tracy memutuskan sambungan telepon, tepat disaat pesanan mereka berdua datang. Tracy dengan cepat menundukkan kepalanya.


“Hm… maaf mengganggu tapi Anda Tracy Manson bukan? Atau Gracy?”


Alis Tracy terangkat, kaget mendengar pertanyaan itu. Mereka mengenalinya sebagai Tracy duluan, bukan Gracy.


“Ah… saya—“


“Ini Adik saya, baru pulang dari Korea baru saja operasi plastik karena ingin mirip dengan Gracy Manson. Maaf sudah membuat salah paham.” Jawab Louis sekenanya. Atau mungkin jawaban itu sudah dia benar-benar pikirkan, Tracy tidak pernah tahu. Tracy hanya ikut mengangguk cepat-cepat tanpa melihat ke pelayan itu.


“Oh… begitu,” Nada bicara pelayan itu langsung berubah, seolah-olah tidak peduli. “Maaf sudah mengganggu, selamat menikmati makanannya.” Lalu nada bicaranya kembali ke nada ramah yang lebih wajar, sebelum ia beranjak pergi.


“Operasi plastik.” Bisik Tracy sambil menghela napasnya kesal. “Lumayan pintar.” Ia mengangkat alat makannya dan mulai memotong daging-daging yang disajikan di piringnya. Perut Tracy mulai berisik lagi karena wangi yang kelewat lezat itu.


“Iya kan? Aku pintar kan?” Kata Louis dengan mulutnya yang penuh. Tracy menatap Louis, mengaggumi kecepatan makannya sekaligus menganggumi ketebalan wajahnya yang tidak mengerti arti sarkasme.

__ADS_1


“Terserah kau lah, harusnya tadi kau bilang kau kakekku sekalian, kan memang seharusnya begitu, Kek.” Tracy dengan ganas mulai makan sambil semi-membentak Louis yang hanya tertawa.


“Ah, wajahku kan terlalu muda dan ganteng untuk kubilang kakekmu, mereka tidak akan percaya.”


__ADS_2