
Kyoto!
Kota yang indah, pikir Louis Troya. Kebetulan daerah yang dikatakan manager Gracy dihiasi dengan beberapa pohon sakura yang sedang bersemi dan beberapa diantaranya berguguran. Setiap kali angin bertiup kencang, beberapa kelopak merah muda itu terbang menari di udara, membawa wewangian khas yang menyenangkan dan manis.
Louis duduk di bangku terdekat, mengarahkan kameranya yang tergantung di leher untuk mengambil gambar pemandangan Kyoto di hari yang masih muda itu. Tapi ia lalu berhenti, mengingat kalau-kalau ia harus mengambil gambar Gracy jika gadis itu datang. Walaupun memang tujuan kali ini hanyalah membicarakan soal kontrak. Tapi ia tetap harus berjaga-jaga. Setidaknya untuk memberi bukti pada Jasper bahwa ia sudah mendapatkan Gracy dan mempubilkasinya ke media agar proyeknya yang baru ini—yah, proyek Jasper juga—akan melambung sukses. Louis yakin, keikut sertaan Grace pada proyek ini akan mengangkat namanya dan nama Jasper—yang sudah tinggi melayang itu—menjadi lebih tinggi.
Louis menunggu, matahari mulai naik perlahan, dan udara mulai memanas. Dengan bosan, Louis mengarahkan lagi kamernya ke arah pemandangan apa saja yang ia cari, walaupun Gracy Manson tidak terlihat dimanapun. Louis melirik jam tangannya. Sekarang sudah pukul satu siang. Kemana model itu? Mereka berjanji untuk bertemu pukul dua belas sambil makan siang. Kekhawatirannya membuat ia kembali menghubungi manager Gracy Manson. Namun ponsel itu tidak bisa dihubungi, sibuk. Louis lalu memutuskan untuk makan siang di restoran terdekat yang kacanya mengarah ke taman. Dan menunggu di sana.
Namun sampai jam lima sore pun kedua orang yang ditunggunya itu tidak datang. Louis mendecakan lidah, lalu
kembali menelepon manager Gracy, namun hasilnya sama, sibuk. Namun beberapa saat kemudian sebuah pesan masuk ke ponsel Louis.
Dari: Manager Gracy Manson
Mohon maaf, Mr. Troya, tapi jadwal Miss Grace pindah ke Shizuoka. Dan besok kami akan kembali pergi ke Tokyo, untuk tiga hari dan lalu langsung pulang. Kelihatannya tidak akan ada cukup waktu untuk kita bertemu dan membicarakan soal kontrak. Mungkin lain kali. Terimakasih.
Louis mendecakan lidahnya, lalu berdiri dengan kesal. Kenapa orang-orang ini mudah sekali membatalkan janji? Seolah-olah Louis orang senggang? Dengan cepat tangannya memencet nomor Jasper lalu menempelkan ponsel tipis itu ke telinga kirinya dengan kesal.
“Halo?”
“Jas? Aku mulai putus asa.” Louis berjalan ke arah sisi jalan raya, untuk memanggil taksi.
“Ada apa, Lou?”
“Gracy tidak bisa ditemui hari ini. Entah kapan bisa ditemui. Managernya sudah menyuruhku ke Kyoto dan tiba-tiba saja bilang Grace ganti jadwal dan sekarang ada di Shizuoka dan tidak mungkin punya waktu untukku.”
Jasper menghela napasnya, saat Louis mendapatkan taksinya dan naik langsung menuju stasiun. Tidak. Louis belum berniat menyerah. Ia akan mengejar Gracy ke Tokyo.
“Kalau begitu tidak usah dipaksakan, Lou.”
“Maksudmu?” Dahi Luis mengkerut.
“Dari awal sebenarnya aku tidak yakin kita akan bisa mendapatkan Gracy Manson. Maksudku... yah, kau ngerti lah.”
Louis mengangguk-angguk lemah, lalu mengusap tengkuknya.
“Tapi ini bisa jadi kesempatan besar buat kita, Jasp.”
“Aku tahu. Tapi Violetta juga sedang sukses denganbrandnya sekarang, apalagi nanti setelah ia mengeluarkan koleksi kimononya, dan aku juga cukup dikenal media massa, kau juga mulai melambung namanya, dengan bantuan satu model yang cukup baik saja kita sudah pasti sukses, Lou.” Jasper tertawa kecil.
“Aku tahu.” Louis ikut tertawa. “Baiklah, aku akan berusaha sekali lagi. Tapi kau jangan kecewa kalau aku datang kepadamu bukan dengan Gracy Manson, oke?”
“Ok. Nggak masalah buatku.Thanks, Lou. Kalau hari Senin kau masih di Jepang, tolong kabari aku. Aku akan memberimu pekerjaan, jadi tiketmu ke Jepang tidak sia.sia.”
“Oke kalau begitu. Thanks juga, Jasp. Aku akan mengabarimu lagi nanti."
Louis mematikan sambungan telepon, lalu menempelkan telepon itu di dagunya sambil memperhatikan jalan raya yang asing dari dalam kaca taksi.
__ADS_1
Louis Troya akan berusaha sekali lagi. Sekali lagi saja. Tapi sekali lagi itu mereka mempermainkannya seperti hari ini, dan saat itu Louis akan berhenti.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
“Ini tempat yang enak untuk menulis. Dari mana kau kenal tempat ini?” Tracy berhenti mengetik untuk sesaat untuk
menyesap sedikit dari jus jeruknya. Steve Elmer tertawa, ia memalingkan pandangannya dari naskah buku Tracy yang belum selesai ia baca.
“Aku tahu saja. Mereka punya steak yang enak, dan camilan yang murah. Rasanya seperti steak restoran mahal, tapi harganya benar-benar jauh dibawah kualitasnya. Lalu tempatnya nyaman dan private, ya, kan?” Steve Elmer masih menyeringai, Tracy ikut tersenyum.
“Ya, nyaman sekali. Warnanya biru.”
Steve tertawa dengan suaranya yang dalam. “Memangnya kenapa kalau biru?”
“Aku suka semua warna biru. Apalagi baby blue dan toska.”
“Oh, baguslah. Aku juga suka warna biru. Aku pikir semua perempuan suka warna merah muda.”
Tracy menggeleng sambil tertawa, “Hei, jangan salah sangka. Warna pink itu dulu dianggap warna yang maskulin."
Kali ini Steve yang tertawa. “Oh, ya, ya, aku juga pernah dengar soal itu."
Tracy mengalihkan pandangannya sekilas dari layar notebooknya untuk menatap Steve dengan senyum tidak percaya.
“Benarkah?”
Tracy tertawa kecil. "Oh, iya. Untuk sesaat aku lupa kalau kau itu hobi belajar."
Steve ikut tertawa sebelum kembali menunduk untuk membaca buku Tracy yang dipegangnya.
Tracy pun ikut kembali ke laptopnya. Setiap kali ia merasa terhambat, matanya akan naik dan menatap Steve. Lelaki itu jadi sering mengajaknya makan siang atau makan malam akhir-akhir ini. Yah, semenjak waktu itu saja, waktu ada sebuah pengakuan kecil terjadi. Trace menyunggingkan senyum kecil. Cepat atau lambat lelaki itu akan tahu juga bahwa Trace mengangguminya seperti dia menganggumi Trace. Tapi Trace malu untuk mengakuinya.
Lagipula lelaki itu tampak senang sekali menenggelamkan diri dalam karya-karya Trace. Seri baru Trace juga berjalan lebih lancar karena keberadaan Steve. Trace lalu melirik lagi layar notebooknya. Kata-katanya berakhir di kata Troy, peran utama lelaki ceritanya. Ia lalu mengingat bahwa ia pernah mengatakan pada Violetta bahwa ia merasa tidak bisa merealisasikan perasaan tokoh-tokohnya karena ia tidak pernah pacaran seperti tokoh-tokohnya. Tapi sebenarnya bukan itu pertanyaannya, yang benar, Tracy belum menemukan lelaki yang mirip dengan Troy. Spontan Trace kembali mengangkat kepalanya untuk melihat ke arah Steve. Apa lelaki itu bisa direalisasikan sebagai Troy?
Trace tersenyum tipis sekali lagi. Kalau iya ia harus cepat atau lambat berpacaran dengan Steve. Hm, apa sebaiknya begitu?
“Apa ada yang menarik dari wajahku?” Steve tiba-tiba bertanya, masih memandangi naskah di tangannya. Trace terkejut, lalu tertawa canggung.
“Aku sedang mencoba untuk merealisasikan tokoh utama novelku sebagai kamu. Maksudku aku belum pernah bisa membayangkan secara nyata tokoh laki-laki dalam ceritaku, dan aku jadi kesulitan untuk mengetik cerita ini.”
Kali ini Steve menoleh pada Trace, lalu memandangnya dengan tatapan yang itu. Ya, yang itu. Yang bisa menerawang hatinya dan menghanyutkan dirinya tepat di sana.
“Seperti apa karakternya?”
“Hm..” Trace bertopang dagu. “Troy lelaki yang bijaksana dan sabar. Tapi ia bisa hilang akal kalau melihat seseorang atau sesuatu yang ia sayangi disakiti. Dan ia tahu, yakin akan apa yang ia inginkan, dia akan berusaha untuk mendapatkannya, dan tidak akan berhenti sebelum mendapatkannya.”
Steve tersenyum, tidak menyeringai, catat, lalu tertawa kecil sebelum menunduk menatap naskahnya. “Kalau begitu cocok sekali kan denganku?”
__ADS_1
Trace tertawa, wajahnya memanas. Apa maksud lelaki itu?
“Memangnya kau sebijaksana dan sesabar itu?” Trace menyindir.
Steve tertawa, masih menunduk lalu kembali menatap Trace. “Yah, nggak juga. Tapi sisanya benar-benar cocok denganku. Aku lelaki yang tahu apa yang aku inginkan dan aku tidak akan melepaskannya sebelum aku mendapatkannya.”
Jantung Trace berdetak keras. Trace merasa seolah-olah kalimat itu diperuntukan padanya. Tepat di momen canggung itu, ponsel Trace bergetar. Nama ‘Violetta’ terpampang di layarnya, dan Trace dengan cepat mengangkat telepon itu.
“Halo?” Trace menatap Steve dan berbisik ‘sebentar’ padanya, yang dibalas dengan anggukan kecil sebelum lelaki itu juga mengeluarkan ponselnya yang sudah dia singkirkan untuk waktu yang cukup lama.
“Tracy, aku tahu ini mendadak, tapi apa kau sibuk seminggu ini?”
“Minggu ini…” Trace menatap langit-langit kafe, mengingat-ingat bentuk kalendernya yang biasa ia tandai penuh dengan jadwal-jadwalnya.
“Seperti biasa saja, Vi, menulis. Kenapa?”
"Hm... begini. Kamu tahu kan koleksi modern kimonoku yang akan aku tampilkan di Tokyo minggu depan?"
Tracy mengangguk-angguk. "Iya, kau sudah bilang soal itu. Kenapa?"
"Kenalanku di Kyoto memintaku untuk juga melakukan presentasi di Kyoto, karena Kyoto tempat kelahiranku. Jadi tanggalnya dimajukan dan aku bersama timku perlu berangkat besok. Celakanya, jurnalisku tifus, baru saja tadi dia masuk rumah sakit. Aku tahu permintaanku mungkin berlebihan, tapi bisakah kau ikut ke Jepang denganku besok?"
Tracy terdiam untuk sesaat. Ini tawaran besar! Tapi banyak hal yang perlu Tracy pikirkan sebelum berangkat.
“Ini…aku…bagaimana dengan tiket pesawatnya, Vi?” Untuk beberapa saat jumlah angka yang tertera di layar ATMnya saat Tracy memencet jumlah saldo terbayang di kepalanya. Tiket dadakan mahal. Apalagi ke Jepang. Tracy tidak bakal sanggup.
“Jangan khawatir, pihak sana yang akan urus.” Violetta menjawab dengan cepat. Tracy sebetulnya tahu, ia tidak akan bisa menolak tawaran Violetta kalau gadis ini sudah yakin dengan apa yang ia inginkan.
“Lalu apa yang aku perlu lakukan nanti?”
“Aku akan melakukan konferensi pers setelah fashion show, aku perlu kau catat pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh wartawan-wartawan yang hadir dan juga jawabanku. Artikel ini nantinya akan dipublikasikan di dalam Naka Fashion Magazine, dan aku juga akan perlu kau untuk menuliskan semua pendapat wartawan tentang beberapa pilihan baju terbaikku. Namamu akan tertera di bawah artikelmu tentunya, dan managemenku akan membayarmu untuk artikel itu.”
Tracy menelan ludah. Violetta benar-benar sudah memikirkan semuanya.
“Berapa lama kita akan disana?”
“Nah, sebetulnya cukup lama. Kita akan 4 hari di Kyoto, lalu 3 hari di Tokyo. Rutinitasnya sama, hanya di kota yang berbeda.” Tracy baru saja membuka mulutnya untuk komplain soal durasi yang cukup lama itu, tapi Violetta seolah sudah membaca pikiran Tracy dan dengan cepat menambahkan. “Kyoto dan Tokyo adalah kota-kota yang indah Vi, lagipula fashion show hanya memakan 1 hari, sisanya hanya aku yang akan sibuk dan kau bisa bebas menjelajahi Jepang. Akomodasimu juga sudah kami tanggung, kau juga punya voucher untuk 2x makan setiap harinya di restoran manapun yang kau mau. Mungkin dengan kesempatan ini novelmu bisa jadi makin bagus, Trace.”
Hal itu belum cukup untuk menggoda Tracy. Sebetulnya tawaran ini menggiurkan, tapi entah mengapa, ia merasa apabila ia meninggalkan Steve sekarang—disaat ia sedang membangun hubungan mereka—ketika ia kembali dari Jepang, semuanya akan berubah.
“Oh, dan kau tahu? Kata Jasper, Grace sedang ada kerjaan di Jepang. Kau mungkin saja punya kesempatan bertemu Grace.”
Mata Tracy seolah menyala. Lelaki manapun tentu saja tidak akan bisa dibandingkan dengan kesempatan untuk bertemu Grace.
Kalimat sederhana itu berhasil membuat Tracy yakin.
“Ok, jam berapa kita pergi besok?”
__ADS_1