
Pagi di Tokyo dingin, tentu saja, tapi suhu itu sudah tidak bisa mengganggu Tracy yang terlampau kepikiran dengan sesi foto pagi itu. Matahari masih rendah, langit yang ia tatap berwarna jingga kebiruan. Tracy langsung berangkat mengenakan salah satu gaun Frozen Flower, tube dress putih dengan coat panjang se-betis berwarna oranye dengan motif bunga-bunga berjatuhan. Kakinya mengenakan boots wedges putih dengan kaus kaki putih panjang sampai ke lututnya.
Candice masih sibuk menata topi rajut dengan warna senada di kepala Tracy dan mengusahakan rambut Tracy rapi di bawah topi itu. Setiap helaan napas Tracy mengeluarkan uap hangat, ia terus menerus menatap jemarinya yang semakin lama semakin merah.
“Ok, kita harus cepat, Tracy berdirilah di depan sana.” Violetta menunjuk ke tengah-tengah jalan dimana mereka berdiri. Lokasi foto mereka tidak jauh dari hotel, karena menurut Violetta, dengan fotografer yang bagus dan desainer yang bagus, foto dimanapun bisa kelihatan indah.
Tracy berjalan ke arah tengah-tengah jalanan itu, disana belum ramai, tapi orang sudah lalu lalang di sekitarnya. Beberapa melirik ke arah mereka, tapi mereka tetap melakukan kegiatan masing-masing.
“Masukan sebelah tanganmu ke kantung jaketnya, yang satu lagi di pinggang dan dorong jaketnya sedikit ke belakang supaya garis gaunnya kelihatan.” Louis mengarahkan kameranya di depan Tracy.
Tracy tidak berekspresi, matanya terus menatap kamera.
Perubahan Louis kepadanya betul-betul mengganggu Tracy. Laki-laki itu mendadak menganggak Tracy seperti tidak ada. Aneh kan? Padahal beberapa saat yang lalu Louis selalu bertingkah seperti Tracy adalah api dan ia adalah ngengat, ia selalu mendekat dan Tracy selalu membakarnya.
Kepala Tracy penuh dengan pertanyaan dan pertimbangan. Egonya tidak mau membiarkannya minta maaf pada si amatir itu tentunya. Louis sudah melakukan lebih banyak hal yang menyinggung Tracy, tapi ia bahkan belum minta maaf sampai sekarang, kan?
“Lakukan pose lain, apa saja.” Sebut Louis. Tracy mulai bergerak, berusaha membuat baju di badannya terlihat indah.
Setelah Louis mengambil banyak foto,Violetta menghampirinya untuk melihat beberapa hasil jepretan yang diambil.
Tracy menghela napas, dan pelan-pelan ikut menghampirinya. Tapi untuk bisa melihat foto di kamera Louis, Tracy harus mendesak dekat dengannya, Tracy bahkan tidak ingin melakukan hal itu, jadi ia berhanti di depan Louis dan Violetta, menunggu instruksi selanjutnya.
“Ok, aku suka. Coba kulihat apa ada gaun lain yang bisa diambil fotonya disini.” Violetta berbalik dan berlari ke arah
Candice yang menjaga barang-barang mereka di samping, meninggalkan Tracy dan Louis sendirian.
Tracy sontak mundur beberapa langkah, mencoba berpura-pura tidak peduli.
“Manson.”
Tracy menoleh saat Louis memanggilnya. Lelaki itu menghela napas, dan mendecakan lidahnya. Tracy sudah siap untuk kembali disemprot oleh kata-kata pedas Louis tapi lelaki itu hanya mendekat dan menyodorkan sesuatu di tangannya.
Tracy mengangkat tangannya untuk mengambil benda itu, dan ketika benda itu jatuh ke tangannya, ia merasakan hangat dan jemarinya kembali hidup.
“Tanganmu merah di kamera. Sekarang aku harus mengedit semuanya.” Louis mendecakan lidahnya lagi, lalu kembali mundur untuk mencari sisi foto lain yang bagus.
Tracy menggenggam hot pack di tangannya dan mulai menggosoknya ke semua sisi tangannya yang terasa sangat dingin.
“Ok! Selanjutnya! Tracy kau bisa ganti baju di van, dan biarkan Shu yang foto dulu.” Violetta melambaikan tangannya ke arah Tracy, dan di belakangnya Shu turun dari van menuju tempat Tracy berdiri. Tracy dengan cepat berlari kecil ke arah van dan masuk ke dalam. Di dalam ada Candice yang sudah menunggu dengan stelan gaun Frozen Flower selanjutnya.
“Oh, Tracy. Di luar pasti dingin.” Candice menyodorkan sebuah termos berisi air hangat ke arah Tracy dan gadis itu
langsung menyesapnya pelan-pelan.
“Kau penyelamat, Candice.” Tracy air hangat itu mengalir dari tenggorokannya dan menghangatkan perutnya.
“Aku tahu. Ini, pakailah.” Candice membantu Tracy melepaskan gaunnya pelan-pelan.
“Hey, ada apa diantara kau dengan si fotografer itu?”
Tracy menghela napas. “Memang ada apa kelihatannya?”
“Hmm…. Entahlah.”
Tracy bergidik kedinginan saat gaun itu dilepas dari tubuhnya, dan ia cepat mengambil stelan baru yang ada di pangkuan Candice.
“Dia sempat menanyakan banyak hal tentangmu padaku kemarin.”
Tracy mengangkat alisnya. “Kemarin… kemarin?”
“Iya, kemarin. Setelah pesta penutupan ia menghampiriku lalu bertanya-tanya tentangmu. Aku bilang tanya saja langsung padamu tapi dia bilang kau sudah kembali ke kamarmu dan tidur.”
__ADS_1
“Hmm, iya, memang benar. Aku sepertinya terlalu banyak minum dan kelelahan, jadi aku tidur duluan. Lalu apa yang ia tanyakan?”
Candice membantu Tracy memasukan jaket bulu-bulu berwarna oranye yang tadi diapangkunya melewati kepala Tracy dan menata rambut Tracy agar tetap rapi.
“Hm… dia bertanya, kau sudah modelling berapa lama. Lalu aku bilang… sepertinya sudah sedari kecil, bersamaan dengan waktu debut Gracy, tapi lalu kau berhenti di masa SMA dan beralih profesi menjadi penulis kan?”
Tracy tertawa kecil. “Ya, semenjak aku bertemu Violetta tepatnya. Lalu?”
“Lalu dia bilang, kenapa kau tidak lanjut saja jadi model? Dan sejujurnya aku pun tidak tahu jawaban untuk pertanyaan itu jadi aku suruh dia tanya kau langsung saja.”
Tracy hanya menghela napas dan mengangguk-anggukan kepalanya.
“Tapi kalian kelihatan sangat canggung, ada apa sih?” Candice kembali duduk bersandar setelah stelan Frozen Flower yang diminta Violetta sudah seluruhnya dipakai Tracy.
“Ah, entahlah. Aku memang kurang cocok bergaul dengan fotografer.” Tracy tertawa canggung.
Cepat atau lambat ia harus bicara dengan Louis.
Pembicaraan itu ternyata terjadi lebih cepat dari perkiraan Tracy. Tracy baru saja selesai membereskan barang-barangnya dan lalu sebuah ketukan terdengar di pintunya. Tracy dengan cepat membuka pintu dan dibalik pintu itu berdiri Louis Troya, dengan canggung mengangkat tangannya dan tersenyum dengan paksa.
“Hai. Maaf kalau aku mengganggumu. Apa kau sudah selesai beres-beres?” Kalimat itu berlari cepat dari mulut Louis.
Tracy mengernyit, dan menyingkir sedikit dari pintu untuk memperlihatkan kamarnya yang sudah rapi.
“Y-ya… ada yang bisa aku bantu?” Tracy menahan diri untuk tidak menampar wajahnya sendiri karena pilihan kata-katanya yang menggelikan.
“Hm… kita masih punya satu jam kan? Apa kau mau ke kafetaria sebentar? Untuk minum kopi dan ada sesuatu yang ingin aku bicarakan.” Louis berdeham. Tracy mengangguk-angguk.
“Oh.. y-ya, boleh saja.”
Louis hanya mengangguk lalu berbalik dan berjalan pergi. Tracy dengan cepat mengambil ponsel dan kunci kamarnya sebelum cepat menyusul Louis yang sudah berdiri di depan lift.
Perjalanan ke kafetaria canggung. Sangat canggung. Tracy juga tidak merasa ia punya kewajiban untuk memecah kecanggungan itu jadi ia mengikuti Louis dalam diam menuju kafetaria.
Louis menghela napas sebelum mulai berbicara.
“Ok. Tracy Manson, aku merasa aku punya tanggung jawab untuk meminta maaf padamu atas segala macam hal yang sudah aku katakan atau lakukan padamu yang membuatmu… tersinggung, atau mengganggu, atau… sebagainya. Aku sudah berpikir beberapa saat dan kurasa tekananku akhir-akhir ini membuatku agak kehilangan akal sehat. Aku akui aku masih amatir dan—“
“Oh, wow, ok. Aku juga merasa perlu minta maaf untuk itu, beberapa kata-kata itu aku lebih-lebihkan, dan aku hanyalah seorang Adik yang posesif terhadap kakaknya, jadi… kurasa kau mengerti lah. Semua pekerjaan punya sisi negative dan positifnya.”
Louis menatap mata Tracy selama proses minta maaf itu berlangsung, dan hal itu membuat Tracy cukup menghargai Louis sedikit lebih lagi.
“Kalau kau mau… berbagi dan menjelaskan tentang hal-hal yang kau katakan kemarin aku tidak masalah. Kalau kau juga ingin aku menjelaskan tentang situasi dan kondisiku aku juga akan menjelaskannya.” Louis mengangkat bahu. “Kalau kau mau.”
Tracy mengangguk-angguk dan mencondongkan badannya. Sebetulnya, ya, dia penasaran tentang sesuatu.
“Apa yang terjadi kemarin?”
Louis mengangkat alisnya bingung. “Kemarin? Oh… ya. Kau mungkin mabuk. Kau marah-marah padaku, lalu hampir jatuh karena mabuk, lalu—“
“B-bukan, bukan itu. Aku ingat semuanya, tapi maksudku kenapa kau memaksaku kembali ke ruangan? Dan mengantarku? Maksudku kau sedikit banyak membenciku.”
Louis tertawa kecil, dan mengusap wajahnya.
“Memben—aku tidak membencimu, Manson.” Louis menghela napasnya dan terdiam untuk beberapa saat, memilih kata-kata yang tepat.
“Begini, sebutlah aku orang yang stereotype, tapi aku tidak bohong juga saat aku bilang kau terkenal sombong di
kalangan fotografer. Fotografer amatir? Mungkin saja. Setidaknya kuakui aku masih amatir, untuk itu aku tidak bohong. Tapi caramu tiba-tiba muncul di atas runway saat Gracy juga berada di Jepang, setelah kau mengatakan ke sana dan kemari tentang bagaimana kau benci berada di atas runway itu agak—“
“Munafik. Yup. Aku mengerti.”
__ADS_1
Bibir Louis masih membuka, kata-katanya terpotong di tengah-tengah tapi wajahnya mengatakan “Bukan aku yang bilang begitu.” Lalu mengangguk dan melanjutkan.
“Itu satu, dan jujur saja beberapa saat sebelum aku bertemu denganmu di kafe waktu itu, manager Gracy baru saja
menghubungiku untuk membatalkan janji kita, sepuluh menit sebelum waktu yang ditentukan. Padahal aku sudah berada di Jepang. Bertemu denganmu di kafe itu, wajar aku langsung mengira kau adalah Gracy.”
Tracy mengangguk pelan-pelan. “Masuk akal, lanjutkan.”
“Lalu tanpa pikir panjang—“ Louis mengangkat bahunya. “Semua hal itu terjadi. Aku tidak biasanya sebrengsek itu,
tapi tanpa sadar aku mengeluh padamu yang baru saja bertemu denganku detik itu juga.”
“Yup, kurang ajar, tapi aku maklumi. Lanjutkan.”
Louis tertawa kecil. “Aku tidak bisa melanjutkan, aku sadar aku pun salah disini. Aku tidak seharusnya stereotype,
dan aku juga tidak seharusnya menggunakan kata-kata kasar itu padamu.”
“Oh, sebentar. Kau bilang… “Aku pun salah.”? Jadi maksudmu aku salah?”
Louis hanya mengangkat alisnya sambil memaksakan senyum. Tracy tertawa kecil.
“Baiklah Troya, aku juga salah, aku akui.”
“Kalau saja kau menjelaskan semuanya dengan detail kepadaku mungkin—“
“Aku tidak bisa mengharapkan kau mengerti, Louis. Kau bukan model, kau bukan anak kembar. Banyak faktor yang membuatku yakin kau tidak akan mengerti.”
Saat itu pelayan datang untuk mengantarkan pesanan mereka, tapi bahasan itu terlalu panas untuk di sela dengan kudapan manis yang jujur saja tampak sangat menggoda di mata Tracy, tapi ia harus menyelesaikan perbincangan ini dulu.
“Ok, begini.” Louis menegapkan badannya dan menghela napas. “Aku akan berusaha menjadi seterbuka mungkin, dan sebijaksana mungkin. Kau coba ceritakan, kalau memang tidak masuk akal buatku, kita bisa lupakan pembicaraan ini dan membatasi hubungan kita secara professional. Aku tidak akan mengganggumu lagi, dan sebaliknya.”
Tracy mengangguk kecil. “Ide bagus. Baiklah.” Tracy menghela napasnya dan ikut menegapkan badannya.
“Apa yang mau kau tahu terlebih dahulu?”
“Alasan dibalik kau tidak mau modelling.”
“Aku tidak mau menghancurkan Gracy.”
“Jadi kau yakin kau berada di atas
Gracy?”
“Tidak, tapi coba bayangkan kalau begini. Kau punya Adik, atau Kakak yang kau sayangi. Mereka juga bergelut dan hidup di bidang fotografi, dan foto yang dihasilkan olehmu dan saudaramu itu selalu sama, dalam segi kualitas dan sebagainya. Suatu saat salah satu dari kalian akan lebih naik pamor, entah karena link yang kalian buat, karena harga yang lebih rendah, dan sebagainya. Lalu apa yang akan dilakukan saudara yang satunya? Jawabannya adalah beralih profesi. Sampai sini kau mengerti?”
Louis mengangguk pelan-pelan. “Tapi Gracy juga menyanyi, main drama, apa kau juga akan melakukan hal-hal itu?”
Tracy menghela napas. “Pada akhirnya tujuan kita semua adalah uang. Kalau tawaran hadir, kita tidak akan punya
pilihan untuk berkata tidak.”
Louis mengangguk-anggukan kepalanya lagi. Segalanya mulai masuk akal bagi Louis.
“Apa Gracy tahu soal alasan itu?”
Tracy mengangkat bahunya. “Aku tidak yakin, tapi kurasa ia tahu. Itulah alasannya kenapa ia selalu memintaku kembali ke dunia hiburan. Ia tidak mau aku yang perlu mengalah, ia ingin permainan ini adil.”
“Permainan?”
Tracy mendengus. “Buat Gracy hidup itu adalah permainan. Sebuah naskah drama interaktif. Gracy suka bertaruh tentang sesuatu, tapi satu hal yang Gracy tidak tahu, dia adalah seorang jenius. Gracy belum sadar, segala sesuatu yang ia capai hari ini, bukanlah hasil kerja keras semata, tapi ia terlahir dengan kesempurnaan, ia selalu berada satu langkah di depan semua orang.”
__ADS_1
“Tapi kalian kembar kan? Kalau begitu harusnya kondisi itu juga terjadi padamu.”
“Oh…” Tracy tertawa. “Naif, kami kembar, bukan satu orang yang sama. Kembar, tapi kami tetap dua individu yang berbeda. Pemikiran inilah yang membuatku membenci banyak orang industry. Wartawan, jurnalis….” Tracy menatap Louis tajam. “Fotografer.”